Areal pabrik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, di Gunem, Rembang, Jawa Tengah. Foto: Antara/Yusuf Nugroho
Areal pabrik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, di Gunem, Rembang, Jawa Tengah. Foto: Antara/Yusuf Nugroho

Pabrik Semen, Pembangunan, dan Punahnya Masyarakat

Lukman Diah Sari • 01 April 2017 19:55
medcom.id, Jakarta: Aksi menyemen kaki para petani Kendeng, di depan Istana Negara masih dilakukan. Aksi ini berharap mengetuk hati pemerintah untuk mengurungkan niat pemberian izin operasi pabrik Semen Indonesia di Kendeng, Jawa Tengah. 
 
Pakar Antropologi Universitas Indonesia Sulistyowati Irianto menilai, aksi yang dilakukan petani Kendeng harusnya jadi pembelajaran untuk pemerintah. 
 
Masyarakat lokal, kata Sulis, memiliki hubungan yang luas antara manusia-lingkungan hidup-ruang hidup. Sejarah panjang warga yang telah lama menetap dan bergantung hodup disana harus dilihat.

"Kesejarahan enggak perlu yang heroik. Tapi pengalamam mereka hidup di sana itu, keseharian orang biasa yang sering hilang. Kita mesti rekam sehingga betul," bebernya di LBH Jakarta, Jakarta, Sabtu 1 April 2017. 
 
Baca: Pemerintah Godok Opini Hukum untuk Pabrik Semen Kendeng
 
Dia menyebut, ruang keberlangsungan masyarakat adat atau komunitas lokal sudah tertuang dalam kontitusi. Manusia tak bisa hidup tanpa tanah yang menghidupi. "Dalam filosofinya, tanah hilang. Kami pun punah," ucapnya. 
 
Pabrik Semen, Pembangunan, dan Punahnya Masyarakat
 
Masyarakat lokal, seperti di Kendeng, tak mengenal sistem waris seperti saat ini. Sehingga bila kehidupan di Kendeng digantikan oleh rutinitas pabrik semen maka hilang pula masyarakat petani di Kendeng. 
 
Dia tak menampik, Indonesia memang membutuhkan pembangunan ekonomi. Tapi pertumbuhan ekonomi tak boleh pula melenyapkan manusia dan kebudayaan. 
 
Baca: Kajian Lingkungan Diminta Mencakup Dimensi Sosial Kendeng
 
Pada 2050 nanti diprediksi Asia bakal mencapai puncak keemasan, yang ditandai dengan lahirnya 3 miliar orang kaya baru. Salah satunya, yang akan menikmati madu masa keemasan itu adalah Indonesia. 
 
Namun Sulis mengingatkan, mereka yang menjadi orang kaya baru itu adalah manusia yang mengedepankan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bukan lagi mengandalakan pembangunan mengekploitasi tambang dan hutan.
 
"Bagaimana pembangunan memaksimalkan potensi kepintaran otak, bukan lagi eksplorasi bumi. 
Jadi ini tantangan pemerintahan sekarang. Tanpa harus merusak tempat mereka hidup," tandasnya. 
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SUR)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan