Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar. Foto: Medcom.id/Desi Angriani.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar. Foto: Medcom.id/Desi Angriani.

PVMBG Cermati Potensi Longsor Susulan Gunung Anak Krakatau

Nasional Tsunami di Selat Sunda
Desi Angriani • 26 Desember 2018 20:36
Karangasem: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencermati potensi longsor susulan dari Gunung Anak Krakatau. Tumpukan longsoran ini diyakini menjadi penyebab terjadinya tsunami di Selat Sunda.

"Kalau kita sudah bisa ke sana, kita bisa melihat yang mana yang rentan untuk kembali meluruh," ujar Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar saat ditemui di pos pengamatan Gunung Agung, Karangasem, Bali, Rabu 26 Desember 2018.

Menurut Rudy, tsunami akibat longsoran gunung api jarang terjadi sehingga pihaknya tidak memprediksi kejadian tersebut. Selain itu, pihaknya tidak memiliki alat yang dapat mendeteksi kegempaan akibat aktivitas vulkanik di lautan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



"Sepanjang untuk yang tsunami apapun penyebab ya gempa tektonik atau meteorit akan terdeteksi. Kemarin itu early warning-nya enggak jalan," ungkap dia. Baca juga: Jumlah Pengungsi Korban Tsunami Selat Sunda Membeludak

Rudy menambahkan seismograf di pulau Gunung Anak Krakatau mulai tidak berfungsi setelah letusan ketiga yakni pada Sabtu, 22 Desember 2018, pukul 21.09 WIB. Kerusakan tersebut membuat PVMBG tak lagi bisa melaporkan aktivitas vulkanik Anak Krakatau ke BMKG. Hal itu menjadi salah satu pemicu terjadi kesimpangsiuran informasi mengenai gelombang pasang atau tsunami di wilayah Selat Sunda.

"Kita sudah sampaikan ke BMKG ada letusan 21.03 WIB setelah itu seismograf rusak. Ada run up dari air laut apakah gelombang atau tsunami. Kalau gelombang tidak sebesar itu, kalau kegempaan dia tidak menangkap gempa. Ini ada efek dari Gunung Anak Krakatau, kenapa letusan sebelumnya dari Juni sampai Desember tidak kenapa-kenapa," pungkas dia.

Berdasarkan data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban jiwa akibat tsunami di Selat Sunda mencapai 429 orang. BNPB juga mencatat hingga hari ketiga pascatsunami Selat Sunda, sebanyak 1.485 orang luka-luka, 154 hilang dan 16.082 orang mengungsi akibat tsunami.

Tsunami tersebut berdampak pada lima kabupaten yaitu Pandeglang dan Serang di Provinsi Banten, serta Kabupaten Lampung Selatan, Pesawaran dan Tanggamus di Provinsi Lampung.


(HUS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi