Hantu pun Jadi Agen Ekonomi Kreatif
Ghost Parade/Medcom.id/Wandi Yusuf
Nusa Dua: Kreativitas memang tak terbatas. Saking luasnya, hantu pun menjadi agen untuk menumbuhkan ekonomi kreatif. Itulah yang dilakukan Lentera Nusantara Studio dengan mempersiapkan gim Ghost Parade.

Ditemui di salah satu kapsul di arena Konferensi Dunia tentang Ekonomi Kreatif (WCCE) 2018 di Nusa Dua Bali, Direktur Kreatif Lentera Nusantara Azizah Assattari bermimpi kelak hantu Indonesia akan mendunia.

"Kami ingin anak-anak Indonesia bangga bahwa mereka punya mahluk gaib fantasi yang bisa dikenalkan ke dunia," kata Azizah kepada Medcom.id di Kapsul Jawa, komplek WCCE 2018, Nusa Dua, Bali, Rabu, 7 November 2018.


Gim horor asal Bandung, Jawa Barat, ini rencananya rilis pada pertengahan 2019. Sebagai awal, Ghost Parade akan memperkenalkan tiga tokoh hantu yang diambil dari karakter hantu paling populer di Indonesia. Yakni, tuyul, kuntilanak, dan pocong.

Baca: 17 Ribu Imajinasi dalam 12 Kapsul

Ghost Parade sempat mencuri perhatian dunia di ajang Game Connection America 2018 di San Francisco, Amerika Serikat pada April lalu. Dari ajang itu pula Aksys Game tertarik untuk menggamit gim ini. Aksys Game akan merilis Ghost Parade di seluruh dunia melalui berbagai platform Nintendo Switch, PlayStation4, dan PC via Steam.


Direktur Kreatif Lentera Nusantara Azizah Assattari saat memperkenalkan Ghost Parade di Kapsul Jawa, komplek WCCE 2018, Nusa Dua, Bali, Rabu, 7 November 2018/Medcom.id/Wandi Yusuf

Gim Ghost Parade bercerita tentang sosok hantu anak perempuan bernama Suri yang berusaha ingin pulang ke asalnya. Untuk menyelesaikan permainannya, Suri berpetualang mencari jalan keluar yang akan dipandu oleh teman-teman karakter hantu lainnya. Namun, ada syaratnya, yakni Suri harus membantu hantu lain untuk merebut kembali hutan dari tangan manusia.

Gim horor lokal lain yang mencuri perhatian di perhelatan WCCE 2018 adalah DreadOut. Permainan ini dikembangkan oleh Digital Happiness dan rilis pada Mei 2014. DreadOut menjadi pendobrak gim genre horor di Indonesia.

Baca: Triawan: Kolaborasi Kunci Keberhasilan Ekonomi Kreatif

Mengutip laman Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), DreadOut beberapa kali menjadi yang pertama di industri gim Indonesia. Pertama kali sukses dalam crowdfunding di IndieGogo, pertama kali lolos Steam Greenlight (sekarang berganti menjadi Steam Direct) dan akhirnya rilis di Steam.

Kini, gim ini diunduh lebih dari 270 ribu kali (berdasarkan data SteamSpy). Belum termasuk DLC-nya, Keepers of the Dark, yang juga sukses terjual lebih dari 150 ribu kopi.

Sukses dengan DreadOut, pengembang gim asal Bandung ini kemudian merilis gim horor terbaru, berjudul DreadEye. DreadEye adalah gim horor dengan teknologi virtual reality, atau VR.

Jika DreadOut berkisah tentang sekelompok siswa SMA yang tersesat hingga menemukan sebuah kota tua yang sepi, DreadEye berkisah tentang seorang dukun yang akan melakukan sejumlah ritual-ritual ganjil, hingga membuka gerbang dimensi dan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk halus.





(OJE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id