Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan keterangan pers mengenai update bencana tsunami di Selat Sunda. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan keterangan pers mengenai update bencana tsunami di Selat Sunda. Foto: MI/Rommy Pujianto.

22 Alat Pendeteksi Tsunami Rusak

Nasional Tsunami di Selat Sunda
M Sholahadhin Azhar • 26 Desember 2018 23:24
Jakarta: Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengakui sistem pendeteksi dini tsunami tak bekerja secara optimal. Ada 22 alat pendeteksi dini tsunami (buoy) tidak berfungsi.
 
"Dari 22 buoy tsunami di perairan Indonesia, yang dibangun Indonesia (9 unit), Jerman (10 unit), Malaysia (1 unit), dan USA (2 unit) pada tahun 2008. Saat ini (22 bouy) sudah tidak beroperasi sejak 2012," ujar Sutopo di Graha BNPB, Pramuka Raya, Jakarta Timur, Rabu, 26 Desember 2018.
 
Alat deteksi dini tsunami itu rusak karena beberapa hal. Misalnya, ditabrak kapal atau perusakan secara sengaja. Apalagi anggaran perawatan buoyterbatas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Misal, buoy yang dipasang di Laut Banda (April 2009). Namun pada September 2009 rusak dan hanyut ke utara Sulawesi," sebut Sutopo.
 
Baca juga: PVMBG Cermati Potensi Longsor Susulan Gunung Anak Krakatau
 
Saat ini Indonesia mengandalkan lima buoy milik internasional. Satu unit di barat Aceh milik India, satu unit di Laut Andaman milik Thailand, dua unit di selatan Sumba milik Australia, dan satu unit di utara Papua milik Amerika Serikat.
 
Sutopo bilang, penyediaan buoy butuh anggaran besar. Satu buoy buatan lokal Rp4 miliar. Sementara buoy buatan Amerika Serikat dibanderol Rp7 miliar hingga Rp8 miliar per unitnya.
 
Buoy merupakan salah satu komponen sistem deteksi dini tsunami. Alat ini difungsikan untuk mengamati terjadinya gelombang pasang dan tsunami yang mungkin terjadi di kawasan tersebut.
 
"Idealnya dalam Indonesia Tsunami Early Warning System semua komponen itu tersedia, baik dari hulu hingga ke hilir. Namun memerlukan peralatan dan biaya operasional yang cukup besar setiap tahunnya," pugkas Sutopo.
 

(HUS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif