Jakarta: Bali Ocean Days 2026 ditutup bukan dengan euforia, melainkan keheningan. Pemutaran film Ocean with David Attenborough - naturalist legendaris dunia asal London dan penyiar dokumenter alam paling berpengaruh selama lebih dari enam dekade—menghadirkan gambar yang sulit dilupakan: jaring raksasa menyeret dasar laut, mematahkan karang, menghancurkan habitat, dan menyisakan bycatch yang mati sia-sia.
Pesannya tegas dalam seruan prilaku manusia terhadap alam dan bagaimana tanggung jawab bersama menghentikan sampah plastik masuk ke sungai dan laut, melindungi terumbu karang dan mangrove, membalik krisis overfishing, meningkatkan kesadaran publik dan komunitas pesisir, serta mendorong pembangunan berkelanjutan yang selaras dengan identitas Indonesia sebagai negara kepulauan dan agenda SDG 14 - Life Below Water.
Dalam 2 hari forum Bali Ocean Days yang ke-3 ini, memperlihatkan lebih dalam bukan hanya Indonesia bahwa krisis laut jauh lebih berlapis. Suhu laut meningkat, karang tertekan oleh praktik wisata, sampah mengalir dari sungai, dan tata kelola yang belum seragam membuat tekanan itu saling memperparah. Forum ini menjadi pertemuan akrab menteri, ilmuwan, pelaku industri, investor, komunitas, dan inovator - untuk menyatukan arah kerja.
Satu Nada dari Tiga Kementerian
Nada kegentingan muncul sejak pembukaan. Laksamana Madya (Purn) TNI Dr. Didit Herdiawan Ashaf M.P.A., M.B.A., Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan mewakili Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) menyampaikan bahwa pemanasan laut Indonesia meningkat empat kali lipat. Karang memutih, ekosistem terganggu, spesies kunci terancam, dan budaya pesisir terdampak.
Di sesi lain, Dr. Rasio Ridho Sani, Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan mewakili Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., M.P., Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, menekankan penegakan, restorasi, sains, dan pengendalian sampah sistemik melalui Extended Producer Responsibility (EPR).
Dari sektor pariwisata, Ni Luh Puspa Ermawati, Wakil Menteri Pariwisata menegaskan perlunya melindungi destinasi bawah laut. Daya tarik Bali, Komodo, Raja Ampat, dan Wakatobi hanya dapat bertahan jika praktik wisata tunduk pada daya dukung ekosistem - bukan sebaliknya.
Tiga kementerian, satu pesan: laut tak bisa lagi ditangani secara sektoral.
Dilanjutkan dengan tampilan 40 narasumber dari 11 negara dari berbagai latar belakang untuk berbagi data, network jaringan dan best practice lewat enam sesi utama Bali Ocean Days saling menjahit satu cerita utuh:
- Tata kelola & negara kepulauan menjelaskan mengapa penegakan aturan menjadi fondasi perlindungan laut.
- Karang & ekowisata menunjukkan urgensi buoy tambat, pembatasan pengunjung, dan edukasi operator.
- Komunitas pesisir menegaskan pentingnya pengawasan berbasis masyarakat.
- Sains & teknologi laut memberi dasar kebijakan berbasis data dan daya dukung ekosistem.
- Perikanan berkelanjutan menjawab langsung seruan menghentikan trawling, bycatch, dan praktik tangkap merusak.
- Sistem sampah & plastik mengingatkan bahwa laut yang kotor sering bermula dari darat.
Semua sesi ini menjelaskan mengapa Bali Coral Reef Protection Declaration perlu lahir dalam memuat delapan langkah kebijakan konkret: larangan jangkar di area sensitif, kewajiban pengolahan limbah kapal, perluasan buoy tambat, edukasi operator, pengawasan komunitas, penegakan konsisten, instrumen tanggung jawab lingkungan, dan pembatasan pengunjung berbasis daya dukung ekosistem.
Deklarasi ini akan ditindaklanjuti melalui dialog dengan Kementerian Pariwisata, KKP, KLH, dan Perhubungan dan stakeholders terkait sebagai usaha kebersamaan.
Baca Juga :
Gelombang Baru Ekonomi Biru Indonesia jadi Peluang Emas untuk Investasi Berbasis ESG
Menghentikan Plastik ke Laut: Aksi dari Hulu
Peran Strategis Bali Ocean Day sebagai platform kerja untuk meningkatkan kesadaran pembuat kebijakan, industri, ilmuwan, dan komunitas, membangun kolaborasi lintas sektor jangka Panjang dan mendorong praktik perlindungan laut yang nyata dan terukur menjadi relevan apalagi Ketika di sampaikan di hadapan 500 pemangku kepentingan yang berwawasan sama.
Pesannya sederhana: laut bisa pulih jika sistem di darat ikut berubah.
Ketika Film Menyatukan Semuanya
Saat film Attenborough diputar, semua yang dibahas menemukan wajahnya. Trawling, overfishing, sampah, wisata tak terkendali - semuanya adalah gejala dari pola lama yang tak lagi bisa dipertahankan terutama di negara -negara kepulauan.
Ketua panitia, Yoke Darmawan, menegaskan: “Bali Coral Reef Protection Declaration bukan dokumen simbolik. Ini adalah daftar pekerjaan rumah yang harus segera diterjemahkan menjadi aturan, pengawasan, dan praktik di laut. Jika delapan poin ini tidak dijalankan, kita hanya akan mengulang diskusi yang sama setiap tahun sementara kerusakan terus berjalan”.
Bali Ocean Days 2026 menutup forum dengan satu arah yang jelas: Lindungi karang. Hentikan plastik ke laut. Hentikan trawling dan overfishing.
Bukan sebagai slogan, tetapi sebagai arah kerja bersama menuju masa depan di mana Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, menempatkan kesehatan laut sebagai bagian dari identitas, ekonomi, dan budayanya. Sampai bertemu di Bali Ocean Days ke-4, Januari 2027.
Jakarta:
Bali Ocean Days 2026 ditutup bukan dengan euforia, melainkan keheningan. Pemutaran film Ocean with David Attenborough - naturalist legendaris dunia asal London dan penyiar dokumenter alam paling berpengaruh selama lebih dari enam dekade—menghadirkan gambar yang sulit dilupakan: jaring raksasa menyeret dasar laut, mematahkan karang, menghancurkan habitat, dan menyisakan bycatch yang mati sia-sia.
Pesannya tegas dalam seruan prilaku manusia terhadap alam dan bagaimana tanggung jawab bersama menghentikan sampah plastik masuk ke sungai dan laut, melindungi terumbu karang dan mangrove, membalik krisis overfishing, meningkatkan kesadaran publik dan komunitas pesisir, serta mendorong pembangunan berkelanjutan yang selaras dengan identitas Indonesia sebagai negara kepulauan dan agenda SDG 14 - Life Below Water.
Dalam 2 hari forum Bali Ocean Days yang ke-3 ini, memperlihatkan lebih dalam bukan hanya Indonesia bahwa krisis laut jauh lebih berlapis. Suhu laut meningkat, karang tertekan oleh praktik wisata, sampah mengalir dari sungai, dan tata kelola yang belum seragam membuat tekanan itu saling memperparah. Forum ini menjadi pertemuan akrab menteri, ilmuwan, pelaku industri, investor, komunitas, dan inovator - untuk menyatukan arah kerja.
Satu Nada dari Tiga Kementerian
Nada kegentingan muncul sejak pembukaan. Laksamana Madya (Purn) TNI Dr. Didit Herdiawan Ashaf M.P.A., M.B.A., Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan mewakili Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) menyampaikan bahwa pemanasan laut Indonesia meningkat empat kali lipat. Karang memutih, ekosistem terganggu, spesies kunci terancam, dan budaya pesisir terdampak.
Di sesi lain, Dr. Rasio Ridho Sani, Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan mewakili Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., M.P., Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, menekankan penegakan, restorasi, sains, dan pengendalian sampah sistemik melalui Extended Producer Responsibility (EPR).
Dari sektor pariwisata, Ni Luh Puspa Ermawati, Wakil Menteri Pariwisata menegaskan perlunya melindungi destinasi bawah laut. Daya tarik Bali, Komodo, Raja Ampat, dan Wakatobi hanya dapat bertahan jika praktik wisata tunduk pada daya dukung ekosistem - bukan sebaliknya.
Tiga kementerian, satu pesan: laut tak bisa lagi ditangani secara sektoral.
Dilanjutkan dengan tampilan 40 narasumber dari 11 negara dari berbagai latar belakang untuk berbagi data, network jaringan dan best practice lewat enam sesi utama Bali Ocean Days saling menjahit satu cerita utuh:
- Tata kelola & negara kepulauan menjelaskan mengapa penegakan aturan menjadi fondasi perlindungan laut.
- Karang & ekowisata menunjukkan urgensi buoy tambat, pembatasan pengunjung, dan edukasi operator.
- Komunitas pesisir menegaskan pentingnya pengawasan berbasis masyarakat.
- Sains & teknologi laut memberi dasar kebijakan berbasis data dan daya dukung ekosistem.
- Perikanan berkelanjutan menjawab langsung seruan menghentikan trawling, bycatch, dan praktik tangkap merusak.
- Sistem sampah & plastik mengingatkan bahwa laut yang kotor sering bermula dari darat.
Semua sesi ini menjelaskan mengapa Bali Coral Reef Protection Declaration perlu lahir dalam memuat delapan langkah kebijakan konkret: larangan jangkar di area sensitif, kewajiban pengolahan limbah kapal, perluasan buoy tambat, edukasi operator, pengawasan komunitas, penegakan konsisten, instrumen tanggung jawab lingkungan, dan pembatasan pengunjung berbasis daya dukung ekosistem.
Deklarasi ini akan ditindaklanjuti melalui dialog dengan Kementerian Pariwisata, KKP, KLH, dan Perhubungan dan stakeholders terkait sebagai usaha kebersamaan.
Menghentikan Plastik ke Laut: Aksi dari Hulu
Peran Strategis Bali Ocean Day sebagai platform kerja untuk meningkatkan kesadaran pembuat kebijakan, industri, ilmuwan, dan komunitas, membangun
kolaborasi lintas sektor jangka Panjang dan mendorong praktik perlindungan laut yang nyata dan terukur menjadi relevan apalagi Ketika di sampaikan di hadapan 500 pemangku kepentingan yang berwawasan sama.
Pesannya sederhana: laut bisa pulih jika sistem di darat ikut berubah.
Ketika Film Menyatukan Semuanya
Saat film Attenborough diputar, semua yang dibahas menemukan wajahnya. Trawling, overfishing, sampah, wisata tak terkendali - semuanya adalah gejala dari pola lama yang tak lagi bisa dipertahankan terutama di negara -negara kepulauan.
Ketua panitia, Yoke Darmawan, menegaskan: “Bali Coral Reef Protection Declaration bukan dokumen simbolik. Ini adalah daftar pekerjaan rumah yang harus segera diterjemahkan menjadi aturan, pengawasan, dan praktik di laut. Jika delapan poin ini tidak dijalankan, kita hanya akan mengulang diskusi yang sama setiap tahun sementara kerusakan terus berjalan”.
Bali Ocean Days 2026 menutup forum dengan satu arah yang jelas: Lindungi karang. Hentikan plastik ke laut. Hentikan trawling dan overfishing.
Bukan sebagai slogan, tetapi sebagai arah kerja bersama menuju masa depan di mana Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, menempatkan kesehatan laut sebagai bagian dari identitas, ekonomi, dan budayanya. Sampai bertemu di Bali Ocean Days ke-4, Januari 2027.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)