Pengamat Politik Unpar Bandung, Agustinus Pohan. Foto: Mohammad Irfan/MI
Pengamat Politik Unpar Bandung, Agustinus Pohan. Foto: Mohammad Irfan/MI

Seruan People Power Dinilai Tak Cukup Membuktikan Makar

Nasional kasus makar
Arga sumantri • 16 Mei 2019 15:21
Jakarta: Pakar hukum pidana Universitas Parahiyangan Bandung Agustinus Pohan menilai seruan people power tak cukup menjadi bukti penerapan pasal makar. Polisi harus memiliki bukti lain yang mendukung penerapan pasal tersebut.
 
"Saya tidak tahu polisi punya bukti lain apa. Tapi kalau buktinya hanya seruan, ya enggak bisa (dijerat makar)," kata Agustinus kepada Medcom.id, Kamis, 16 Mei 2019.
 
Ia menjelaskan makar adalah serupa dengan percobaan menggulingkan pemerintahan. Harus ada bukti permulaan pelaksanaan yang cukup untuk membuktikan adanya makar itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sama dengan kalau kita melakukan percobaan kejahatan juga syaratnya harus ada permulaan pelaksanaan," terangnya.
 
Agustinus mengatakan definisi permulaan pelaksanaan ini juga masih menjadi perdebatan. Sebab, ada juga istilah perbuatan persiapan dalam hukum pidana.
 
Secara keilmuwan ada perbedaan antara istilah perbuatan persiapan dan permulaan pelaksanaan. Kalau hanya ditemukan unsur hukum perbuatan persiapan, tidak bisa dijerat makar.
 
"Memang permulaan pelaksanaan itu bisa multitafsir, tergantung teori yang dianut," jelasnya.
 
Agustinus menafsirkan unsur makar adalah serangkaian perbuatan yang terarah langsung dalam menggulingkan pemerintahan. Seruan tidak bisa menjadi satu-satunya bukti tuduhan makar. Harus ada serangkaian perbuatan pendukung lainnya. Misalnya, adanya sejumlah pertemuan dan perencanaan yang mengarah kepada upaya menggulingkan pemerintahan.
 
"Tidak mungkin menggulingkan pemerintahan itu oleh satu orang. Jadi ada kekuatan yang bersepakat. Misalnya, sudah ada pembicaraan. Salah satu wujudnya adalah seruan," ungkapnya.
 
Belakangan, polisi mengusut kasus dugaan makar yang dilakukan sejumlah orang. Teranyar, Eggi Sudjana menjadi tersangka makar akibat seruan people power.
 
Eggi ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan makar pada Selasa, 7 Mei 2019. Penyidik menemukan sejumlah alat bukti yang cukup untuk Eggi, di antaranya video Eggi yang menyuarakan people power dan bukti pemberitaan di media daring.
 
Penyidik juga sudah memeriksa enam saksi dan empat ahli. Keterangan tersebut kemudian dicocokkan dengan barang bukti dan dokumen yang telah disita.
 
Pada Selasa, 14 Mei 2019 pukul 23.00 WIB, penyidik menahan Eggi. Ia dimasukkan ke ruang tahanan Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Dit Tahti) Polda Metro Jaya. Ia ditahan untuk 20 hari ke depan.
 
Eggi juga sedang mengajukan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
 
Eggi disangka melanggar Pasal 107 KUHP dan atau 110 KUHP juncto Pasal 87 KUHP dan atau Pasal 14 ayat 1 dan ayat 2 dan atau Pasal 15 Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana. Dia terancam penjara seumur hidup.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif