Jakarta: Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama, dinilai sebagai sosok begawan pers Indonesia. Kontribusi Jakob terhadap industri media massa sejak awal kemerdekaan hingga kini membuatnya pantas menyandang gelar tersebut.
"Pak Jacob ini boleh dibilang begawan persnya Indonesia," kata Direktur Uji Kompetensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Prof Rajab Ritonga saat berbincang dengan Medcom.id, Rabu, 9 September 2020.
Rajab mengatakan kiprah Jakob dalam mengelola media dilakukan dengan tangan dingin. Bahkan Jakob terus memperluas industri media hingga menyentuh media daring dan televisi.
Pada masa orde baru, di mana industri media massa serba dibatasi, Jakob tetap membawa kejayaan Kompas hingga sekarang. Kompas cetak yang masih eksis menjadi bukti tangan dingin Jacob.
"Semua media yang dikelola berhasil. termasuk membawa media di jaman susah di orde baru yang sangat represif dengan media dikontrol pemerintah," ujar Rajab.
Jakob di mata Rajab sebagai sosok yang inspiratif, sederhana, dan mendidik. Hal itu telah ia buktikan saat mewawancarai Jakob untuk disertasinya.
"Saya ingat saya mengajukan pertanyaan pada 2007, bagaimana ke depan Kompas sudah berhasil. Beliau mengatakan 'saya tidak bisa menilai, Kompas ini, tapi biarlah masyarakat yang akan menilai Kompas dan kelanjutannya kalau saya sudah tidak ada'," ujar Rajab.
Baca: Jakob Oetama Teladan Kemanusiaan
Tak sampai di situ, Jakob yang pernah meniti karir sebagai guru juga dinilai sebagai pendidik. Latar belakang itu juga membuat Jakob mendirikan Universitas Multimedia Nusantara (UMN).
"Dia memadukan profesionalisme sebagai wartawan, pengusaha media juga sebagai guru, nah itu mengilhami saya untuk terus belajar. Sosok yang menginspirasi bagi kita wartawan muda," ucap Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Moestopo Jakarta ini.
Jakob Oetama meninggal dunia pada usia 88 tahun di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu siang, 9 September 2020. Jakob tutup usia setelah sempat dirawat karena mengalami gangguan multiorgan.
Jenazah akan dimakamkan besok, Kamis, 10 September 2020 di Taman Makam Pahlawan (TMP), Kalibata, Jakarta Selatan.
Jakarta: Pendiri Kompas Gramedia,
Jakob Oetama, dinilai sebagai sosok begawan pers Indonesia. Kontribusi Jakob terhadap industri media massa sejak awal kemerdekaan hingga kini membuatnya pantas menyandang gelar tersebut.
"Pak Jacob ini boleh dibilang begawan persnya Indonesia," kata Direktur Uji Kompetensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Prof Rajab Ritonga saat berbincang dengan Medcom.id, Rabu, 9 September 2020.
Rajab mengatakan kiprah Jakob dalam mengelola media dilakukan dengan tangan dingin. Bahkan Jakob terus memperluas industri media hingga menyentuh media daring dan televisi.
Pada masa orde baru, di mana industri media massa serba dibatasi, Jakob tetap membawa kejayaan Kompas hingga sekarang. Kompas cetak yang masih eksis menjadi bukti tangan dingin Jacob.
"Semua media yang dikelola berhasil. termasuk membawa media di jaman susah di orde baru yang sangat represif dengan media dikontrol pemerintah," ujar Rajab.
Jakob di mata Rajab sebagai sosok yang inspiratif, sederhana, dan mendidik. Hal itu telah ia buktikan saat mewawancarai Jakob untuk disertasinya.
"Saya ingat saya mengajukan pertanyaan pada 2007, bagaimana ke depan Kompas sudah berhasil. Beliau mengatakan 'saya tidak bisa menilai, Kompas ini, tapi biarlah masyarakat yang akan menilai Kompas dan kelanjutannya kalau saya sudah tidak ada'," ujar Rajab.
Baca:
Jakob Oetama Teladan Kemanusiaan