Sembilan orang Penerima Beasiswa Australia Awards asal Indonesia beserta Profesor Juliana Sutanto, Profesor Chris Bain, Dr. Caddie Gao, dan anggota DFAT. (ist.)
Sembilan orang Penerima Beasiswa Australia Awards asal Indonesia beserta Profesor Juliana Sutanto, Profesor Chris Bain, Dr. Caddie Gao, dan anggota DFAT. (ist.)

Monash University mendukung inovasi kesehatan digital berkelanjutan di Indonesia

Fatha Annisa • 17 Maret 2026 15:30
Ringkasnya gini..
  • Monash University dan pemimpin kesehatan Indonesia mengembangkan perangkat digital, VDHIC, untuk mendukung reformasi sistem kesehatan berbasis nilai.
  • Program ini didukung Australia Awards Fellowships dan bertujuan memperkuat inovasi serta kepemimpinan di sektor kesehatan.
  • VDHIC dirancang untuk menjawab tantangan sistem kesehatan Indonesia dan menjadi panduan layanan.
Jakarta: Monash University bersama para pemimpin kesehatan Indonesia mengembangkan perangkat inovasi kesehatan digital untuk mendukung reformasi sistem kesehatan berbasis nilai di Indonesia.
 
Perangkat bernama Value-Based Digital Health Innovation Canvas (VDHIC) ini dikembangkan oleh sembilan penerima fellowship Indonesia dengan bimbingan peneliti Monash University serta dukungan pendanaan dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Pemerintah Australia melalui program Australia Awards Fellowships.
 
Program Australia Awards sendiri merupakan inisiatif internasional untuk memperkuat kemitraan dan kapasitas kepemimpinan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Program ini menargetkan pejabat senior serta pekerja profesional tingkat menengah yang memiliki posisi strategis untuk mendorong hasil pembangunan di bidang-bidang prioritas.
 
Baca juga: Program Double Degree Monash University Indonesia dan PLN Sabet Victorian International Education Awards 2025

 
Sementara itu, VDHIC dirancang untuk menjawab tantangan sistem kesehatan dan regulasi yang kompleks, sekaligus selaras dengan platform nasional seperti SATUSEHAT dan kebijakan kesehatan digital.
 
Perangkat ini menjadi panduan bagi rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan dengan fokus pada lima aspek utama, yaitu kesehatan populasi, pengalaman pasien, efisiensi biaya, kepuasan tenaga medis, dan kesetaraan layanan.
 
Selain itu, VDHIC mengintegrasikan aspek regulasi, klinis, data, dan teknologi agar inovasi kesehatan digital dapat berjalan aman dan terukur.
 
Sebagai pemimpin kolaborasi, Profesor Juliana Sutanto, peneliti sistem informasi dari Fakultas Teknologi Informasi Monash University, mengatakan bahwa VDHIC mendorong perubahan dari pelaporan berbasis kepatuhan menuju kesehatan digital yang menghasilkan dampak nyata.
 
Baca juga: Dedikasi di Pendidikan dan Penelitian, Monash University Beri Penghargaan untuk Filda Citra Yusgiantoro

 
“VDHIC membantu organisasi kesehatan, inovator, dan pembuat kebijakan di Indonesia untuk melampaui sistem kewajiban pelaporan data atau digitalisasi, menuju kesehatan digital berbasis nilai, di mana teknologi dan data menghadirkan manfaat nyata bagi pasien, tenaga medis, dan sistem kesehatan,” ujar Profesor Sutanto.
 
“Perangkat ini juga menghadirkan kerangka acuan bersama yang menjembatani tujuan kebijakan, praktik klinis, dan implementasi teknis,” tambahnya.
 
Dikembangkan melalui Australia Awards Fellowships, perangkat ini menawarkan kerangka kerja bertahap untuk mendorong inovasi kesehatan digital yang berdampak nyata, termasuk dengan fokus pada wilayah Indonesia Timur.
 
Arthur Mawuntu, seorang neurologis asal Sulawesi Utara sekaligus penerima Australia Awards Fellowship, mengatakan bahwa kolaborasi ini membantu memastikan reformasi kesehatan digital nasional Indonesia mencerminkan kondisi dan kebutuhan di berbagai daerah.
 
“Bagi tenaga medis di Indonesia Timur, kesehatan digital harus mampu mengurangi beban dan meningkatkan mutu layanan bukan menambah kerumitan,” kata Dr. Mawuntu.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>