medcom.id, Jakarta: Maraknya aksi terorisme akhir-akhir ini menunjukan paham radikal masih berkembang pesat di Indonesia. Masjid sekali pun tak luput dari paparan ideologi tersebut. Peneliti BNPT, Mas'ud Halimin menyebut bahwa masjid merupakan tempat yang paling rawan terpapar ideologi radikal.
"Penilaian dari The Nusa Institute dan BNPT mengungkap masjid merupakan institusi yang paring rawan terpapar radikalisme, nilainya 15,4 persen," ujar Mas'ud saat menjadi pembicara di acara Dialog Kebangsaan: Peran Takmir Masjid dalam Menangkal Radikalisme di Kantor Walikota Jakarta Timur, Rabu 14 Juni 2017.
(Baca: Menag Mengakui Masih Ada Ceramah Ujaran Kebencian di Rumah Ibadah)
Mas'ud menjelaskan, takmir masjid juga merupakan pihak yang paling rawan terpapar. Ia merinci 45 persen takmir di Jakarta setuju berdirinya negara Islam, 26 persen setuju tindakan jihad melawan non muslim, 32 persen setuju berdirinya khilafah, dan 14 persen setuju memerangi pemerintah yang tidak berlandaskan syariah.
Mas'ud menilai, kurangnya edukasi menjadi salah satu penyebab rawannya takmir masjid terpapar ideologi radikal. Untuk itu ia mengimbau kepada semua pihak untuk memberikan edukasi kepada para takmir masjid bagaimana mengelola dan mengorganisir kepengurusan masjid.
"Kita harus bisa menanamkan ideologi moderat kepada para takmir. Jangan mengklaim orang lain, sementara kita mendapat petunjuk. Jangan ambil alih peran tuhan untuk mengkafirkan orang lain," tegas Mas'ud.
(Baca: 60 Persen Khatib Jumat di Jakarta Syiarkan Ujaran Kebencian)
Lembaga Takmir Masjid NU cabang Jakarta Timur hari ini menggelar diskusi kebangsaan mengenai peran takmir masjid untuk menangkal radikalisme. Melalui kegiatan tersebut, organisasi yang dipimpin oleh R. Hj. M Syahrul tersebut berencana menggalakkan program pelatihan dan edukasi untuk para takmir agar mampu menangkal ideologi radikal.
medcom.id, Jakarta: Maraknya aksi terorisme akhir-akhir ini menunjukan paham radikal masih berkembang pesat di Indonesia. Masjid sekali pun tak luput dari paparan ideologi tersebut. Peneliti BNPT, Mas'ud Halimin menyebut bahwa masjid merupakan tempat yang paling rawan terpapar ideologi radikal.
"Penilaian dari The Nusa Institute dan BNPT mengungkap masjid merupakan institusi yang paring rawan terpapar radikalisme, nilainya 15,4 persen," ujar Mas'ud saat menjadi pembicara di acara Dialog Kebangsaan: Peran Takmir Masjid dalam Menangkal Radikalisme di Kantor Walikota Jakarta Timur, Rabu 14 Juni 2017.
(Baca:
Menag Mengakui Masih Ada Ceramah Ujaran Kebencian di Rumah Ibadah)
Mas'ud menjelaskan, takmir masjid juga merupakan pihak yang paling rawan terpapar. Ia merinci 45 persen takmir di Jakarta setuju berdirinya negara Islam, 26 persen setuju tindakan jihad melawan non muslim, 32 persen setuju berdirinya khilafah, dan 14 persen setuju memerangi pemerintah yang tidak berlandaskan syariah.
Mas'ud menilai, kurangnya edukasi menjadi salah satu penyebab rawannya takmir masjid terpapar ideologi radikal. Untuk itu ia mengimbau kepada semua pihak untuk memberikan edukasi kepada para takmir masjid bagaimana mengelola dan mengorganisir kepengurusan masjid.
"Kita harus bisa menanamkan ideologi moderat kepada para takmir. Jangan mengklaim orang lain, sementara kita mendapat petunjuk. Jangan ambil alih peran tuhan untuk mengkafirkan orang lain," tegas Mas'ud.
(Baca:
60 Persen Khatib Jumat di Jakarta Syiarkan Ujaran Kebencian)
Lembaga Takmir Masjid NU cabang Jakarta Timur hari ini menggelar diskusi kebangsaan mengenai peran takmir masjid untuk menangkal radikalisme. Melalui kegiatan tersebut, organisasi yang dipimpin oleh R. Hj. M Syahrul tersebut berencana menggalakkan program pelatihan dan edukasi untuk para takmir agar mampu menangkal ideologi radikal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(HUS)