Seorang perempuan melintas di depan layar saat sosialisasi Kanker Serviks (kanker leher rahim) -- ANT/Rahmad
Seorang perempuan melintas di depan layar saat sosialisasi Kanker Serviks (kanker leher rahim) -- ANT/Rahmad

Imunisasi HPV Didorong Masuk Program Nasional

Nasional kanker serviks
Media Indonesia • 22 Januari 2018 08:30
Jakarta: DPR mendukung usul agar vaksinasi HPV (human papilloma virus) masuk program imunisasi nasional. Langkah itu penting dilakukan untuk mengatasi kanker serviks (leher rahim).
 
"Kami dari Komisi IX sebenarnya sangat aktif mendorong agar vaksin HPV dijadikan program nasional sejak 2015 dan semua fraksi setuju," kata anggota Komisi IX DPR RI Irma Chaniago dikutip dari Media Indonesia, Senin, 22 Januari 2018.
 
Menurut dia, biaya untuk program vaksinasi HPV secara nasional lebih kecil jika dibandingkan dengan dampak penyakit yang ditimbulkan. Terlebih, di daerah rata-rata belum memiliki fasilitas kemoterapi yang diperlukan pasien kanker serviks.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bahwa sudah ada pilot project vaksinasi HPV pada anak-anak sekolah di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya itu perlu diperluas ke wilayah lain sehingga kita harapkan setelah 2019 vaksin HPV sudah menjadi program nasional," ujarnya.
 
Pada kesempatan sama, Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia Prof dr Andrijono SpOG(K) menjelaskan terjadinya kanker serviks mayoritas diawali dengan infeksi HPV yang menular melalui hubungan seksual.
 
(Baca juga: Dinkes akan Kawal Distribusi Vaksin Kanker Serviks)
 
Dengan mengacu pada Data Litbangkes Kemenkes, insiden infeksi HPV di Indonesia mencapai 5,2%, atau ada 1 kasus per 20 perempuan. Infeksi HPV dan timbulnya kanker serviks awalnya tidak menimbulkan gejala.
 
Data di RSCM/FKUI menunjukkan untuk setiap 1.000 perempuan yang menjalani screening kanker serviks, 1,3 pasien positif kanker serviks. Jika diperluas ke seluruh Indonesia, diperkirakan ada 70 ribu penderita kanker serviks di Indonesia.
 
"Problem klasik di Indonesia, kanker serviks kebanyakan terdeteksi di stadium lanjut, 94% akan meninggal dalam dua tahun." tutur dia.
 
Screening atau deteksi dini kanker serviks dengan tes pap smear dan inspeksi visual asam asetat (IVA) tidak dapat mencegah kanker serviks. Apalagi, saat ini cakupan deteksi dini kanker serviks itu baru 11%, yaitu 4% dengan IVA dan 9% dengan pap smear.
 
(Baca juga: Wanita, Ketahui 6 Hal tentang Kanker Serviks)
 
"Jadi, jika mengandalkan dua tes tersebut, sulit untuk menurunkan insiden kanker serviks. Satu-satunya cara mencegah kanker serviks ialah dengan vaksin." tandas dia.
 
Vaksin HPV dapat diberikan pada anak perempuan usia 9-14 tahun dengan dua dosis dan pada perempuan dewasa usia 14-44 tahun sebanyak tiga dosis. "Kami usul untuk program nasional vaksin diberikan pada anak kelas 5 SD. Mengapa? Karena pernikahan di bawah umur masih tinggi di Indonesia. Jadi, dikejar sebelum remaja perempuan menikah," jelas dia.

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif