Ilustrasi terorisme/Medcom.id/Mohammad Rizal
Ilustrasi terorisme/Medcom.id/Mohammad Rizal

Kemristekdikti Jangan jadi Polisi Siber

Nasional terorisme radikalisme Tangkal Radikalisme Radikalisme di Kampus
06 Juni 2018 08:08
Jakarta: Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) tak boleh hilang fokus. Kemristekdikti dipastikan kerepotan bila harus mencegah radikalisme dengan memantau media sosial maupun telepon seluler dosen dan mahasiswa.
 
Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Muhammad Budi Djatmiko tak ma Kemristekdikti justru menjadi polisi siber. Ia menjelaskan saat ini jumlah mahasiswa diperkirakan mencapai 7,5 juta. Sedangkan dosen mencapai 300 ribu dan tenaga kependidikan 200 ribu. Setidaknya, Kemristekdikti harus mendapa 8 juta jiwa.
 
"Pastinya Kemristekdikti akan kerepotan melakukan pemantauan dan pendataan. Apalagi jika dosen dan mahasiswa diawasi media sosialnya, maka bentuk pengawasan tersebut dapat mengganggu suasana akademik," tegas Budi seperti dilansir Antara, Rabu, 6 Juni 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Kasus Unri, Menristekdikti Tidak Merasa Kecolongan
 
Budi memahami semua pihak sepakat terorisme merupakan musuh bersama. Namun, penanganannya harus harus kondusif dan persuasif.
 
Menurut Budi, yang terpenting saat ini ialah membangun kesadaran kolektif memerangi teroris. Memberi teladan menjadi salah satu poin penting.
 
Baca: Rektor UNRI Kumpulkan Seluruh Dekan
 
Pejabat, tegas Budi, harus menjadi contoh dengan memberikan keadilan, kesamaan derajat, kesejahteraan, dan solidaritas. Pemerintah juga hahrus bersinergi dengan orangtua dan kampus guna menghilangkan wasangka.
 
Kemristekdikti Jangan jadi Polisi Siber
Budi khawatir saling curiga justru merugikan kampus maupun dunia pendidikan. "Kami khawatir kampus ditinggalkan calon mahasiswa karena stigma 'kampus gudangnya radikalisme'. Padahal belum terbukti secara empiris. Tugas akademisi harus meneliti secara mendalam tentang radikalisme dan terorisme tersebut," tegas Budi.
 
Baca: Terduga Teroris Rakit Bom di Sekretariat Kemahasiswaan FISIP UNRI
 
Sedangkan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Forum Rektor Indonesia (FRI) Asep Saifuddin mengatakan penanganan radikalisme jangan sampai menimbulkan resistensi di kampus. Ia menegaskan radikalisme tak bisa ditoleransi. Namun, pendekatan yang dilakukan harus preventif dan edukatif.
 
"Jangan heboh dan juga keras, karena nanti dikhawatirkan akan terjadi resistensi serta akan menyebabkan antipati," tegas dia.
 
Radikalisme memasuki kampus. Densus 88 Antiteror Polri menangkap tiga terduga teroris di Gelanggang Mahasiswwa FISIP Universitas Riau (UNRI).
 
Polisi menyita empat bom rakitan siap ledak. Bom dirakit di salah satu sekretariat lembaga kemahasiswaan. Aparat juga menyita 8 bubuk bahan peledak dan bahan lain yang diduga digunakan merakit bom. Busur, sejumlah anak panah, senapan angin, dan satu granat tangan rakitan juga diangkut dari lokasi itu.
 

 

(OJE)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif