Belajar dari Lisa Russell
Lisa Russell/Medcom.id/Wandi Yusuf
Nusa Dua: Peraih kategori sutradara terbaik di ajang Emmy Award, Lisa Russell, berbagi pengalaman bagaimana kreativitas membimbingnya menjadi sukses. Ia percaya kreativitas adalah kunci untuk bertahan di dunia film.

"Pengalaman saya 15 tahun di dunia film membuktikan itu," kata Lisa ditemui usai menjadi pembicara dalam Konferensi Dunia tentang Ekonomi Kreatif (WCCE) 2018 di Nusa Dua, Bali, Kamis, 8 November 2018.

Lisa yang aktif berkampanye soal kemanusiaan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini juga berpesan yang sama di bidang ekonomi. Menurutnya, butuh kreativitas untuk mengatasi kemiskinan dan konflik di dunia.


"Saya punya joke untuk menggambarkan persoalan ini: Artis di New York harus sangat kreatif untuk bisa bertahan. Karena kreativitas itu menawarkan solusi untuk memecahkan masalah," kata dia.

Baca: WCCE jadi Ajang Pamer Kreativitas Anak Bangsa

Lisa mengaku terkesan dengan keseriusan Indonesia fokus membangun ekonomi kreatif. Menurutnya, forum WCCE yang digagas Indonesia ini merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam mengembangkan ekonomi kreatif.

Kepada sineas muda Indonesia yang tertarik pada film dokumenter, ia memberikan sedikit resep. "Bukan (resep) tentang teknik karena saya yakin orang Indonesia punya teknik yang bagus. Melainkan, bagaimana seorang sineas harus menjadi pekerja yang tekun," katanya.

Lisa meraih Emmy Award pada 2009 untuk film pendeknya berjudul Bi-Racial Hair. Sebuah film, apalagi film dokumenter, lanjutnya, butuh ide-ide kreatif untuk bisa bertahan dan diterima pasar.

"Saya butuh tiga tahun untuk benar-benar tahu soal teknik membuat film dokumenter," kata dia. "Editing bukan soal tentang menyambung gambar demi gambar, tapi bagaimana gambar tersebut bisa bercerita. Makanya teknik bercerita harus benar-benar dikuasai."

Setelah itu, temukan materi dan fokus pada cara bertuturnya. "Anda (para pemula) jangan berharap dengan satu film lalu bisa viral di media sosial. Jangan semata mengandalkan keberuntungan," kata dia yang juga berprofesi sebagai kurator.

Baca: Penonton Bioskop Menuju 50 Juta

Lisa berpesan sediakan waktu yang sangat luang untuk menemukan cara bertutur yang khas. Karena dengan itu seorang sineas bisa dikenal. "Sediakan waktu sepanjang mungkin untuk membuatnya."

Teknologi perfilman yang semakin canggih, ujarnya, semakin memudahkan sineas muda untuk cepat berkembang. "Apalagi saat ini harga untuk kebutuhan perfilman sudah sangat terjangkau," ujarnya.

Lisa adalah satu dari puluhan pembicara yang dihadirkan di forum WCCE 2018. Selain dia, ada CEO Elevation Barn, Will Travis; CEO and Founder of Bolanle Austen-Peter Production, Bolanle Austen-Peter; President of China Film Group Corporation, Le Ke Xi; CEO and Co-Founder Moonton (Mobile Legends), Justin Yuan; Menteri Keuangan, Sri Mulyani; Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara; Co-founder dan CEO of Net Mediatama Television, Wishnutama Kusubandio; dan lainnya.

Baca: 17 Ribu Imajinasi dalam 12 Kapsul

WCCE 2018 merupakan konferensi internasional pertama yang membahas mengenai ekonomi kreatif. Sebanyak dua ribu peserta akan hadir mulai dari pemain ekonomi kreatif, regulator, akademisi, dan masyarakat sipil. Ada empat isu utama yang akan dibahas, antara lain kohesi sosial, regulasi, pemasaran, serta ekosistem dan pembiayaan industri kreatif.

Konferensi ini akan menghasilkan Deklarasi Bali yang nantinya diusulkan ke Sidang Umum PBB tahun depan. Harapannya, deklarasi ini semakin menguatkan ekosistem dan mendukung perkembangan ekonomi kreatif dunia, mengingat saat ini telah memasuki era industri 4.0.



(OJE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id