Rutilahu, Bantu Masyarakat Tak Mampu Miliki Hunian Layak

Anggi Tondi Martaon 29 November 2018 20:25 WIB
Berita Kemensos
Rutilahu, Bantu Masyarakat Tak Mampu Miliki Hunian Layak
Sururi mendapatkan bantuan Rutilahu dari Kementerian Sosial (Foto:Medcom.id/Anggi Tondi Martaon)
Magelang: Memiliki hunian yang layak merupakan impian banyak orang. Namun, tak banyak yang beruntung mewujudkannya.

Salah satu orang yang mengalaminya adalah Sururi. Pria berusia 70 tahun itu tinggal di Dusun Giringan, Desa Situagung, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Rumahnya jauh dari kata layak.

"Genteng sudah bocor. Dinding sudah bolong-bolong, hampir roboh. Lantai pun tanah," kata Sururi yang akrab disapa Mbah Ruri, kepada Medcom.id, Kamis, 29 November 2018.


Mbah Ruri menceritakan, di rumah yang berukuran 6x4 meter itu dihuni bersama istri sambil mengasuh kedua cucu mereka. Putra Mbah Ruri sudah lama meninggal dan istrinya pun merantau ke Jakarta.

Meski kondisi rumahnya masuk dalam kategori tidak layak, Mbah Ruri bersama keluarganya tetap tinggal di bangunan tersebut. Pasangan tersebut tersebut tetap bertahan di rumah tersebut dengan cucu mereka.

Maklum, pekerjaan Mbah Ruri sebagai petani belum mampu memperbaiki kondisi huniannya. Rezeki yang didapat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain bertani, Mbah Ruri juga rutin mengikuti pengajian yang digelar di kampungnya. Bahkan, dia dianggap sebagai Abdi Dalem kelompok pengajian tersebut. Loyalitas yang ditunjukkan oleh Mbah Ruri membuat jemaah dari kelompok pengajian tersebut bersimpati. Salah satunya dengan mengupayakan memperbaiki rumah Mbah Ruri.

Aji Andi Asmoro, salah satu anggota kelompok pengajian, menceritakan, dia bersama jemaah lainnya tergerak mencari bantuan untuk memperbaiki rumah Mbah Ruri. Mereka aktif mencari berbagai informasi yang bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki rumah Mbah Ruri.

Pada 2015, Aji menceritakan kondisi Mbah Ruri kepada salah satu anggota DPR RI. Mereka disarankan untuk mengajukan proposal kepada Dinas Sosial Kabupaten Magelang.

"Kami berinisiatif melalui aspirasi anggota DPR RI di Komisi VIII yang bekerja sama dengan Kementerian Sosial (Kemensos) RI untuk mengajukan proposal Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni)," kata Aji.

Aji bersyukur proposal yang mereka ajukan diterima oleh Kemensos. Kemensos pun langsung memverifikasi kondisi rumah Mbah Ruri dan dinyatakan layak mendapatkan bantuan.

 
Sururi alias Mbah Ruri bersama istri (Foto:Medcom.id/Anggi Tondi Martaon)

Pada saat itu, Mbah Ruri mendapatkan bantuan Rutilahu berupa uang Rp10 juta. Bantuan itu hanya disyaratkan untuk membeli bahan bangunan. Tidak boleh untuk membayar tukang atau keperluan lain.

"Akhirnya, kami bersama warga sekitar bergotong-royong membangun rumah Mbah Ruri. Tidak hanya itu, ada juga masyarakat yang membantu menambah bahan material bangunan untuk pembangunan rumah Mbah Ruri," kata Aji.

Mbah Ruri bersyukur, perhatian dari pemerintah dan masyarakat sekitar membuat rumahnya tidak lagi seperti dulu. Kondisi rumah Mbah Ruri jauh lebih baik.

Tidak hanya itu, semangat memperbaiki kesejahteraan juga muncul dalam diri Mbah Ruri. Dia memanfaatkan halaman rumahnya untuk membuka usaha peternakan ikan lele dan percetakan batu bata tempel.

Usaha tersebut dijalankan oleh cucu pertama Mbah Ruri yang kebetulan sudah tamat SMA. Dengan bermodalkan satu unit mesin cetak, Mbah Ruri mampu memasok permintaan di berbagai daerah, seperti Tangerang dan Bali.

"Saya saja terkejut Mbah Ruri buka usaha batu bata. Dahulu, ini (sambil menunjuk batu bata tempel yang dijemur) belum ada. Alhamdulillah," ucap Aji.


Mbah Ruri menjalankan usaha batu bata dengan bermodalkan satu unit mesin cetak (Foto:Medcom.id/Anggi Tondi Martaon)

Selain itu, Aji yang juga pendamping Kube dan Rutilahu di Kabupaten Magelang itu menyebutkan, bantuan serupa juga diperoleh bagi warga lainnya. Semenjak 2015, sudah puluhan rumah tidak layak huni mendapatkan bantuan Rutilahu.

Rinciannya, tahun 2015 Kabupaten Magelang mendapatkan 20 rumah. Tahun 2016 sebanyak 50 rumah. Untuk 2017, rumah yang mendapatkan program Rutilahu 20 unit rumah.

"Pada 2018, kami mendapatkan InsyaAllah bulan Desember sebanyak 40 unit rumah. Untuk bantuan per unit sebanyak Rp15 juta dari Kemensos," kata Aji.


Mengenal Program Rutilahu

Sekretaris Direktorat Jenderal Penanganan Fakir Miskin Kementerian Sosial M.O Royani menjelaskan, bantuan yang didapat oleh Mbah Ruri merupakan bentuk dari program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Program tersebut membantu masyarakat untuk memperbaiki hunian yang masuk kategori tidak layak.


Sekretaris Direktorat Jenderal Penanganan Fakir Miskin Kementerian Sosial M.O Royani (Foto:Dok) 

"Artinya, dari sisi kesehatan tidak layak huni ditinggali, atapnya kurang bagus, lantainya tidak bagus, dan luasnya kurang dari 7,2 meter per segi untuk satu orang. Dan itu pasti tidak mendukung pada kesehatan dan kesejahteraan yang bersangkutan," kata pria yang akrab disapa Oni itu.

Oni menyebutkan, implementasi Rutilahu dilaksanakan pada empat wilayah, yaitu  pedesaan, pesisir, pulau-pulau kecil, dan perbatasan antar negara. Sedangkan untuk perkotaan dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Namun, Oni mengakui alokasi Rutilahu masih terbatas. Pada tahun 2018 ini, kuota Rutilahu hanya untuk 10.400 unit rumah.

"Artinya, hanya 10.400 keluarga yang bisa dibantu. Tahun 2019 memang ada peningkatan, tapi tidak banyak yaitu 14 ribu. Dan itu masih jauh dibandingkan kebutuhan. Implementasinya bagus, tapi dari sisi alokasi masih kurang," katanya.

Saat ditanya apa saja syarat yang harus dipenuhi calon penerima Rutilahu, Oni menjawab, tidak sulit. Calon penerima tercantum dalam basis data terpadu program penanganan fakir miskin.

"Kemudian, rumah yang direhabilitasi tersebut harus berdiri di atas lahan yang bersangkutan," katanya.

Khusus syarat kedua, Oni menyebutkan alasan Kemensos menerapkan kebijakan itu untuk menghindari masalah. Dia tak ingin, rumah tersebt nantinya diklaim oleh pemilik tanah setelah direnovasi. "Maka yang punya lahan mengambil alih," kata Oni.

Oni berharap, implementasi Rutilahu semakin banyak. Sebab, selain membantu kaum tidak mampu dalam memeroleh hunian layak, Kemensos ingin rumah tersebut menjadi aset untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Salah satunya, membuka usaha kecil-kecilan.

"Sehingga bantuan Rutilahu sebesar Rp15 juta itu, selain memperbaiki rumah juga menyiapkan tempat usaha. Salah satu contohnya adalah e-Warung KUBE PKH. Jadi kita membantu perbaikan rumah di mana rumah tersebut bisa membantu melayani program BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai)," ujar dia.



(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id