Menatap Ambon yang Manis
Rudi Fofid, 54, seniman asal Ambon. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.
Jakarta: Ambon, Maluku, memiliki beragam rasa bagi Rudi Fofid, 54, seniman. Namun, belum banyak hal yang diangkat dari kota asalnya setelah konflik 1999.

Rudi menerangkan, selama hampir 20 tahun, Ambon masih saja dikenal sebagai lokasi peristiwa mengerikan. Pasalnya, konflik telah merenggut banyak nyawa.

"Banyak peristiwa yang terjadi di Ambon. Banyak yang mengangkat konflik, kematian, dan darah, tapi hal-hal yang menghidupkan itu tidak tertulis padahal banyak cerita baik yang bagus digali," kata Rudi ditemui Medcom.id di sela-sela acara Sarasehan Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 11 Juli 2018.


Konflik 1999 menorehkan luka yang dalam bagi dirinya. Ayahnya meninggal dalam konflik. Namun, dia tidak menaruh dendam sedikit pun kepada pihak mana pun. 

"Saya Kristen. Waktu itu masyarakat mengaku muslim datang mengatakan kepada bapak saya, 'Pergilah pergi karena laskar jihad datang akan menyerang kampung ini'. Kami disuruh mengungsi. Bapak saya bilang, 'Enggak ada dengan urusan jihad'," tutur Rudi.

Pria asli Ambon ini mengaku sudah lama melupakan konflik 1999. Cerita mengerikan soal pertikaian warga cukup dirinya simpan dalam-dalam.

"Kematian Bapak saya tidak menjadi penghalang, cukup saya kenang. Saya bahkan menjadi relawan, saya gabung dengan para relawan muslim saat itu," tambah dia.

Di sisi lain, sebagai seorang wartawan, Rudi kecewa lantaran belum banyak media nasional yang mengangkat Ambon sebagai wilayah yang patut dibanggakan di Tanah Air. Padahal, segala potensi keragaman dan sumber daya alam (SDA) dimiliki Ambon.

"Konflik kemarin hanya kecelakaan seperti kita naik kendaraan terus tiba-tiba jatuh sebentar, berdarah sedikit. Setelah itu kita jalan lagi normal lagi. Tidak masalah," kata Rudi.

Tak hanya itu, dari segi keamanan, Ambon dianggap jauh lebih baik ketimbang Jakarta. "Laporan kematian di polres tidak ada. Di Jakarta saja banyak kematian yang terjadi. Itu kekerasan manusia dengan manusia banyak yang mati karena kekerasan."

Melalui syair-syairnya, Rudi pun mengedepankan pesan jangan membiarkan manusia saling membunuh atau menutupi hati dengan kekerasan. Hidup harus saling berdampingan, penuh keragaman.

"Jangan bertikai, saya sanggup mati sendiri," kata Rudi.

Baca: Ambon Kota Musik, Ikan, dan Perdamaian

Rudi meminta publik melihat Ambon sekarang. Semua orang hidup berdampingan tanpa ada yang mengungkit luka lama.

"Saya juga memberi pelajaran sastra dengan siapa pun, dari (siswa) SD sampai mahasiswa. Mereka belajar menulis kreatif, tergabung dalam Bengkel Sastra Maluku. Ekspresif untuk memperkaya keragaman," kata Rudi.

Harmonisasi dalam masyarakat Ambon telah terwujud, segala agama saling bersatu padu dan bergotong royong menjaga perdamaian di Maluku. Rudi mengatakan Ambon kini menyambut keragaman itu dengan senyuman.

"Semua kini penuh senyuman, Ambon kini manis sekali," ungkap Rudi.



(OGI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id