Pemerintah Genjot Indeks Pembangunan Pemuda
Sekretaris Deputi 1 Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora, Esa Sukmawijaya (batik hitam). Foto: ist
Jakarta: Kementerian Pemuda dan Olahraga menggenjot  Indeks Pembangunan Pemuda (IPP). Sebab, IPP di sejumlah daerah masih rendah.
 
Sekretaris Deputi 1 Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora, Esa Sukmawijaya mengatakan, perlu sinkronisasi antara kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
 
“Perlu dilahirkan beragam program untuk mendorong produktivitas para pemuda, utamanya  di daerah,” kata Esa, dalam keterangan tertulisnya, Senin, 3 Desember 2018.
 
Esa mengatakan, pihaknya sudah melakukan beragam diskusi di sejumlah daerah terkait IPP. Terkini, pihaknya melakukan sosialisasi bersama Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Bengkulu. Seperti Dispora Bengkulu, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Prov Bengkulu, Dispora Kota Bengkulu, Dispora Kab Benteng, dan alumni kegiatan Kemenpora.
 
“Kita diskusi santai untuk menemukan beragam program/kegiatan kepemudaan pada tingkat nasional dan daerah. Ini sebagai ajang sosialisasi sekaligus menginventarisir kegiatan-kegiatan yang relevan dengan 15  isu strategis kepemudaan. Tentu program yang diusung merujuk pada konsep Indeks Pembangunan Pemuda,” kata Esa.

Baca: Pembangunan Pemuda Harus Lebih Diperhatikan
 
Dia mengungkapkan, IPP menjadi tolak ukur pembangunan kepemudaan harus ditingkatkan pemerintah.
 
IPP 2015 dan 2016 berisi 15 indikator pembangunan kepemudaan yang dituangkan dalam lima bidang. Yakni pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, kesempatan dan lapangan kerja, kepemimpinan dan partisipasi, serta gender dan diskriminasi.
 
Kabid Pemberdayaan Pemuda Provinsi Bengkulu Wardaniar mengatakan, banyak program daerah yang bisa disinkronkan dengan kebijakan pemerintah pusat.
 
“Pertemuan seperti akan membukan konsep kepemudaan yang akan dilakukan ke depan dan bagaimana daerah merespons. Biar nyambung,” kata Wardaniar.
 
Sementara itu, Dispora Kota Bengkulu Rusli mengaku tak ingin banyak teori, dirinya lebih suka langsung pada permasalahan dan mengatasinya secara konkret.
 
"Contohnya isu pengangguran pemuda. Itu kan karena kekurangan lapangan pekerjaan. Padahal di sisi lain pemuda kita sudah banyak yang kuliah. Di Bengkulu ini, pemerintah harusnya fokus membuka pabrik, misalnya untuk mengolah produk dari karet dan sawit,” ujarnya.
 
Kiki, alumni kegiatan Kirab Pemuda 2017 berharap kegiatan yang digelar nantinya menginpirasi banyak pemuda. "Saya ikut program kirab tahun lalu, menginspirasi saya untuk berhenti dari pekerjaan dan buka usaha sendiri walau kecil-kecilan,” kata Kiki.
 
Sementara itu, alumni kegiatan Pertukaran Pemuda Indonesia Australia, Desi, berharap usai ikut kegiatan ada tindaklanjutnya.
 
"Kami yang berhimpun di bawah organisasi Purna Caraka Muda Indonesia, punya social project di Bengkulu, di bidang pendidikan,” katanya.



(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id