Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Waspada! Ini Cara Teroris Kumpulkan Dana untuk ISIS di Indonesia

Siti Yona Hukmana • 26 Mei 2022 18:33
Jakarta: Polri membeberkan cara-cara kelompok teroris mengumpulkan dana untuk Negara Islam, Irak, dan Suriah (ISIS) yang beraktivitas di Indonesia. Masyarakat diminta mewaspadainya.
 
"Masyarakat harus memahami bahwa ada penggalangan dana yang berkedok kemanusiaan yang juga merupakan afiliasi dari kelompok teroris," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan saat dikonfirmasi, Kamis, 26 Mei 2022.
 
Ramadhan mengatakan penggalangan dana bertujuan mendukung kegiatan teroris. Seperti, pemberangkatan para jihad ke medan pertempuran, pelatihan teroris, dan mendukung penyembunyian para tersangka yang masuk daftar pencarian orang (DPO).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ada juga untuk pembelian senjata dan lain-lain," ujar jenderal bintang satu itu.
 
Ramadhan menuturkan ada berbagai fenomena dan modus pengumpulan dana yang dilakukan berbagai kelompok terorisme di Indonesia. Hal itu terbongkar dari hasil penyelidikan dan penyidikan.
 
"Dinamika perkembangan teknologi secara global juga memengaruhi modus pencarian dana yang dilakukan kelompok terorisme terutama kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan AD selaku pendukung ISIS," ungkap Ramadhan.
 
Modus-modus pencarian dana yang dilakukan itu ialah offline atau dalam bentuk sumbangan/donasi. Penggalangan dana ini dilakukan dengan berbagai cara, baik menyumbangkan atau memberikan uang/aset yang dimiliki secara langsung kepada sesama anggota kelompok untuk melaksanakan rencana tindak pidana terorisme, maupun menjual aset pribadi.
 
"Aset pribadi merupakan salah satu cara untuk mendanai diri sendiri sebagai modal untuk melaksanakan kegiatan tindak pidana terorisme," ucap Ramadhan.
 
Baca: Densus 88: Jangan Menyumbang ke Organisasi Tak Dikenal
 
Menurut dia, aspek ini cenderung digunakan untuk biaya hijrah pergi bergabung dengan kelompok ISIS di Suriah maupun Filipina. Kemudian, dengan cara perampokan.
 
Ramadhan menyebut kelompok JAD dan Anshor Daulah (AD) mengenal istilah perampokan dengan sebutan Fa'i. Mereka melakukan berbagai perampokan untuk mendapatkan dana, seperti yang dilakukan kelompok Abu Roban pada 2013.
 
Kelompok itu melakukan berbagai perampokan di Bank BRI, kantor pos, dan toko bangunan. Kelompok itu juga merampok toko emas pada 2016 untuk biaya hijrah ke Suriah.
 
"Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) cenderung melakukan pencurian kendaraan roda dua dan dijual yang uangnya dikirimkan ke kelompok MIT yang berada di gunung," beber Ramadhan.
 
Kelompok teroris juga banyak melakukan pencarian dana dalam bentuk online. Ramadhan mengatakan kelompok teroris banyak mengambil kesempatan dari perkembangan teknologi.
 
Kelompok pendukung ISIS, kata dia, cenderung memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk melaksanakan pendanaan terorisme. Di antaranya crowdfunding atau praktik penggalangan dana dari sejumlah besar orang.
 
"Mereka memanfaatkan media sosial untuk mencari sumbangan dari kelompoknya maupun orang umum, dengan mengatasnamakan sosial agama dan pendidikan, dengan mudah mendapatkan dana yang tidak sedikit dan cepat," kata Ramadhan.
 
Ada pula berbentuk sumbangan dari luar negeri. Ramadhan menuturkan pada 2016, kelompok AD Surakarta mendapatkan kiriman dana dari Bahru Naim yang berada di Suriah untuk melaksanakan aksi bom bunuh diri di Polres Surakarta.
 
Kelompok teroris juga banyak mengumpulkan dana lewat pinjaman online (pinjol). Pada 2019, kelompok AD Jawa Barat melakukan pinjaman online melalui berbagai jasa pinjol untuk mengumpulkan dana.
 
"Mereka mampu mendapatkan belasan juta rupiah dari pinjol tersebut," ungkap Ramadhan.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif