Jakarta: Belakangan ini, jajanan es gabus mendadak ramai di media sosial. Bukan karena inovasi rasa baru, melainkan akibat sebuah kesalahpahaman yang melibatkan aparat dan seorang pedagang di Jakarta Pusat.
Tuduhan bahwa es tersebut menggunakan bahan berbahaya seperti spons sempat membuat publik geger. Namun, setelah uji laboratorium memastikan es tersebut aman, perhatian masyarakat kini bergeser menjadi pertanyaan, apa itu es gabus dan mengapa disebut es gabus?
Bagi generasi baru atau mereka yang jarang bersentuhan dengan kuliner tradisional, nama es gabus mungkin terdengar janggal. Nama ini sering kali memicu tebakan keliru, mulai dari dugaan berbahan ikan gabus hingga spons.
Faktanya, penamaan "gabus" murni didasarkan pada analogi tekstur. Es ini memiliki karakteristik yang sangat unik dibandingkan es krim atau es lilin pada umumnya. Saat digigit, es ini terasa empuk dan memiliki rongga-rongga udara kecil di dalamnya karena memiliki tekstur yang berpori.
Tekstur berpori tersebut menimbulkan ada sensasi kenyal namun padat yang sangat mirip dengan karakteristik material styrofoam atau gabus sintetis. Berbeda dengan es batu yang solid, es gabus bisa dikunyah dengan lembut meskipun dalam keadaan beku.
Baca Juga :
Aparat Minta Maaf Usai Viral Tuduh Pedagang Es Gabus Pakai Spons
Rahasia Tekstur Seperti Gabus
Rahasia di balik tekstur "gabus" tersebut sebenarnya terletak pada bahan utamanya, yaitu tepung hunkwe. Tepung ini merupakan pati yang diekstrak dari kacang hijau. Dalam proses pembuatannya, tepung hunkwe dimasak bersama santan, gula, dan sedikit garam hingga mengental menjadi adonan seperti puding atau bubur sumsum yang sangat padat. Sifat alami hunkwe yang berserat dan mampu mengikat air dengan cara yang unik inilah yang menciptakan tekstur empuk seperti gabus.
Inilah yang menyebabkan es tersebut tampak hancur berkeping seperti gabus namun tetap lembut saat ditekan, ciri khas yang sempat disalahartikan sebagai bahan spons oleh pihak yang kurang memahami karakteristik bahan ini.
Es gabus mulai populer di Indonesia pada era 1980-an hingga mencapai puncak kejayaannya di tahun 1990-an. Jajanan ini merupakan solusi kreatif bagi masyarakat saat itu untuk menikmati pencuci mulut yang lezat namun ekonomis.
Penampilan es gabus yang ikonik biasanya berbentuk lapis pelangi. Lapisan warna-warni ini bukan sekadar hiasan, melainkan cara pedagang untuk menarik perhatian anak-anak sekolah.
(Fany Wirda Putri)
Jakarta: Belakangan ini, jajanan
es gabus mendadak ramai di media sosial. Bukan karena inovasi rasa baru, melainkan akibat sebuah kesalahpahaman yang melibatkan aparat dan seorang pedagang di Jakarta Pusat.
Tuduhan bahwa es tersebut menggunakan
bahan berbahaya seperti spons sempat membuat publik geger. Namun, setelah uji laboratorium memastikan es tersebut aman, perhatian masyarakat kini bergeser menjadi pertanyaan, apa itu es gabus dan mengapa disebut es gabus?
Bagi generasi baru atau mereka yang jarang bersentuhan dengan kuliner tradisional, nama es gabus mungkin terdengar janggal. Nama ini sering kali memicu tebakan keliru, mulai dari dugaan berbahan ikan gabus hingga spons.
Faktanya, penamaan "gabus" murni didasarkan pada analogi tekstur. Es ini memiliki karakteristik yang sangat unik dibandingkan es krim atau es lilin pada umumnya. Saat digigit, es ini terasa empuk dan memiliki rongga-rongga udara kecil di dalamnya karena memiliki tekstur yang berpori.
Tekstur berpori tersebut menimbulkan ada sensasi kenyal namun padat yang sangat mirip dengan karakteristik material styrofoam atau gabus sintetis. Berbeda dengan es batu yang solid, es gabus bisa dikunyah dengan lembut meskipun dalam keadaan beku.
Rahasia Tekstur Seperti Gabus
Rahasia di balik tekstur "gabus" tersebut sebenarnya terletak pada bahan utamanya, yaitu tepung hunkwe. Tepung ini merupakan pati yang diekstrak dari kacang hijau. Dalam proses pembuatannya, tepung hunkwe dimasak bersama santan, gula, dan sedikit garam hingga mengental menjadi adonan seperti puding atau bubur sumsum yang sangat padat. Sifat alami hunkwe yang berserat dan mampu mengikat air dengan cara yang unik inilah yang menciptakan tekstur empuk seperti gabus.
Inilah yang menyebabkan es tersebut tampak hancur berkeping seperti gabus namun tetap lembut saat ditekan, ciri khas yang sempat disalahartikan sebagai bahan spons oleh pihak yang kurang memahami karakteristik bahan ini.
Es gabus mulai populer di Indonesia pada era 1980-an hingga mencapai puncak kejayaannya di tahun 1990-an. Jajanan ini merupakan solusi kreatif bagi masyarakat saat itu untuk menikmati pencuci mulut yang lezat namun ekonomis.
Penampilan es gabus yang ikonik biasanya berbentuk lapis pelangi. Lapisan warna-warni ini bukan sekadar hiasan, melainkan cara pedagang untuk menarik perhatian anak-anak sekolah.
(
Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)