Anak-anak bermain di Selter Tsunami Pandeglang. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.
Anak-anak bermain di Selter Tsunami Pandeglang. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.

Mengintip Selter Tsunami Pandeglang yang Telantar Dikorupsi

Nasional Tsunami di Selat Sunda
Fachri Audhia Hafiez • 28 Desember 2018 11:50
Jakarta: Sebuah bangunan tiga lantai berdiri menjulang di antara gedung-gedung lainnya di Jalan Raya Jenderal Sudirman, Kecamatan Labuan, Kabupaten Padeglang, Banten. Bangunan itu merupakan selter tsunami.
 
Bangunan yang didominasi warna krem dan oranye itu memiliki luas 2.456 mater persegi. Pantauan Medcom.id, bangunan yang dibangun sejak 2014 tersebut nampak terurus.
 
Papan yang bertuliskan "Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten" menghiasi bagian depan bangunan. Tepat di sebelahnya, sebuah papan informasi yang bertuliskan "Tanah Ini Milik Pemda Kabupaten Pandeglang" terpampang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bagian dalam gedung berisikan puluhan gerobak dagangan dan mobil angkutan umum. Gerobak dan mobil itu berjejer di area yang sedianya digunakan untuk lahan parkir.
 
Saat memasuki area bangunan, tampak beberapa genangan air. Untuk naik ke lantai atas bangunan, pengunjung dapat menggunakan anak tangga keramik yang relatif rusak.
 
Di lantai dua, terdapat kamar mandi dengan kondisi tak terawat. Sebuah panel listrik juga tampak dibiarkan rusak. Tembok penuh coretan dan sampah yang berserakan memperparah kesan kotor dari bangunan.
 
Mengintip Selter Tsunami Pandeglang yang Telantar Dikorupsi
Toilet di Selter Tsunami Pandeglang tak terawat. Foto: Medcom.id-Fachri Audhia Hafiez.
 
Sementara itu, lantai tiga bangunan adalah ruangan kosong tanpa atap. Di lantai ini, pengunjung dapat melihat indahnya Teluk Labuan. Sementara itu, lampu-lampu dengan sistem tenaga surya terdapat di sisi tembok.
 
Menurut warga Labuan, Aswan, 30, kondisi bangunan memang sudah lama tak terurus. Bahkan, gedung dibiarkan terbengkalai selama beberapa tahun.
 
"Enggak tahu buat diapakan nantinya ini bangunan, itu dibuat parkir gerobak," ucap dia di lokasi, Jumat, 28 Desember 2018.
 
Baca: Menhub Sebut Bandara Soetta Tidak Terdampak Anak Krakatau
 
Meski demikian, saat terjadi tsunami Selat Sunda, Sabtu, 22 Desember 2018 banyak warga yang berlarian ke selter ini lantaran bangunan cukup tinggi sehingga dianggap aman. Namun, fungsi sebenarnya selter ini untuk menampung korban bencana sama sekali tak tampak.
 
"Pada berlarian ke sini sementara, terus pada kembali lagi ke rumah masing-masing atau posko," ujar dia.
 
Digerus korupsi
 
Terbengkalainya bangunan ini diduga lantaran kasus korupsi. Tiga orang ditetapkan sebagai tersangka dari kasus proyek senilai Rp18 miliar ini. Para tersangka adalah Direktur PT Tidar Sejahtera Takwin Ali Muchtar dan manajernya Wiyarsa Joko Pranolo dan pejabat pembuat komitmen (PPK) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ahmad Gunawan.
 
Takwin bersama-sama Ahmad Gunawan dan Wiarso Joko Pranolo didakwa telah melakukan atau turut serta melakukan perbuatan secara melawan hukum. Ketiganya dianggap membuat bangunan yang tidak berfungsi baik secara keseluruhan maupun sebagian (kegagalan bangunan) yang tidak sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam kontrak kerja konstruksi.
 
Takwin dipidana penjara 1 tahun 3 bulan dan denda Rp50 juta subsider 2 bulan kurungan. Dia juga dijatuhi pidana tambahan berupa membayar ganti Rp4,71 miliar.
 
Agung dipidana penjara 1 tahun 3 bulan dan denda Rp50 juta subsider 2 bulan kurungan. Dia juga dijatuhi pidana tambahan berupa membayar ganti Rp500 juta. Wiarso Joko Pranolo dipidana penjara 1 tahun 3 bulan dan denda Rp50 juta subsider 2 bulan kurungan.
 

 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif