Jakarta: Jakob Oetama meninggal pada Rabu, 9 September 2020. Pria kelahiran Borobudur, Magelang, 27 September 1931, ini memiliki kontribusi besar di dunia bisnis komunikasi dan jurnalisme.
Jakob menamatkan pendidikan dasarnya di Yogyakarta. Dia melanjutkan studi di Sekolah Menengah Atas (SMA) Seminari di Yogyakarta pada 1951. Setelah tamat, Jakob sempat bekerja menjadi guru di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat, dan SMP Van Lith, Jakarta, hingga 1956.
Sepak terjangnya sebagai wartawan dimulai usai menjadi guru. Rekam jejak karier Jakob dimulai ketika diamanahkan menjadi redaktur Mingguan Penabur pada 1956.
Tujuh tahun berselang, dia mendirikan majalah Intisari bersama PK Ojong. Banyak yang menyebut majalahnya itu diilhami Reader's Digest dari Amerika Serikat.
Pada 28 Juni 1965, Jakob bersama Ojong mendirikan harian Kompas. Sejak saat itu, harian tersebut ikut memberitakan catatan sejarah Indonesia dan dunia.
Dia kemudian mendirikan The Jakarta Post, harian nasional Indonesia berbahasa Inggris yang banyak menjadi bacaan perwakilan negara asing di Tanah Air. Koran itu didirikannya bersama taipan bisnis dan media seperti Jusuf Wanandi, Muhammad Chudori, Eric Samola, Fikri Jufri, HG Rorimpandey, pendiri Tempo Goenawan Mohamad, hingga mantan Menteri Penerangan Harmoko.
Kompas Gramedia Group yang ia bangun berkembang pesat sejak era 80-an, terutama dalam bidang komunikasi. Saat ini, Kompas Gramedia Group memiliki beragam anak perusahaan dan unit bisnis.
Bisnis Jakob semakin menggurita dan bervariatif. Kompas Gramedia Group memiliki unit bisnis media massa, toko buku, percetakan, radio, hotel, lembaga pendidikan, event organizer, stasiun TV, hingga universitas.
Dia terus aktif di dunia jurnalistik walau telah mendekati usia 89 tahun. Dia tercatat sebagai Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia, Pembina Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia, dan Penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN saat meninggal.
Peran besar Jakob di bidang komunikasi diganjar gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada. Dia pun menerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah Indonesia pada 1973.
Jakarta: Jakob Oetama meninggal pada Rabu, 9 September 2020. Pria kelahiran Borobudur, Magelang, 27 September 1931, ini memiliki kontribusi besar di dunia bisnis komunikasi dan jurnalisme.
Jakob menamatkan pendidikan dasarnya di Yogyakarta. Dia melanjutkan studi di Sekolah Menengah Atas (SMA) Seminari di Yogyakarta pada 1951. Setelah tamat, Jakob sempat bekerja menjadi guru di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat, dan SMP Van Lith, Jakarta, hingga 1956.
Sepak terjangnya sebagai wartawan dimulai usai menjadi guru. Rekam jejak karier Jakob dimulai ketika diamanahkan menjadi redaktur Mingguan Penabur pada 1956.
Tujuh tahun berselang, dia mendirikan majalah Intisari bersama PK Ojong. Banyak yang menyebut majalahnya itu diilhami Reader's Digest dari Amerika Serikat.
Pada 28 Juni 1965, Jakob bersama Ojong mendirikan harian Kompas. Sejak saat itu, harian tersebut ikut memberitakan catatan sejarah Indonesia dan dunia.
Dia kemudian mendirikan The Jakarta Post, harian nasional Indonesia berbahasa Inggris yang banyak menjadi bacaan perwakilan negara asing di Tanah Air. Koran itu didirikannya bersama taipan bisnis dan media seperti Jusuf Wanandi, Muhammad Chudori, Eric Samola, Fikri Jufri, HG Rorimpandey, pendiri Tempo Goenawan Mohamad, hingga mantan Menteri Penerangan Harmoko.