Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar di Trondheim, Norwegia, Selasa, 2 Juli 2019. Humas KLHK.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar di Trondheim, Norwegia, Selasa, 2 Juli 2019. Humas KLHK.

Menteri Siti Pamer Program Keanekaragaman Hayati di Norwegia

Nasional binatang langka/hewan langka
Dheri Agriesta • 03 Juli 2019 15:30
Trondheim: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menjadi pembicara kunci dalam Konferensi Biodiversity di Trondheim, Norwegia. Siti memamerkan rencana pemerintah dalam menjaga keanekaragaman hayati.
 
“Kami telah merancang Rencana Aksi Strategis Keanekaragaman Hayati Indonesia 2015-2022 dengan tiga tujuan utama, memperkuat pengamanan keanekaragaman hayati, memanfatkan secara lestari keanekaragaman hayati untuk kesejahteraan rakyat, dan mengelola keanekaragaman hayati secara bertanggung jawab dan berkelanjutan untuk kehidupan masyarakat,” kata Siti pada pembukaan konferensi di Trondheim, Norwegia, Selasa, 2 Juli 2019.
 
Indonesia merancang sejumlah rencana aksi strategis nasional melindungi sejumlah spesies langka seperti harimau sumatra, badak sumatra, orangutan, gajah, dan burung rangkong. Kebijakan itu membuat populasi sejumlah spesies terancam punah naik di 273 titik pemantauan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Siti mencontohkan populasi Jalak Bali yang meningkat menjadi 191 ekor pada 2019. Pada 2015, populasi burung itu hanya 31 ekor di Bali Barat. Kenaikan populasi juga terjadi untuk harimau sumatra di Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh; Kerinci Sebelat, Jambi; Berbak Sembilang, Sumatera Selatan; dan Bukit Barisan Selatan, Lampung. Upaya konservasi berhasil menaikkan populasi harimau sumatra dari 0,07 ekor per hektare pada 2013 menjadi 1,24 ekor per hektare pada 2018.
 
Untuk mengoptimalkan potensi keanekaragaman hayati secara berkelanjutan dalam menyokong ketahan pangan dan kesehatan, Indonesia mengembangkan bioprospeksi. Sebagai contoh, karang spons Candidaspongia sp. yang merupakan endemik di Teluk Kupang yang diidentifikasi sebagai antikanker.
 
Baca: Indonesia-Norwegia Perpanjang Kerja Sama Perubahan Iklim
 
“Pemanfaatan berkelanjutan untuk bioprospeksi di tingkat industri dirancang dan diimplementasikan yang melibatkan perusahaan swasta dan milik negara dengan prinsip-prinsip akses dan pembagian manfaat di bawah Protokol Nagoya,” kata Menteri Siti.
 
Indonesia juga memiliki lebih dari 51 juta hektare kawasan perlindungan, setara lebih dari 38 persen luas daratan. Luas ini melebihi target yang ditetapkan Konvesi Keanekaragaman Hayati atau Aichi Target sebesar 17 persen.
 
Wilayah konservasi perairan Indonesia memiliki luas sekitar 20 juta hektare pada 2018. Luas wilayah itu melebihi target yang dipasang pemerintah.
 
Berdasarkan laporan Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) sekitar satu juta spesies terancam punah dalam hitungan beberapa dekade. Laporan itu juga menyebut tingkat kepunahan spesies secara global puluhan kali lebih tinggi dibanding 10 tahun terakhir.
 
Situasi itu terjadi karena faktor-faktor terkait perubahan penggunaan lahan dan laut, polusi dan perubahan iklim. Laporan IPBES juga menekankan bahwa keanekaragaman hayati sejatinya lebih luas dari sekadar persoalan lingkungan.
 
Keanekaragaman hayati juga memiliki nilai ekonomi yang harus diperhitungkan dalam neraca keuangan. Keanekaragaman juga menyediakan dukungan pembangunan seperti pangan, air, energi, ketahanan, dan kesehatan.

 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif