Mahasiswa mengunjungi Museum Sumpah Pemuda, di Jalan Kramat Raya No 106, Jakarta, Selasa (27/10/2020). Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Mahasiswa mengunjungi Museum Sumpah Pemuda, di Jalan Kramat Raya No 106, Jakarta, Selasa (27/10/2020). Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso

Jejak Pemuda Kristen dan Gereja di Awal Pengukuhan Sumpah Pemuda

Nasional sejarah Sumpah Pemuda bangunan sejarah
Wandi Yusuf • 28 Oktober 2020 10:31
Jakarta: Jejak pemuda Kristen dan gereja kentara di awal pengukuhan Sumpah Pemuda. Koran Bataviaasch Nieuwsblad melaporkan Kongres Pemuda Kedua yang berlangsung pada Sabtu, 27 Oktober 1928 sore itu, berlangsung di gedung Katholieke Social Bond (Perhimpunan Sosial Katolik). Lokasinya persis di belakang Gereja Katedral, tempat aula paroki katedral sekarang.
 
Di gedung itulah 750 pemuda bersepakat untuk bersatu memperjuangkan kemerdekaan. Kongres Pemuda Kedua itu meneruskan Kongres Pemuda Pertama yang berlangsung dua tahun sebelumnya, yakni pada 30 April hingga 2 Mei 1926.
 
Dalam koran yang terbit Senin, 29 Oktober 1928 tersebut, Moh Yamin berpidato tentang pentingnya pemuda bagi 'persatoean dan kebangsaan Indonesia'. Dia menekankan lima hal, yakni sejarah, bahasa, hukum atau adat, pendidikan, dan kehendak untuk bersatu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di antara 750 pemuda yang hadir saat itu, terselip sejumlah pemuda Kristen. Beberapa di antaranya adalah Prof Leimena, RCL Senduk, Arnold Monotutu (ketiganya penganut Protestan; dan Agustine Magdalena Waworuntu Katolik).
 
Selain pemuda Kristen, kongres dihadiri utusan dari organisasi-organisasi pemuda Tanah Air. Seperti, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pemuda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, Katholikee Jongelingen Bond, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun, dan banyak lagi.
 
Kongres kedua itu lantas berlanjut di dua tempat berbeda, yakni di Oost-Java Bioscoop atau sekarang berada di Jalan Medan Merdeka Utara. Dan di Indonesische Clubgebouw, sekarang adalah Museum Sumpah Pemuda yang terletak di Jalan Kramat Raya No 106.
 
Di Gedung ketiga inilah Wage Rudolf Supratman, yang juga penganut ajaran kristiani, mengalunkan lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya dengan biola. Di sini pula 'Soempah Pemoeda' lantas diikrarkan oleh seluruh peserta yang berasal dari berbagai suku bangsa dan agama.
 
Dimintai tanggapan terkait peran pemuda Kristen dalam mencetuskan Sumpah Pemuda, Pastor Antonius Benny Susetyo dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) tak menampiknya. Menurutnya, semua pemuda dari beragam suku bangsa dan latar belakang agama, ikut menyuarakan cikal-bakal Indonesia.
 
"Sejak awal pemuda kita punya jiwa kebangsaan yang kuat. Mereka punya cita-cita bersama untuk merdeka tanpa melihat kebangsan, kesukuan, dan keagamaan," kata Benny kepada Medcom.id, Rabu, 28 Oktober 2020.
 
Baca:92 Tahun Sumpah Pemuda, Momentum Pertegas Identitas Indonesia
 
Benny mengatakan sejak 1928, pemuda Indonesia sudah menunjukkan bahwa mereka mampu mengatasi sekat pemisah yang justru sekarang kerap dipertanyakan. Mereka membangun kesadaran nilai-nilai kebangsaan tanpa memikirkan lingkaran suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
 
Benny menekankan para pemuda saat itu sudah tak lagi mempersoalkan status sosial dan keagamaan dalam berjuang membangun negeri. "Jiwa merdeka para pemuda generasi 1928 ini harus ditiru generasi muda masa kini," kata alumnus pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang ini.
 
(UWA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif