Kasus Peluru <i>Nyasar</i> Gedung DPR Dinilai Janggal
Tersangka IAW melakukan proses rekonstruksi penembakan gedung DPR di Lapangan Tembak Senayan, Jakarta. Foto: MI/Susanto.
Jakarta: Kasus peluru nyasar yang mengenai Gedung DPR RI dinilai janggal. Sebab, jarak Gedung DPR dengan lapangan tembak mencapai 400 meter dan peluru mengenai lantai 16.
 
Pengamat politik, hukum dan keamanan, Dewinta Pringgodani mengatakan, jika peluru yang ditembak itu tidak sengaja nyasar saat latihan, seharusnya melencengnya tidak jauh dari arah bidikan.
 
"Kalau benar karena orang berlatih menembak, paling beberapa meter nyasarnya. Ini peluru nyasar sampai 400 meter dan sampai lantai 16 pula. Selain itu banyak menembus ruangan di DPR. Sangat janggal," kata Dewinta dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 20 Oktober 2018.
 
Dewinta mengatakan, biasanya peluru salah sasaran melenceng dari titik bidikan tidak lebih dari 10 meter. Selain itu, tersangka pelaku telah memiliki sertifikat menembak reaksi sejak April 2018. Sertifikat tembak reaksi itu diperoleh penembak melalui serangkaian tes. Sertifikat itu berguna untuk mengecek kelayakannya menembak reaksi.
 
"Jadi tidak masuk akal kalau nyasarnya sejauh 400 meter dan menembus banyak ruangan di DPR di lantai 16. Sekarang pertanyaannya, penembakan yang dilakukan karena iseng atau ada motif tertentu," ujar Dewinta.

Baca: Polisi Rekontruksi 25 Adegan Insiden Peluru Nyasar

Dewinta mendesak polisi mengusut tuntas dan menyeret pelakunya ke meja hijau.  "Saya menolak teori peluru nyasar. Bisa itu orang iseng, atau penembakan dengan motif tertentu. Ingat, nyawa yang jadi taruhanya," katanya.
 
Polda Metro Jaya sudah menetapkan dua tersangka, yakni Imam Aziz Wijayanto (IAW) dan Reiki Meidi (RMY), keduanya merupakan PNS Kementerian Perhubungan. Kemarin Polisi sudah melakukan rekonstruksi dengan menghadirkan kedua tersangka.
 
Dari penyelidikan polisi, peluru yang terlontar berasal dari senjata api jenis Glock 17 dan Akai Custom dengan kaliber 40. Senpi Glock merupakan senjata semi otomatis ditambah kustomisasi alat sehingga menjadi senjata otomatis.
 




(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id