Sejumlah keluarga korban tragedi 1998 melakukan aksi tabur bunga di Mall Yogya Klender. - Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Sejumlah keluarga korban tragedi 1998 melakukan aksi tabur bunga di Mall Yogya Klender. - Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Keluarga Korban Tragedi 1998 Gelar Aksi Tabur Bunga

Nasional tragedi mei 1998
Fachri Audhia Hafiez • 13 Mei 2019 09:48
Jakarta: Puluhan keluarga korban tragedi Mall Yogya Klender atau sekarang dikenal Ciplaz Klender menggelar aksi tabur bunga di pusat pertokoan modern itu. Mereka mengenang peristiwa pilu yang terjadi pada Mei 1998 silam.
 
Pantauan Medcom.id peserta aksi yang hadir didominasi orangtua korban yang meninggal di dalam mal tersebut. Mereka membawa foto korban serta spanduk bertuliskan '#Mei Perjuangan, 21 Tahun Peristiwa Mei 1998: Orasi, Tabur Bunga dan Doa Bersama'.
 
Aksi ini turut didampingi oleh Komnas Perempuan, Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Amnesty International Indonesia, Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI), dan Paguyuban Mei 1998.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Orang-orang menjadi korban kekerasan lain dan akhirnya menjadikan korban tiap tahun memperjuangkan keadilan. Salah satu caranya adalah memperingati peristiwa ini dengan melakukan napak tilas atau proses tabur bunga yang akan dilakukan di area dalam mal," kata Dimas, koordinator aksi dari Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), di kawasan Ciplaz Klender, Jakarta Timur, Senin, 13 Mei 2019
 
Dimas mengatakan, negara belum maksimal menuntaskan tragedi tersebut, sehingga keluarga korban masih dirundung trauma dan kesedihan yang mendalam. Ia berharap peristiwa itu tak lagi terulang kembali pada generasi yang akan datang.
 
"Peristiwa ini menjadi salah satu penanda kita untuk tidak lagi mengalami kekerasan tahun-tahun selanjutnya," ujar Dimas.
 
Usai melakukan orasi, peserta aksi memasuki area halaman mal dan berkeliling sambil menaburkan bunga. Beberapa orang tampak menitikkan air mata.
 
Murni, ibunda dari Agung Tripurnawan korban tragedi meluapkan kesedihannya saat tabur bunga. Putranya tak mengabarkan kepada Murni kalau akan pergi ke mal.
 
"Dia pamitan pinjam buku. Enggak tahu kalau dia ke sini. Saya dikasih tahu mak saya mau pinjam buku sebentar. Saya lagi mandi, ya sudah le jangan lama lama ya le ya. Manggilnya le begitu," ujar Murni sambil terisak.
 
Baca: Adian Napitupulu: Korban Tragedi 1998 'Mati Tak Sia-Sia'
 
Putra saat itu masih duduk di bangku SMP kelas III. Ia merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara. "Harapannya lebih baik, jangan sampai terulang kembali. Adik-adiknya masih banyak," kata Murni.
 
Peristiwa 1998 menjadi sejarah kelam bangsa Indonesia. Tragedi Mall Yogya Klender menjadi salah satu buntut massa yang kala itu tengah menuntut mundurnya Presiden Soeharto.
 
Namun, tuntutan mundurnya Soeharto menjadi malapetaka bagi orang-orang yang tak bersalah. Diduga ada yang sengaja dibunuh dan meninggal tidak wajar.
 

(YDH)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif