Personel Pasukan Pertahanan Selandia Baru melakukan tarian haka di Whenuapai, 7 Oktober 2018. (Foto: AFP/CORNELL TUKIRI)
Personel Pasukan Pertahanan Selandia Baru melakukan tarian haka di Whenuapai, 7 Oktober 2018. (Foto: AFP/CORNELL TUKIRI)

Tarian Haka untuk Mengenang Korban Penembakan Christchurch

Internasional Penembakan Selandia Baru
Arpan Rahman • 19 Maret 2019 14:28
Christchurch: Haka, tarian seremonial suku Maori Selandia Baru, biasanya digunakan dalam medan peperangan. Tapi tarian tersebut juga bisa digunakan untuk berbagai kesempatan, seperti acara perayaan atau peringatan.
 
Setelah terjadinya penembakan di dua masjid di Christchurch yang menewaskan 50 orang pada 15 Maret lalu, warga Selandia Baru dari berbagai pelosok negeri mengungkapkan belasungkawa dan juga memperlihat beragam aksi solidaritas, salah satunya menarikan tarian haka.
 
Sejumlah video di media sosial memperlihatkan sekelompok mahasiswa, pengendara sepeda motor dan warga lainnya menarikan tarian haka. Mereka menyalurkan rasa duka dan kesedihan ke dalam sebuah aktivitas fisik yang juga menyimbolkan rasa simpati terhadap korban penembakan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bagi mereka yang melakukan tarian tersebut, haka juga dapat dipandang sebagai media untuk menyalurkan emosi mendalam.
 
Disitir dari laman Sydney Morning Herald, Selasa 19 Maret 2019, salah satu video di Twitter memperlihatkan mahasiswa menari haka secara spontan sebagai penghormatan kepada teman kuliah mereka yang tewas dalam penembakan.
 
Tangisan dan semangat mereka yang berapi-api saat menari dapat menjadi pengingat, bahwa tarian perang juga bisa digunakan untuk melambangkan identitas nasional, solidaritas, dan kebanggaan.
 
Di Queensland, Australia, sekelompok warga juga menarikan haka untuk mengenang korban penembakan di Christchurch. Video haka tersebut telah dilihat ribuan kali di internet.
 
Penembakan di Christchurch mengguncang Selandia Baru -- sebuah negara yang dianggap banyak pihak relatif aman dari aksi teror -- dan seluruh dunia.
 
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan kabinetnya secara prinsip telah sepakat untuk memperketat aturan kemilikan senjata api.
 
Dalam pertemuan di gedung parlemen hari ini, PM Ardern menegaskan dirinya tidak akan pernah menyebutkan nama pelaku teror di Christchurch. Dia meminta pada para anggota parlemen untuk mengikuti langkahnya.
 
Pelaku teror di Christchurch adalah Brenton Tarrant, pria 28 tahun asal Australia. Saat didakwa pasal pembunuhan pada Sabtu 16 Maret, Tarrant tidak memperlihatkan tanda-tanda penyesalan. Dia bahkan sempat tersenyum ke arah awak media di ruang persidangan.
 
Baca:PM Selandia Baru Tak Mau Sebut Nama Teroris
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif