Mr. Narender Panjwani, Chairman GlobalHealth Asia-Pacific dan Ibu Dwi Puspasari, SKM, M.Sc., Kepala Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Mr. Narender Panjwani, Chairman GlobalHealth Asia-Pacific dan Ibu Dwi Puspasari, SKM, M.Sc., Kepala Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

GHAPAC Aesthetics, Wellness, Longevity Conference & Awards 2026 Digelar di Indonesia

Fatha Annisa • 29 September 2026 16:30
Ringkasnya gini..
  • GHAPAC menggelar Aesthetics, Wellness & Longevity Conference & Awards 2026 di Jakarta pada 24–25 September 2026.
  • Konferensi ini membahas perkembangan estetika, wellness, kesehatan preventif, dan longevity.
  • Kemenkes dan Kemenpar turut membahas pengembangan wisata medis dan wellness di Indonesia.
Jakarta: GlobalHealth Asia-Pacific (GHAPAC) menggelar Aesthetics, Wellness & Longevity Conference & Awards 2026 di Grand Hyatt Jakarta pada 24–25 September 2026.
 
Konferensi tersebut mempertemukan lebih dari 200 pengambil keputusan dari sektor kesehatan dan industri dari sejumlah negara Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, dan Korea Selatan.
 
Mengusung tema “Defining the Future of Ageless Innovation”, pembahasan dalam konferensi berfokus pada perkembangan estetika, layanan kesehatan preventif, wellness, kedokteran regeneratif, dan longevity. Sejumlah sesi juga membahas perkembangan teknologi, inovasi layanan kesehatan, serta peluang pengembangan wisata medis dan wellness di Indonesia.
 
Salah satu isu yang dibahas adalah bagaimana Indonesia mengembangkan ekosistem yang menghubungkan layanan kesehatan dengan wellness, pariwisata, dan hospitality. Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur di Bali sebagai kawasan yang berfokus pada sektor kesehatan menjadi salah satu bagian dari perkembangan tersebut.
 


Kemenkes Soroti Kebijakan Pengembangan Layanan Kesehatan

Photo 4


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengisi sesi keynote bertajuk “Healthcare Policy in Shaping Indonesia’s Aesthetics, Wellness and Longevity Ecosystem”. Pembahasan menyoroti pentingnya keselamatan pasien, kompetensi tenaga profesional, standar kualitas, dan praktik berbasis bukti ilmiah seiring berkembangnya layanan estetika, preventif, wellness, dan longevity.
 
Dwi Puspasari, SKM, M.Sc., Kepala Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mengatakan Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan sektor pariwisata kesehatan di tingkat regional.
 
“Indonesia siap menjadi pemain yang diperhitungkan dalam sektor kesehatan dan kebugaran di tingkat regional, tidak hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai mitra,” ujar  Dwi.
 
Dwi menyebut pariwisata kesehatan berpotensi memberikan kontribusi hingga US$84 miliar atau sekitar Rp1.362 triliun terhadap PDB Indonesia. Menurutnya, sektor tersebut tidak hanya berpotensi mendatangkan devisa dan investasi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah, serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan di dalam negeri.
 
“Hingga bulan ini, Indonesia telah menetapkan 44 rumah sakit untuk pariwisata medis, yang menawarkan pusat layanan unggulan di berbagai bidang, termasuk kardiologi, onkologi, ortopedi, bedah estetika, dan kedokteran regeneratif. Kami juga telah membentuk tiga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan di Sanur, Bali, Banten, dan Batam, dengan proses investasi yang lebih cepat, perizinan yang lebih sederhana, serta insentif perpajakan yang menarik,” lanjutnya.

   

Pemerintah Dorong Pengembangan Wisata Medis dan Wellness

Photo 2


Sementara itu, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia membahas pengembangan ekosistem wellness dan wisata medis melalui sesi “Developing an Integrated Wellness and Medical Tourism Ecosystem”.
 
Pembahasan menyoroti hubungan antara rumah sakit, klinik, penyedia layanan wellness, pelaku pariwisata dan hospitality, destinasi, serta investor. Integrasi berbagai sektor tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam pengembangan layanan yang menyasar konsumen domestik maupun internasional.
 
Hanifah Makarim, Asisten Deputi Pengembangan Usaha dan Akses Permodalan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, mengatakan pemerintah terus mendorong koordinasi lintas sektor untuk mengembangkan paket pariwisata kesehatan yang menggabungkan layanan medis dan kebugaran.
 
“Kemenpar akan terus memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga pemerintah terkait, serta para pemangku kepentingan di industri pariwisata, penyedia layanan kesehatan, dan pelaku industri kebugaran, untuk mengembangkan paket pariwisata kesehatan terintegrasi yang menggabungkan berbagai layanan pariwisata medis dan kebugaran yang dimiliki Indonesia,” kata Hanifah.
   

Hubungkan Pelaku Industri Asia-Pasifik

Photo 1


Chairman GlobalHealth Asia-Pacific Narender Panjwani mengatakan perkembangan sektor aesthetics, wellness, dan longevity perlu diikuti dengan standar profesional dan inovasi yang bertanggung jawab.
 
“Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pasar sekaligus pemain regional yang penting dalam pertumbuhan sektor aesthetics, wellness, dan longevity. Hal ini didukung oleh talenta medis yang kuat, infrastruktur kesehatan yang terus berkembang, sektor aesthetics dan wellness yang telah terbentuk, hospitality yang diakui secara internasional, serta tradisi wellness yang telah dikenal dunia,” ujar Panjwani.
 
Ia menambahkan, perkembangan ketiga sektor tersebut semakin berkaitan dengan layanan kesehatan sehingga aspek kredibilitas ilmiah, standar profesional, dan inovasi menjadi bagian dari pembahasannya.
 
Konferensi tersebut juga mempertemukan pelaku industri kesehatan, estetika, wellness, teknologi medis, serta pemangku kepentingan dari berbagai negara Asia-Pasifik. Selain sesi konferensi, rangkaian acara mencakup B2C showcase dan awards gala yang digelar pada 25 September 2026.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(PRI)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>