Jakarta: Kepala Lembaga Biomolekuler Eijkman Institute Amin Soebandrio menyebut ada banyak faktor yang memengaruhi akurasi tes covid-19. Mulai dari kualitas alat hingga teknik menguji sampel di laboratorium.
“Kalau hasil tes false (keliru) negatif, jangan salahkan kit, bisa jadi cara ambil (sampel yang salah),” kata Amin dalam diskusi virtual, Sabtu, 5 Juni 2021.
Amin menyebut pengambilan sampel lewat hidung harus betul-betul dikorek hingga bagian belakang. Namun, ada kalanya tenaga kesehatan kurang memahami hal itu atau terlalu lelah sehingga tidak mengorek sampai dalam.
Langkah berikutnya, yakni membawa sampel untuk diperiksa. Amin mengatakan pemeriksaan sampel dari tes swab antigen memang bisa langsung dikerjakan di tempat tes. Namun, sampel dari tes polymerase chain reaction (PCR) harus dibawa ke laboratorium.
“Bagaimana membawa sampel ke laboratorium dengan memastikan kualitasnya tidak berubah,” papar Amin.
Amin mengatakan ada alat bernama virus transport medium (VTM) yang khusus untuk membawa virus. Kelebihan alat itu ialah menjaga virus tetap hidup dan tidak rusak sampai ke laboratorium.
Sampel di VTM seharusnya langsung diperiksa setelah sampai laboratorium. Namun, kenyataannya tidak semudah itu lantaran sampel dikirim dari seluruh Indonesia.
“Dari Jakarta, Banten, mungkin dekat tapi dari Papua, Kalimantan, bayangkan berapa hari sebelum sampel sampai laboratorium,” ujar Amin.
Baca: Tes Covid-19 Per 1 Juta Penduduk Indonesia Lebih Rendah dari Filipina
Amin mengatakan kendala berikutnya adalah keterampilan peneliti menguji sampel. Mereka harus menambahkan enzim tertentu dengan ukuran sangat kecil, yaitu satu hingga dua mikroliter.
“Kalau tidak terlatih bisa menimbulkan kesalahan dan dampaknya sangat besar,” jelas dia.
Faktor berikutnya, yakni kemungkinan kontaminasi di laboratorium. Amin mencontohkan ada sebuah laboratorium yang mengecek sampel dan semuanya dinyatakan positif covid-19.
Sampel itu dibawa ke laboratorium lain untuk diverifikasi hasilnya. Ternyata, sampel menunjukkan hasil negatif.
“Ternyata di ruangan itu terjadi kontaminasi sangat masif sehingga laboratorium harus ditutup,” tutur Amin.
Amin mengatakan faktor lainnya adalah kualitas alat tes covid-19. Hal itu biasa terjadi bila kualitas kontrol dan pabriknya kurang maksimal.
“Misalnya di Amerika Serikat ada alat tes sudah ada virusnya di situ. Itu sangat merugikan pasien,” kata dia.
Jakarta: Kepala Lembaga Biomolekuler Eijkman Institute Amin Soebandrio menyebut ada banyak faktor yang memengaruhi akurasi tes
covid-19. Mulai dari kualitas alat hingga teknik menguji sampel di laboratorium.
“Kalau hasil tes
false (keliru) negatif, jangan salahkan
kit, bisa jadi cara ambil (sampel yang salah),” kata Amin dalam diskusi virtual, Sabtu, 5 Juni 2021.
Amin menyebut pengambilan sampel lewat hidung harus betul-betul dikorek hingga bagian belakang. Namun, ada kalanya tenaga kesehatan kurang memahami hal itu atau terlalu lelah sehingga tidak mengorek sampai dalam.
Langkah berikutnya, yakni membawa sampel untuk diperiksa. Amin mengatakan pemeriksaan sampel dari tes
swab antigen memang bisa langsung dikerjakan di tempat tes. Namun, sampel dari tes
polymerase chain reaction (PCR) harus dibawa ke laboratorium.
“Bagaimana membawa sampel ke laboratorium dengan memastikan kualitasnya tidak berubah,” papar Amin.
Amin mengatakan ada alat bernama virus
transport medium (VTM) yang khusus untuk membawa
virus. Kelebihan alat itu ialah menjaga virus tetap hidup dan tidak rusak sampai ke laboratorium.
Sampel di VTM seharusnya langsung diperiksa setelah sampai laboratorium. Namun, kenyataannya tidak semudah itu lantaran sampel dikirim dari seluruh Indonesia.
“Dari Jakarta, Banten, mungkin dekat tapi dari Papua, Kalimantan, bayangkan berapa hari sebelum sampel sampai laboratorium,” ujar Amin.
Baca: Tes Covid-19 Per 1 Juta Penduduk Indonesia Lebih Rendah dari Filipina
Amin mengatakan kendala berikutnya adalah keterampilan peneliti menguji sampel. Mereka harus menambahkan enzim tertentu dengan ukuran sangat kecil, yaitu satu hingga dua mikroliter.
“Kalau tidak terlatih bisa menimbulkan kesalahan dan dampaknya sangat besar,” jelas dia.
Faktor berikutnya, yakni kemungkinan kontaminasi di laboratorium. Amin mencontohkan ada sebuah laboratorium yang mengecek sampel dan semuanya dinyatakan positif covid-19.
Sampel itu dibawa ke laboratorium lain untuk diverifikasi hasilnya. Ternyata, sampel menunjukkan hasil negatif.
“Ternyata di ruangan itu terjadi kontaminasi sangat masif sehingga laboratorium harus ditutup,” tutur Amin.
Amin mengatakan faktor lainnya adalah kualitas alat tes covid-19. Hal itu biasa terjadi bila kualitas kontrol dan pabriknya kurang maksimal.
“Misalnya di Amerika Serikat ada alat tes sudah ada virusnya di situ. Itu sangat merugikan pasien,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AZF)