Pesawat Lion Air JT-610 Jatuh

2 Bulan Beroperasi Langsung Jatuh

Media Indonesia 30 Oktober 2018 08:58 WIB
Lion Air Jatuh
2 Bulan Beroperasi Langsung Jatuh
Pesawat Lion Air Boeing 737 Max-8 dengan registrasi PK-LQJ. Foto: Lion Air Group/Boeing.
Jakarta: Alih-alih bisa moncer mengudara sebagaimana slogannya, We Make People Fly, pesawat Lion Air JT-610 yang notabene baru dua bulan mengudara mengalami masalah teknis sebelum diterbangkan dari Denpasar, Bali, ke Bandara Soekarno-Hatta.
 
Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait mengakui kondisi pesawat Lion Air JT 610 rute Cengkareng-Pangkalpinang sempat mengalami kendala teknis sebelum terbang.
 
Pesawat tersebut sebelumnya baru saja terbang dari Denpasar menuju Cengkareng. "Ada laporan masalah teknis, tapi sudah dikerjakan sesuai porosedur perawatan yang dikeluarkan pabrikan pesawat. Hal itu biasa dalam penerbangan," kata Edward dikutip dari Media Indonesia, Selasa, 30 Oktober 2018.
 
Ia pun mengklaim kondisi pesawat yang memiliki 800 jam terbang itu ketika hendak melanjutkan perjalanan ke Pangkalpinang sudah dalam keadaan laik terbang.
 
Ia mengatakan JT 610 merupakan generasi terbaru dari Boeing 737. Pesawat asal AS tersebut tiba di Indonesia pada 13 Agustus 2018 dan memulai penerbangan perdana dua hari setelahnya. "Sebelum tiba di Indonesia, pesawat ini sudah dicek dan dapat sertifikat di AS," pungkasnya.



Namun, pernyataan Edward Sirait itu jauh panggang dari api. Wakil Ketua Komisi Nasional Keselamatan Transportasi Haryo Satmiko mengatakan Pilot Lion Air JT 610 Bhavye Suneja sempat melaporkan masalah flight control pada ketinggian 1.700 kaki. Pilot meminta naik ketinggian.
 
"Pada jam 06.22 WIB, pilot menghubungi Jakarta Control dan menyampaikan permasalahan flight control saat terbang di ketinggian 1.700 feet dan meminta naik ke ke-tinggian 5.000 feet. Jakarta Control mengizinkan pesawat naik ke 5.000 feet," kata Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko lewat keterangan tertulis, kemarin.


Baca: Lion Air Tetap Terbangkan Boeing 737 Max-8

Menurut Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Sindu Rahayu, sebelum hilang dari radar, sang pilot meminta return to base atau kembali lagi ke bandara asal terbang. Namun, kata dia, belum diketahui apa yang menyebabkan kapten pesawat meminta hal tersebut.
 
Pada pukul 06.32, Jakarta Air Traffic Controller (Jakarta Control) kehilangan kontak dengan pesawat PK-LQP tersebut. Pesawat itu kemudian jatuh di perairan Karawang.
 
Pesawat bermasalah
 
Dalam menanggapi hal itu, pengamat penerbangan Alvin Lie mengungkapkan penyebab pilot sampai mengambil tindakan itu. "Kemungkinan ada gangguan teknis pada mesin atau gangguan operasional seperti ada penumpang yang sakit atau meninggal atau ada ancaman dari dalam pesawat," jelas Alvin saat dihubungi kemarin.
 
Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta regulator yakni Kementerian Perhubungan dan juga Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sebagai pengawas untuk mengevaluasi sistem yang ada dan semakin memperketat sistem guna menjamin keselamatan penumpang.
 
"Karena pesawat terbang sangat rentan kalau tidak ada pengawasan yang ketat baik di darat maupun ketika mau terbang. Semua introspeksi dirilah agar sistem kita lebih baik," tutur Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden Jakarta, kemarin.





(FZN)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id