CEO Media Group Mirdal Akib. Foto: OSC Medcom.id
CEO Media Group Mirdal Akib. Foto: OSC Medcom.id

CEO Media Group: Pemuda Masa Kini Perlu Mengadopsi Endurance Sumpah Pemuda

Citra Larasati • 31 Oktober 2021 11:22
Jakarta:  Hari Sumpah Pemuda yang diperingati pada 28 Oktober setiap tahunnya menjadi momentum untuk mengingat betapa kerennya semangat pemuda Indonesia di zaman sebelum kemerdekaan tersebut.  Untuk itu, semangat tersebut perlu diadopsi oleh pemuda di era kekinian agar dapat mewujudkan Indonesia maju di usianya yang ke 100 tahun nanti.
 
Pernyataan tersebut disampaikan Chief Executive Officer (CEO) Media Group, Mirdal Akib saat menjadi narasumber OSC Talks live di akun Instagram @beasiswaosc.  Menurut Mirdal, para pemuda di 1928 tersebut sebenarnya memiliki segala potensi untuk gagal menjadikan Indonesia sebagai sebuah kesatuan, sebuah bangsa dan negara. 
 
Namun dengan semua keterbatasan tersebut, yang terjadi justru sebaliknya, para pemuda yang berasal dari seluruh Indonesia itu mampu mencetak sejarah fenomenal, mendeklarasikan butir-butir dalam Sumpah Pemuda.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Semangatnya dapat melahirkan karya yang sangat fenomenal, yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Padahal mereka memiliki seluruh potensi untuk gagal menjadi sebuah nation, tapi mereka memutarbalikkan semua itu," terangnya.
 
Namun di era kekinian, para pemuda Indonesia justru dihadapkan pada tantangan yang sebaliknya.  Para pemuda kini memiliki seluruh potensi untuk membuat Indonesia menjadi negara maju di dunia, namun sebaliknya, masih memiliki kekurangan pada semangat untuk mewujudkan hal tersebut.
 
"Semua potensi Indonesia menjadi negara maju sudah ada, yang kurang apa? kita harus mengambil semangat, endurance Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Itu yang harus kita adopsi sekarang," tegas Mirdal.
 
Ia menjabarkan, bahwa di tahun 1928, para pemuda masih sangat minim dalam bekal pendidikan.  Bahkan jumlah pemuda yang mampu baca tulis pun sangat jauh jumlahnya jika dibandingkan dengan kondisi saat ini.
 
"Di 1928 itu mungkin yang bisa membaca hanya 0,00 sekian persen saja. Namun mereka bisa membuat karya fenomenal.  Sedangkan sekarang, dengan banyaknya beasiswa bisa melahirkan banyak sarjana, para pemuda Indonesia dapat dengan mudah mengakses pendidikan hingga perguruan tinggi," kata Mirdal.
 
Setiap tahunnya, kata Mirdal, setidaknya ada 500 ribu lulusan SMA yang masuk perguruan tinggi. Dengan modal tersebut, seharusnya pemuda Indonesia dapat mengulang kembali karya-karya fenomenal lainnya yang dapat berguna bagi bangsa dan negara.
 
"Salah satunya karya untuk dapat mewujudkan Indonesia menjadi negara terkeren di dunia pada usia 100 tahun Indonesia merdeka nanti. Itu harus berani kita sebut dari sekarang," seru Mirdal.
 
Terlebih lagi pemuda pemudi yang saat ini menjadi peraih beasiswa Online Scholarship Competition (OSC).  Menurut Mirdal, para peraih beasiswa OSC inilah yang akan menjadi calon pemimpin di usia 100 tahun kemerdekaan Indonesia. 
 
Sebab saat ini, para muda-mudi yang mendaftar beasiswa OSC persis dengan kondisi di tahun 1928.  Di mana kala itu, para pemuda dari seluruh Indonesia berangkat menuju Jakarta, untuk menggelar Kongres Pemuda  kedua di tanggal 28 Oktober 1928.
 
"Bayangkan, ada 700 lebih anak muda usia 15-20 tahun berkumpul di jalan Kwitang, Kramat, Jakarta.  Mereka itu dari Aceh, Manado, Sulawesi, Jong Sumatra, Padang. Kebayang enggak anak usia itu bisa sampai Jakarta, padahal belum ada pesawat, tapi bisa kumpul di jakarta untuk lakukan kongres, menyampaikan tekad yang saat ini masih relevan. Menggelar kongres, menghasilkan sesatu yang beyond," paparnya.
 
Ia berharap, hal ini juga dapat kembali dilakukan oleh pemuda pemudi yang ikut beasiswa OSC.  "Persis kayak semangat generasi Sumpah Pemuda, mereka berasal dari seluruh daerah di Indonesia. Penerima beasiswa OSC pergi ke pusat-pusat institusi terbaik di Jawa, Bali, Sumatra, Sulawesi untuk menghidupkan, meneruskan cita-cita bangsa.  Mereka dari Papua, Sangihe Talaud, tapi IPK-nya luar biasa.  Persis seperti semangat Sumpah Pemuda yang terulang kembali dan dilakukan di OSC," terangnya.

Berikut rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Pemuda yang berbunyi :

PERTAMA.
 
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE,
TANAH INDONESIA.
 
KEDOEA.
 
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE,
BANGSA INDONESIA.
 
KETIGA.
 
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN,
BAHASA INDONESIA.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif