Ilustrasi sampah plastik. Foto: Antara/Irwansyah Putra
Ilustrasi sampah plastik. Foto: Antara/Irwansyah Putra

Pemerintah Reekspor 883 Kontainer Sampah Plastik

Nasional Impor Sampah Plastik
Medcom • 24 November 2019 20:25
Jakarta: Pemerintah mencatat sudah ada 883 kontainer sampah plastik yang diekspor kembali (reekspor) ke negara asalnya. Ratusan kontainer sampah itu sengaja diselundupkan oleh pelaku asal Indonesia melalui celah impor bahan baku kertas dan scrap plastik.
 
"KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) telah mengirim balik 883 kontainer sampah plastik ke negara asal yang diselundupkan para pelaku ke Indonesia," kata Direktur Pengelolaan Sampah KLHK, Novrizal Tahar, Minggu, 24 November 2019.
 
Novrizal mengatakan penyelundupan sampah dari luar negeri ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Sampah ini salah satunya dimanfaatkan pelaku industri kecil sebagai pengganti bahan bakar produksi karena harganya lebih murah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


KLHK mencatat sebanyak 883 kontainer yang direekspor itu adalah bagian dari 2.194 kontainer sampah yang masuk ke Indonesia hingga 30 Oktober 2019. "Kami tegaskan kepada negara pengirim bahwa Indonesia bukan tong sampah,'' kata Novrizal.
 
Sebelumnya, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan juga menyatakan telah mereekspor 374 kontainer impor sampah plastik. Ratusan kontainer sampah itu disebut terkontaminasi bahan beracun dan berbahaya (B3).
 
"Per 30 September 2019, sebanyak 374 kontainer sudah direekspor dan 210 lainnya sedang menunggu dikembalikan," kata Kasubdit Komunikasi dan Publikasi DJBC Deni Surjantoro kepada Medcom.id ditemui di Kantor Pusat DJBC, Jakarta Timur, Rabu, 20 November 2019.
 
Sebanyak 584 kontainer sampah impor yang diduga tercampur B3 itu ditemukan di sejumlah pelabuhan, yakni:
- Pelabuhan Tanjung Perak sebanyak 257 kontainer,
- Pelabuhan Tanjung Priok sebanyak dua kontainer,
- Pelabuhan di Tangerang sebanyak 144 kontainer, dan
- Pelabuhan di Batam sebanyak 181 kontainer.
 
Persoalan sampah plastik mengemuka setelah sejumlah lembaga yang bergerak di lingkungan hidup mengungkap penelitian yang mengidentifikasi telur ayam di Desa Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur, tercemar 16 jenis bahan beracun. Paparan racun ini berasal dari asap hasil pembakaran plastik dari pabrik tahu di sekitarnya.
 
Temuan ini lantas ditindaklanjuti KLHK dengan berkunjung ke sana, akhir pekan lalu. KLHK menggandeng peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Fakultas Teknis Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga, dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sidoarjo.
 
Temuan di lapangan, masyarakat memang masih menggunakan bahan bakar dari sampah plastik.Namun, jumlah tumpukan sampah plastik untuk bahan bakar sudah berkurang dibandingkan dengan kondisi pada Juli 2019.
 
Menteri LHK Siti Nurbaya menyatakan tak bisa langsung meminta masyarakat menghentikan aktivitas pembakaran sampah plastik untuk industri rumah tangga. Pasalnya, persoalan ini sudah puluhan tahun berlanngsung.
 
"Ada soal sosial kemasyarakatan di situ. Dan juga mungkin soal moral bisnis dan juga hal-hal lain," kata Siti.
 
Sebagai salah satu solusi, KLHK akan mendorong penggunaan insinerator yang terbukti ramah lingkungan. Insinerator adalah alat pembakar sampah yang dioperasikan dengan menggunakan teknologi pembakaran pada suhu tertentu. Sehingga, sampah dapat terbakar habis.
 
Sekitar 20 pengusaha tahu dari 36 pengusaha yang ada mengaku siap mengubah perilaku. Mereka menyatakan siap beralih dari bahan bakar sampah plastik menjadi bahan bakar kayu atau alternatif lainnya.
 
"KLHK segera mengkaji aspek sosial dan teknis berkaitan dengan masalah ini. Sekaligus merumuskan solusi dengan melibatkan para ahli. Nantinya, hasil kajian tersebut akan jadi referensi mengambil langkah-langkah strategis selanjutnya," kata Siti.
 

 

(UWA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif