Kemensos Sinergikan Model Bansos
Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin (Dirjen PFM) Kemensos Andi Za Dulung (Foto:Dok)
Malang: Bantuan sosial (bansos) pangan yang disalurkan Kementerian Sosial (Kemensos) turut berkontribusi dalam menurunkan angka kemiskinan.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengalami titik terendah dalam persentase kemiskinan sejak tahun 1999, yakni sebesar 9,82 persen pada Maret 2018.

"Bansos pangan sangat berperan dalam penurunan angka kemiskinan. Apalagi bansos sudah tepat sasaran dan program pangan juga lancar," kata Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin (Dirjen PFM) Kemensos Andi Za Dulung.


Hal itu disampaikan Andi saat memimpin sekaligus membuka kegiatan Rakornis Penetapan Lokasi PFM Pesisir, PPK, dan PAN di Malang, Jawa Timur. Kegiatan tersebut berlangsung pada 31 Oktober-3 November 2018.


KPM mencairkan BPNT disaksikan oleh Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita (Foto:Dok)

Dalam arahannya di depan Perwakilan Bappeda dan Kadis Sosial Wilayah III, Andi menyampaikan Kemensos sudah melakukan OGP (Open Government Partnership) antar pemerintah pusat, daerah, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mewujudkan penetapan kebijakan yang berpihak kepada orang miskin (pro poor).

Dalam hal kuantitas bansos, telah mengalami peningkatan jumlah. Hasil penelitian yang diperoleh dari TNP2K dan Bappenas, sekitar 18 tahun silam, masyarakat hanya menerima bansos beras 5,5kg. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Balai Jogja milik Kemensos didapatkan data bahwa saat ini masyarakat menerima  beras antara 8,5 kg hingga 9 kg. "Tentunya ini menandakan suatu kinerja yang baik," kata Andi menambahkan.

 

Direktur Pesisir, PPK, dan PAN, Abdul Hayat dalam laporannya kepada Dirjen PFM Andi menjelaskan, kegiatan ini bertujuan mentransformasikan model bantuan agar Bantuan  Usaha Ekonomi Produktif (UEP), Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RSRTLH), serta Sarana Lingkungan (Sarling) bisa disinergikan untuk membangun kebersamaan dan gotong royong dalam masyarakat. 



"Dengan inovasi baru untuk mengembangkan produk-produk bantuan UEP, kelak bisa menjadi pangsa pasar tersendiri di dalam maupun luar negeri," ucap Abdul Hidayat. 

Pada akhir arahannya, Dirjen PFM Andi berharap ada dukungan dari semua pihak baik dari sisi anggaran maupun pelaksanaan, untuk menjangkau Wilayah III. "Di Wilayah III, jumlah angka kemiskinan lebih besar dan aksesnya pun lebih sulit," kata Andi.




(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id