Radikalisme Diduga Kuat Juga Menyusup ke Sekolah

Kasus Unri, Menristekdikti Tidak Merasa Kecolongan

Citra Larasati 05 Juni 2018 14:47 WIB
Radikalisme di Kampus
Kasus Unri, Menristekdikti Tidak Merasa Kecolongan
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir. Foto: Medcom.id/Citra Larasati
Jakarta: Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengaku tidak merasa kecolongan dengan tertangkapnya tiga terduga teroris di Universitas Negeri Riau.  Ia menegaskan, bibit-bibit radikalisme di perguruan tinggi memang sudah diprediksi akan muncul, karena sesungguhnya sudah mulai disemai sejak 1983.

"Ini bukan kecolongan, saya sudah berkali-kali cerita, kasus ini adalah kejadian sejak 1983, setelah ada NKK dan BKK, kemudian kamus terjadi kekosongan kegiatan dan diisi mereka," tegas Nasir, di Jakarta, Selasa, 5 Juni 2018.


Bibit-bibit radikalisme di kalangan mahasiswa, menurut Nasir, muncul dari kegiatan ekstra kampus yang gencar dimulai sejak 1983.  Kegiatan ekstra kampus ini muncul imbas kebijakan normalisasi kehidupan kampus/badan koordinasi kemahasiswaan (NKK/BKK) tahun 1983 di era orde baru.

Pemahaman-pemahaman dan ajaran-ajaran radikal dikembangkan dari kegiatan-kegiatan di luar kampus. Setelah lulus mereka menjadi dosen, guru dan menyebarkan lagi paham radikalnya.  

Akibat normalisasi kehidupan kampus itu, kata Nasir, kegiatan mahasiswa menjadi sulit terpantau. Muncul kegiatan-kegiatan yang bersifat homogen yang tidak terpantau rektor.

Seperti diberitakan sebelumnya, aparat kepolisian menangkap tiga terduga teroris di kampus Universitas Riau (Unri), serta dua buah bom pipa besi dan bahan peledak triacetone triperoxide(TATP) beberapa waktu lalu.  

Menurut Nasir, dirinya sudah memprediksi bahwa terorisme dalam tekanan tinggi seperti di kampus akan terjadi. "Salah satunya seperti di Unri ini," jelas Dia.

Mantan Rektor Terpilih Universitas Diponegoro ini juga meluruskan, bahwa tiga terduga teroris yang tertangkap di Unri bukanlah mahasiswa aktif, melainkan alumni. "Ternyata bukan mahasiswa aktif Unri, tapi alumni mahasiswa Unri datang ke kampus membuat negara tidak aman, ini harus kita bersihkan, kita habisi semuanya," tandas Nasir

Paham yang sudah terlanjur disemai itu terus berlanjut sampai sekarang, bahkan menurut Nasir tidak hanya di perguruan tinggi, tapi juga di sekolah-sekolah.  "Ini berjalan sampai sekarang, itu terjadi juga di SMA, SMP, dan SD terjadi hal yang sama," ungkap Nasir.

Sekolah ikut terpapar, karena guru-guru yang merupakan lulusan perguruan tinggi tersebut pernah terpapar radikalisme. "Gurunya sudah terpapar, mahasiswa dan dosen juga terpapar, sekarang yang terpenting adalah bagaimana mengendalikan," ujar Nasir.

Upaya pengendalian paham radikalisme yang sudah terlanjur masuk tersebut sudah dilakukan Kemenristekdikti, di antaranya dengan memasukkan materi wawasan kebangsaan dan bela negara ke dalam kurikulum di pendidikan tinggi.

"Saat itu saya lakukan bela negara dan wawsasan kebangsaan. Setelah keluarnya putusan terhadap HTI, kami lakukan lebih giat lagi," jelasnya.





 



(CEU)