Kiri ke kanan: Andreas Ardian Pramaditya, VP Corporate and Strategic Affair Blibli, Bonifasius Wahyu Pudjianto, Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Immanuel Tarigan Sibero, Direktur Pemberdayaan Kon
Kiri ke kanan: Andreas Ardian Pramaditya, VP Corporate and Strategic Affair Blibli, Bonifasius Wahyu Pudjianto, Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Immanuel Tarigan Sibero, Direktur Pemberdayaan Kon

Blibli Dorong JEDA 10 Detik untuk Redam Respons Impulsif di Ruang Digital

Fatha Annisa • 28 April 2026 20:28
Ringkasnya gini..
  • Blibli melakukan social experiment untuk perkenalkan JEDA.
  • Eksperimen yang melibatkan lebih dari 158.000 partisipan ini menunjukkan 7 dari 10 orang merasa lebih tenang setelah jeda 10 detik.
  • Temuan juga mengungkap perilaku impulsif masih dipicu clickbait dan momen sibuk.
Jakarta: PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli) menghadirkan social experiment yang memperkenalkan JEDA (Jangan Reaktif, Evaluasi, Double-check, Ambil keputusan dengan tenang) sebagai pendekatan sederhana untuk merespons dengan lebih bijak di ruang digital.
 
Eksperimen sosial ini didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Perdagangan RI, Bank Indonesia, serta Indonesian E-commerce Association sebagai akselerator.
 
JEDA lahir di tengah tingginya intensitas interaksi digital yang membuat masyarakat cenderung bereaksi cepat tanpa berpikir panjang. Padahal, data menunjukkan risiko penipuan digital masih tinggi dan membutuhkan pendekatan edukasi yang lebih relevan serta mudah diterapkan.
 
Melalui microsite jeda10detik.com, Blibli mengajak masyarakat membiasakan “pause culture” dengan mengambil jeda singkat sebelum mengambil keputusan. Konsep ini diharapkan dapat membantu publik lebih kritis dan tidak mudah terpicu oleh informasi yang belum tentu benar.
 
Social experiment yang berlangsung dari Februari hingga Maret 2026 melibatkan lebih dari 158.000 partisipan. Hasilnya, tujuh dari sepuluh orang mengaku merasa lebih tenang setelah melakukan jeda 10 detik sebelum merespons.
 
Baca juga: Blibli Hadir di YouTube Shopping, Bisa Belanja dari Kreator

 
Blibli Dorong JEDA 10 Detik untuk Redam Respons Impulsif di Ruang Digital
microsite jeda10detik.com
 
 
Temuan ini menunjukkan bahwa jeda singkat mampu menurunkan respons impulsif sekaligus memberikan ruang bagi individu untuk berpikir lebih jernih. Dengan kata lain, keputusan yang diambil menjadi lebih rasional dan minim risiko.
 
Head of PR Blibli, Nazrya Octora, menegaskan bahwa inisiatif JEDA berangkat dari pemahaman bahwa kualitas keputusan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan, tetapi juga kejernihan.
 
“JEDA sejalan dengan upaya perlindungan konsumen yang terus digaungkan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadirkan rasa aman bagi masyarakat,” kata Nazrya dalam dalam forum Ruang JEDA: Ambil JEDA 10 Detik untuk Tidak Terpantik, Selasa, 28 April 2026. 
 
Dari sisi psikologis, psikolog Irma Agustina menjelaskan bahwa kebiasaan memberi jeda singkat sebelum merespons dapat membantu menenangkan pikiran sekaligus membuka ruang refleksi.
 
“Misalnya dengan menarik napas dalam beberapa kali, melakukan relaksasi singkat dengan menutup mata selama beberapa detik, atau sekadar meregangkan tubuh. Praktik-praktik ini juga sejalan dengan inisiatif JEDA melalui jeda10detik.com dari Blibli,” ujarnya.

 
Baca juga: Mulai Rutinitas dengan Tenang: Tips 'Reset' Kebutuhan Harian Jadi Lebih Simpel
 

Hal yang Dapat Dipetik dari JEDA 10 Detik

Eksperimen ini juga mengungkap sejumlah perilaku menarik masyarakat dalam merespons dorongan impulsif. Salah satunya, konten clickbait masih efektif memancing rasa penasaran dan mendorong klik.
 
Temuan lain menunjukkan kelompok usia lebih tua (65+) justru paling responsif terhadap clickbait dibanding Gen Z. Selain itu, perilaku impulsif terjadi pada semua gender dan paling banyak muncul di kota besar seperti Jakarta.
 
Waktu menjadi faktor penting, di mana momen sibuk seperti pagi hingga siang hari justru menjadi periode paling rentan terhadap respons impulsif. Lonjakan aktivitas pun terjadi saat periode tertentu seperti awal Ramadan, long weekend, hingga libur Lebaran.
 
Eksperimen ini juga menemukan bahwa pendekatan sederhana seperti gamifikasi dan aktivitas mindful efektif membantu mengalihkan dorongan impulsif. Bahkan, meski singkat, aktivitas tersebut mampu memberikan rasa tenang yang signifikan.
 
 
Baca juga: Ekosistem Blibli Tiket Ajak Refleksikan Pentingnya Kepastian dalam Pengalaman Digital

 
Menanggapi temuan tersebut, Bonifasius Wahyu Pudjianto, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, menilai kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi menjadi bagian penting dari literasi digital di era informasi cepat.
 
“Pendekatan seperti JEDA menjadi contoh konkret bagaimana edukasi bisa dikemas secara sederhana, relevan, dan mudah diterapkan dalam keseharian,” ungkapnya.
 
Sementara itu, Bank Indonesia menekankan bahwa kebiasaan sederhana seperti jeda 10 detik dapat menjadi lapisan perlindungan awal dalam mengurangi risiko transaksi digital yang merugikan.
 
Secara keseluruhan, inisiatif JEDA menunjukkan bahwa perubahan kecil dalam kebiasaan dapat memberikan dampak besar. Dengan membiasakan diri untuk berhenti sejenak, masyarakat diharapkan dapat menjadi lebih kritis, tenang, dan bijak dalam setiap pengambilan keputusan.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>