Pernyataan bersama para pemuka agama terkait teror di Christchurch, Selandia Baru - Medcom.id/Achmad Zulfikar Fazli.
Pernyataan bersama para pemuka agama terkait teror di Christchurch, Selandia Baru - Medcom.id/Achmad Zulfikar Fazli.

Motif Teror di Selandia Baru Islamofobia dan Senofobia

Nasional Penembakan Selandia Baru
Achmad Zulfikar Fazli • 20 Maret 2019 16:32
Jakarta: Para tokoh agama dan masyarakat sipil mengecam aksi teror yang terjadi di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru. Motif dari aksi teror tersebut dinilai untuk menebar kebencian kepada umat Islam (Islamofobia) dan imigran (Senofobia).
 
"Motivasi utama di balik teror ini adalah Islamofobia dan kebencian kepada imigran (senofobia)," ujar eks Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat saat membacakan pernyataan bersama para pemuka agama di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Rabu, 20 Maret 2019.
 
Motif tersebut, terang dia, terlihat dari cara pelaku, Brenton Tarrant, yang secara brutal menembaki umat Islam. Tindakan itu juga dinilai tidak asal-asalan melainkan sudah terencana dengan menyiarkan langsung aksinya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Komaruddin menegaskan Islamofobia dan senofobia adalah ideologi dan cara berpikir yang sesat. Tindakan tersebut dinilai sangat berbahaya bagi kemanusiaan dan tak pernah diajarkan oleh agama mana pun.
 
(Baca juga:Tarian Haka untuk Mengenang Korban Penembakan Christchurch)
 
"Kami mengecam pikiran ini sekeras-kerasnya. Ajaran agama dan kepercayaan kami mendakwahkan cinta antar manusia dan hidup bersama secara damai," ujar dia.
 
Para tokoh agama dan masyarakat sipil menyerukan kepada semua warga negara dan umat beragama serta kepercayaan untuk tetap tenang, bersatu, menjaga persaudaraan dalam kemanusiaan. Bangsa Indonesia telah dianugerahi dengan kearifan yang tercermin dalam Pancasila dan UUD 1945.
 
"Semoga Tuhan sumber kasih sayang dan Cinta mencurahkan kasih sayang kepada para korban penembakan di New Zealand ini, beserta segenap keluarga mereka. Semoga negeri kita selalu dianugerahi kedamaian dan kehidupan yang rukun dan saling menghargai," tutur dia.
 
Perwakilan dari Komisi Waligereja Indonesia, Romo Agustinus Heri Wibowo, meminta masyarakat tetap rukun. Dia tak ingin aksi teror ini membuat masyarakat terpecah belah.
 
"Disampaikan teror ini adalah ideologi kebencian yang diniatkan membeci masyarakat dua kubu, atau dua dunia dalam dua kubu besar kemusuhan antar semuanya. Kami menyerukan semua umat manusia untuk rukun," ujar dia.
 
(Baca juga:Geng Motor Siap Amankan Salat Jumat di Selandia Baru)
 

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif