Warga mengamati truk pengangkut pasir yang tertimbun abu Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Minggu (5/12/2021). (ANTARA FOTO/Zabur Karuru/pras)
Warga mengamati truk pengangkut pasir yang tertimbun abu Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Minggu (5/12/2021). (ANTARA FOTO/Zabur Karuru/pras)

Ternyata Bukan Erupsi, Ini Fenomena yang Membuat Gunung Semeru Muntahkan Material

Nasional bencana bencana alam Erupsi Gunung gunung semeru Gunung Semeru Meletus Gunung Semeru Erupsi
Cindy • 05 Desember 2021 17:36
Jakarta: Gunung Semeru mengeluarkan awan panas guguran (APG) pada Sabtu, 4 November 2021. Ratusan jiwa terdampak akibat peristiwa yang terjadi sekitar pukul 15.20 WIB itu. 
 
Data Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB) hingga pagi tadi, total sebanyak 13 orang meninggal dunia dan 41 orang mengalami luka bakar. Sebanyak 902 warga juga terpaksa mengungsi. Mereka tersebar di Kecamatan Pronojiwo, Kecamatan Candipuro, dan Kecamatan Pasirian, Jawa Timur. 
 
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur meluruskan peristiwa ini bukan erupsi, melainkan awan panas guguran. Lantas apa saja material yang keluar dari APG Gunung Semeru? Berikut penjelasan selengkapnya. 

Material yang keluar dari Gunung Semeru

Letusan gunung Semeru pada 2004. Wikipedia M Rietze
Letusan gunung Semeru pada 2004. Wikipedia/M Rietze.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kasi Kedaruratan BPBD Jatim, Satrio Nurseno, menyebut kejadian ini lebih tepat dinamakan sebagai APG, bukan erupsi. Hal ini terlihat dari material yang keluar dari Gunung Semeru
 
"Kalau erupsi ada tanda-tandanya. Letusan, getaran, ada peningkatan aktivitas. Kalau kemarin hanya ada peningkatan seismik," jelas Satrio lewat keterangan tertulis, Minggu, 5 Desember 2021. 
 
Menurutnya, faktor curah hujan yang tinggi membuat lava di kawah Gunung Semeru meluap. Faktor ini yang membuat luncuran awan panas mengalir deras dengan volume tinggi dan membawa dampak luar biasa. 
 
Awan panas guguran membawa material berupa batu, kerikil, abu, dan pasir dalam suatu massa gas vulkanik yang keluar dari gunung berapi. Material-material ini dapat menempuh kecepatan 100 kilometer (km) per jam dari lereng gunung berapi. 
 
Baca: ESDM: Awan Panas Guguran Ancaman Khas Gunung Semeru

Apa itu awan panas guguran?

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan, awan panas guguran merupakan karakteristik ancaman khas dari Gunung Semeru. Awan panas guguran berasal dari ujung aliran lava pada bagian lereng gunung. 
 
Letusan Gunung Semeru umumnya bertipe vulkanian dan strombolian, berupa penghancuran kubah atau lidah lava, serta pembentukkan kubah lava atau lidah lava baru. 
 
"Penghancuran kubah atau lidah lava ini lantas mengakibatkan pembentukan awan panas guguran di Gunung Semeru," jelas Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono. 
 
Endapan awan panas guguran terdiri dari material bebatuan yang memiliki suhu antara 800-900 derajat Celcius. Jika terjadi hujan, endapan awan panas guguran dapat menyebabkan banjir lahar dingin sepanjang aliran sungai yang berhulu di daerah puncak. 

Dampak awan panas guguran pada manusia

Dikabarkan sebanyak 41 orang mengalami luka bakar akibat awan panas guguran Gunung Semeru. Mengapa bisa begitu? Menurut Mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, awan panas guguran bisa menyebabkan iritasi, radang, atau alergi pada bagian tubuh, seperti kepala, leher, lengan, atau kaki. 
 
Awan panas guguran juga dapat mengakibatkan infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), infeksi saluran pernafasan bawah, seperti pneumonia dan bronkhitis, hingga gangguan saluran pencernaan. 
 
Baca: 5 Tempat Misterius di Gunung Semeru, Angker atau Mitos?
 
(CIN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif