Jakarta: Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menjelaskan penyebab orang berpikir radikal bahkan menjadi teroris. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi.
"Tidak hanya terpengaruh dari satu faktor saja, melainkan saling berkaitan dan saling mendukung antarfaktor," kata Kasubdit Kontra Naratif Direktorat Pencegahan Densus 88 Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana dalam diskusi virtual, Selasa, 21 Maret 2023.
Mayndra mengatakan ada faktor isu global seperti konflik Palestina dengan Israel. Kemudian isu nasional seperti intoleransi antarumat beragama serta rendahnya tingkat pendidikan.
"Kemudian isu regional seperti kasus Rohingya Myanmar dan Filipina Selatan," ujar dia.
Selain itu, ada isu kultural seperti pemahaman agama yang dangkal. Termasuk, penafsiran kitab suci yang sempit dan tekstual serta indoktrinasi ajaran agama yang salah.
"Ini semua bisa berjalan linear misalnya terpapar dari sisi pemahaman diajak tidak percaya pemerintah di media sosial," jelas Mayndra.
Biasanya, kata Mayndra, pemikir radikal menunggangi berbagai isu untuk tidak mempercayai pemerintah. Mulai dari pandemi covid-19, kasus korupsi, hingga masalah ketenagakerjaan.
"Ketika sudah terjadi (tidak percaya pemerintah), dengan mudah doktrin-doktrin dimasukkan untuk mengajak aksi konkret seperti serangan," ucap dia.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id
Jakarta: Tim Detasemen Khusus
(Densus) 88 Antiteror Polri menjelaskan penyebab orang berpikir radikal bahkan menjadi
teroris. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi.
"Tidak hanya terpengaruh dari satu faktor saja, melainkan saling berkaitan dan saling mendukung antarfaktor," kata Kasubdit Kontra Naratif Direktorat Pencegahan Densus 88 Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana dalam diskusi virtual, Selasa, 21 Maret 2023.
Mayndra mengatakan ada faktor isu global seperti konflik Palestina dengan Israel. Kemudian isu nasional seperti intoleransi antarumat beragama serta rendahnya tingkat pendidikan.
"Kemudian isu regional seperti kasus Rohingya Myanmar dan Filipina Selatan," ujar dia.
Selain itu, ada isu kultural seperti pemahaman agama yang dangkal. Termasuk, penafsiran kitab suci yang sempit dan tekstual serta indoktrinasi ajaran agama yang salah.
"Ini semua bisa berjalan linear misalnya terpapar dari sisi pemahaman diajak tidak percaya pemerintah di media sosial," jelas Mayndra.
Biasanya, kata Mayndra, pemikir
radikal menunggangi berbagai isu untuk tidak mempercayai pemerintah. Mulai dari pandemi covid-19, kasus korupsi, hingga masalah ketenagakerjaan.
"Ketika sudah terjadi (tidak percaya pemerintah), dengan mudah doktrin-doktrin dimasukkan untuk mengajak aksi konkret seperti serangan," ucap dia.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(END)