Penerjun perempuan Brigadir Yeni Dwi Hermilah. Medcom.id/Cindy Ang.
Penerjun perempuan Brigadir Yeni Dwi Hermilah. Medcom.id/Cindy Ang.

Penerjun Polwan Bangga Bisa Beraksi di Hadapan Presiden

Nasional polisi wanita
Cindy • 10 Juli 2019 17:05
Jakarta: Penerjun payung perempuan dari Korps Brimob Polri Brigadir Yeni Dwi Hermilah tampil gemilang saat aksi terjun payung pada perayaan HUT ke-73 Bhayangkara di Monumen Nasional (Monas). Selama 12 tahun menggeletui terjun payung, Yeni bangga bisa tampil di hadapan Presiden Joko Widodo.
 
Yeni terpilih berkat pengalaman terjunnya. Ia pernah menjajal kemampuan di Amerika Serikat pada 2012 dan Malaysia pada 2007. Polwan berpangkat Bripda itu pernah terjun dari ketinggian 15 ribu kaki saat berlatih di luar negeri.
 
Ia pun mengaku senang bisa beraksi di hadapan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Yeni tak terbebani meski terjun di hadapan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tapi kita bisa atasi. kalau untuk terjunnya sama saja kayak kita terjun-terjun hari biasa. Tapi ini suatu kebanggaan aja," kata Yeni usai penampilan di Silang Monas, Jakarta Pusat, Rabu, 10 Juli 2019.
 
Seleksi ketat harus dilewati sebelum tampil di hadapan pimpinan negara. Yeni bertugas membawa kertas berwarna sepanjang dua meter saat terjun dari ketinggian 7 ribu kaki.
 
Saat mendarat, kertas berwarna itu diserahkan kepada Ibu Negara Iriana Joko Widodo. Yeni juga menyerahkan bunga kepada Ibu Negara.
 
"Alhamdulilah suatu kesempatan," kata Yeni sambil tersenyum.
 
Penerjun Polwan Bangga Bisa Beraksi di Hadapan Presiden
Aksi penerjun payung saat perayaan HUT ke-73 Bhayangkara di Monumen Nasional, Rabu, 10 Juli 2019. Medcom.id/Cindy Ang.
 
Para penerjun terpilih hanya punya waktu seminggu berlatih. Mereka melakukan satu kali penerjunan setiap hari.
 
"Karena untuk kondisi pesawatnya dan kondisi tempatnya jauh, di Pondok Cabe. jadi kita naiknya dari Pondok Cabe turunnya ke sini (Monas)," kata perempuan yang berlatih terjun sejak 2007 itu.
 
Angin jadi ancaman bagi penerjun. Sesaat sebelum penerjunan, Yeni dan penerjun lainnya mendapatkan kabar angin di lokasi penerjunan cukup kencang.
 
"Kita cuma takut angin kencang dan kita enggak bisa masuk sasaran. Ini kan momen penting apalagi khusus (penerjun yang membawa) bendera, itu harus maksain masuk dan berhenti di situ," jelas Yeni.
 
Baca: 7 Resimen TNI-Polri Mengikuti HUT ke-73 Bhayangkara
 
Yeni tak takut saat beraksi. Biasanya, perempuan itu mengusir rasa takut dengan berdoa sembari mengingat teknik penerjunan.
 
"Jadi di pesawat itu enggak bengong. Kalau lompat kita harus ngapain, terus cabutnya berapa (ketinggiannya). Jadi kita selalu mengulang merefresh kegiatan yang kita lakuin," pungkas Polwan itu.

 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif