Diskusi Perempuan dan Gerakan Sosial di Indonesia--Foto: kanan-kiri  Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin, Peneliti Iswanti, Peneliti Inkrispena Ruth Indiah Rahayu, Peneliti Ecosoc Institute Sri Palupi
Diskusi Perempuan dan Gerakan Sosial di Indonesia--Foto: kanan-kiri Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin, Peneliti Iswanti, Peneliti Inkrispena Ruth Indiah Rahayu, Peneliti Ecosoc Institute Sri Palupi

People Power Tak Hanya Massa yang Berkumpul

Nasional kasus makar
Muhammad Syahrul Ramadhan • 16 Mei 2019 16:06
Jakarta: Komisi Nasional Anti Kekerasan Perempuan (Komnas Perempuan) menggelar diskusi Perempuan dan Gerakan Sosial di Indonesia. Komisioner-Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat Mariana Amiruddin mengatakan gerakan sosial sejak sebelum reformasi hingga kini tidak lepas gerakan perempuan.
 
Hal tersebut disampaikan Mariana dalam pengantar diskusi perempuan dan gerakan sosial di Indonesia. Ia mengatakan apa yang disebut people power pada masa itu tidak hanya narasi menggambarkan tentang massa yang berkumpul melainkan masyarakat baik kelompok, individu, aktivis, ikut mengambil peran. Kelompok perempuan waktu itu menjadi bagian penting dalam gagasan besar tentang people power.
 
"Baik dalam hal menyuarakan kepentingan perempuan dalam krisis ekonomi dan politik maupun dalam gagasan tentang reformasi yang penting untuk melibatkan perempuan," kata Mariana di Gedung Juang 45, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Mei 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain Suara Ibu Peduli, ujar Mariana, sebenarnya terdapat gerakan-gerakan yang luput diliput media. Diantaranya pembentukan women crisis di berbagai daerah, terutama sejak pembentukan Tim Relawan untuk Kemanusiaan juga diperankan oleh para perempuan.
 
"Termasuk dalam Tim Gabungan Pencarian Fakta dalam tiga tragedi bangsa pada waktu itu yaitu kerusuhan Mei 98 penculikan dan penghilangan paksa serta penembakan mahasiswa trisakti di semanggi," terangnya.
 
Baca: Seruan People Power Dinilai Tak Cukup Membuktikan Makar
 
Mariana mengatakan diskusi ini salah satu upaya untuk mengintegrasikan narasi perempuan di dalam narasi sosial maupun kebangsaan. Komnas perempuan terpanggil mengadakan diskusi para aktivis perempuan, tentang peta gerakan masyarakat sipil yang didalamnya terdapat gerakan perempuan, dalam kerangka HAM dan demokrasi serta masyarakat sipil sepanjang 20 tahun reformasi.
 
"Serta masalah apa saja yang kita hadapi dalam rentang dua dasawarsa tersebut. Tidak jarang di dalamnya kita akan menemukan masalah kekerasan terhadap perempuan, yang tumpang tindih dalam situasi politik dan ekonomi," tambahnya.
 
Mariana menekankan masalah-masalah tersebut perlu dipetakan guna menjawab masalah-masalah di masa mendatang. Untuk memberikan kontribusi positif bagi bangsa, siapapun kepemimpinannnya.
 
Dalam diskusi ini hadir tiga peneliti, aktivis sekaligus penulis. Yakni Ruth Indiah Rahayu Peneliti Inkrispena, Sri Palupi Peneliti Ecosoc Institute dan Iswanti peneliti.
 
"Diskusi ini akan membawa "mau kemana gerakan sosial kita?" dan sejumlah refleksi-refleksi yang perlu kita bagi dalam rangka peringatan Mei 98 Tahun ini," ujarnya.
 
Mariana mengungkapkan hasil diskusi ini merupakan awal dari rencana penerbitan buku "Pemetaan gerakan masyarakat sipil dan peran Komnas Perempuan", yang diluncurkan sebagai dokumen penting Komnas Perempuan di tahun 2019.
 
"Untuk menentukan sikap secara jernih kepada pemerintahan apapun dan siapapun yang akan memimpin bangsa yang kita cintai," pungkasnya.
 

(YDH)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif