Foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau/ANT/Nurul
Foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau/ANT/Nurul

Longsor Memicu Perubahan Bentuk Gunung Anak Krakatau

Nasional Gunung Anak Krakatau
Fachri Audhia Hafiez • 27 Desember 2018 06:58
Jakarta: Kaki Gunung Anak Krakatau longsor. Fenomena tersebut memicu perubahan pada bentuk gunung yang memiliki ketinggian 2.667 kaki itu.

"Kasus Anak Krakatau itu berikutnya tetap bergerak tapi pelan. Mungkin bentuk Anak Krakatau ini akan berubah. Karena dia akan menyesuaikan dengan kehilangan kaki," kata Sekretaris Badan Geologi Antonius Ratdomopurbo saat dikonfirmasi, Rabu, 26 Desember 2018.

Baca: BNPB Imbau Warga Gunakan Masker saat Beraktivitas

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Antonius menjelaskan Gunung Anak Krakatau terbangun dari dua jenis batuan, batuan strombolian (semburan lava pijar dari magma yang dangkal) dan lava pijar yang menjadi batu keras. Bebatuan keras itu hanya berada di arah tenggara gunung, selebihnya hanya berisi bebatuan lepas atau talus. "Bawahnya Krakatau itu kan tersusun dari material lepas. Kalau itu longsor salah satu seperti diambil kakinya," tegas dia.

Baca: Tsunami yang Tak Lazim di Selat Sunda

Antonius menegaskan longsor bukan berasal dari aliran erupsi. Longsor di kaki Gunung Anak Krakatau disebabkan tiga faktor, yakni gempa bumi, materialnya lepas, dan hujan.

"Kalau Anak Krakatau saja harusnya longsor di puncak, bukan di kaki. Tapi kalau satu diambil kakinya pasti melorot yang lain, mudah-mudahan melorotnya pelan-pelan," harap Antonius.

Disisi lain, Gunung Anak Krakatau berkali-kali mengalami erupsi. Abu hasil erupsi yang terjadi hampir 20 detik sekali itu dilaporkan sudah sampai ke Kota Cilegon, Banten. Suara gelegar pun kerap terdengar seiring kemunculan debu.

"Tiap gelegar itu proses magma keluar di puncak," ucap Antonius.




(OJE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi