Kutipan puisi Cak Imin di Darah Juang Antologi Puisi. Istimewa.
Kutipan puisi Cak Imin di Darah Juang Antologi Puisi. Istimewa.

Cak Imin dan Ganjar Pranowo Duet dalam Antologi Puisi Darah Juang

Juven Martua Sitompul • 12 November 2021 03:35
Jakarta: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menyumbangkan karya puisinya dalam sebuah buku berjudul Darah Juang Antologi Puisi. Buku yang berisi ratusan puisi mantan aktivis itu baru diluncurkan pada Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2021, di Yogyakarta.
 
Koordinator aksi puisi FX Rudy Gunawan menjelaskan antologi puisi ini merupakan karya mantan aktivis yang tergabung dalam Paguyuban Darah Juang (PDJ). PDJ lahir pada 2016 Sukma di Kampus Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM).
 
Rudy mengatakan selain Cak Imin dan Ganjar, ada beberapa pejabat nesugara ikut membuat puisi di buku tersebut. Di antaranya Mensesneg Pratikno, Ketua Komisi VI DPR RI Faisol Riza, serta alumni UGM lainnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadi kami meminta semua teman-teman aktivis dan alumni UGM era reformasi untuk membuat puisi. Ada Muhaimin Iskandar (Ketum PKB), Pratikno (Mensesneg RI), Ganjar Pranowo (Gubernur Jateng), Faisol Riza (Ketua Komisi VI DPR RI). Ternyata respons teman-teman ini baik. Sehingga, kami buat bukunya," kata Rudy.
 
Menurut Rudy, penerbitan buku oleh PDJ ini sebagai wadah menyampaikan aspirasi mantan aktivis melalui tulisan. "Jadi ini aksi konkret kami untuk menyampaikan segala uneg-uneg kami. Apalagi, kondisi covid-19 saat ini banyak yang perlu disampaikan," kata Rudy yang juga sebagai penulis itu.
 
Baca: CEO Media Group: Pemuda Masa Kini Perlu Mengadopsi Endurance Sumpah Pemuda
 
Terbitnya buku Darah Juang Antologi Puisi ini juga bertujuan mengingatkan masyarakat untuk saling peduli. Warga diajak berkontribusi dengan cara yang mereka kuasai untuk kepentingan bangsa.
 
"Ini sebagai pengingat agar kita jangan pernah berhenti peduli dengan bangsa. Ikut berkontribusi dengan skala masing-masing, itu yang perlu di highlight," katanya.
 
Rudy tak menampik banyak hal terutama di pemerintahan yang berubah dalam situasi seperti ini. Adanya sekat-sekat di pemerintah, perpecahan, dan friksi yang ada di masyarakat harus diakhiri.
 
"Kita menghadapi perubahan lalu ada bencana dunia (covid-19) yang harus kita atasi sendiri sebagai bangsa. Nah, kebersamaan ini yang penting, mari kembalikan lagi persatuan kita," ujar aktivis 1980 itu.
 
Rudi membandingkan era reformasi dengan sekarang, di mana aktivis sulit berpendapat. Saat ini, ruang berpendapat lebih terbuka dan bisa melalui platform digital.
 
Pihaknya berharap pada generasi muda untuk lebih produktif dan cerdas dalam memenuhi ruang berpendapat itu. "Termasuk memanfaatkan digitalisasi untuk pemberdayaan misalnya, seperti ekonomi mungkin. Termasuk juga yang muda ini yang saat ini menguasai," katanya.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif