Jakarta: Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana memprediksi Rusia bakal terus-terusan menginvasi Ukraina. Tidak ada jalan mundur bagi pasukan dari Negara Beruang Merah.
"Ini point of no return, ibarat pesawat terbang, kalau sudah sampai titik tertentu tidak mungkin kembali ke bandara asal," kata Hikmahanto dalam diskusi virtual Crosscheck Medcom.id bertajuk ‘Menguak yang Cuan di Balik Setahun Perang Rusia-Ukraina,’ Minggu, 19 Februari 2023.
Hikmahanto mengungkapkan sejumlah alasan Rusia bakal gaspol. Pertama, pemimpin Rusia bisa berurusan dengan hukum internasional bila perang namun Ukraina tidak kalah.
"Mereka akan terseret ke pengadilan kejahatan internasional apakah dibentuk secara ad hoc atau permanen," jelas dia.
Hikmahanto menyebut biasanya negara yang kalah akan dibawa ke lembaga internasional. Misalnya saat Jepang dan Jerman kalah perang.
"Bahkan ketika Timor Timur lepas, kita tahu petinggi militer kita dibawa ke pengadilan HAM (hak asasi manusia)," papar dia.
Alasan kedua, yakni Rusia akan terpukul lantaran tidak hanya kalah melawan Ukraina. Melainkan melawan Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang disebut sebagai penyokong senjata bagi Ukraina.
"Kalau hanya melawan Ukraina, mungkin sudah selesai. Tapi karena NATO terutama Amerika yang memberi bahan bakar untuk melawan Rusia, berarti ini melawan Amerika," ujar Hikmahanto.
Hikmahanto menuturkan alasan ketiga ialah kegagalan Rusia akan menjadi sejarah. Citra Rusia di mata dunia bakal tercoreng dan tercatat pernah kalah melawan Ukraina.
"Sementara itu bagi Ukraina ini juga point of no return dengan tidak mau menyerah. Walau senjata dan uang kalah, tapi mereka terus minta dibantu negara lain," tutur dia.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id
Jakarta: Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana memprediksi
Rusia bakal terus-terusan menginvasi Ukraina. Tidak ada jalan mundur bagi pasukan dari Negara Beruang Merah.
"Ini
point of no return, ibarat pesawat terbang, kalau sudah sampai titik tertentu tidak mungkin kembali ke bandara asal," kata Hikmahanto dalam diskusi virtual
Crosscheck Medcom.id bertajuk ‘Menguak yang Cuan di Balik Setahun Perang Rusia-Ukraina,’ Minggu, 19 Februari 2023.
Hikmahanto mengungkapkan sejumlah alasan Rusia bakal gaspol. Pertama, pemimpin Rusia bisa berurusan dengan hukum internasional bila perang namun Ukraina tidak kalah.
"Mereka akan terseret ke pengadilan kejahatan internasional apakah dibentuk secara ad hoc atau permanen," jelas dia.
Hikmahanto menyebut biasanya negara yang kalah akan dibawa ke lembaga internasional. Misalnya saat Jepang dan Jerman kalah perang.
"Bahkan ketika Timor Timur lepas, kita tahu petinggi militer kita dibawa ke pengadilan HAM (hak asasi manusia)," papar dia.
Alasan kedua, yakni Rusia akan terpukul lantaran tidak hanya kalah melawan Ukraina. Melainkan melawan Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang disebut sebagai penyokong senjata bagi
Ukraina.
"Kalau hanya melawan Ukraina, mungkin sudah selesai. Tapi karena NATO terutama Amerika yang memberi bahan bakar untuk melawan Rusia, berarti ini melawan Amerika," ujar Hikmahanto.
Hikmahanto menuturkan alasan ketiga ialah kegagalan Rusia akan menjadi sejarah. Citra Rusia di mata dunia bakal tercoreng dan tercatat pernah kalah melawan Ukraina.
"Sementara itu bagi Ukraina ini juga point of no return dengan tidak mau menyerah. Walau senjata dan uang kalah, tapi mereka terus minta dibantu negara lain," tutur dia.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(AGA)