Menteri LHK Siti Nurbaya dalam konferensi pers virtual, Rabu, 28 Juli 2021. Foto: BPMI
Menteri LHK Siti Nurbaya dalam konferensi pers virtual, Rabu, 28 Juli 2021. Foto: BPMI

18.460 Ton Limbah Medis Berbahaya Dihasilkan Selama Pandemi

Nasional Lingkungan Lingkungan Hidup Virus Korona Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan covid-19 pandemi covid-19
Fachri Audhia Hafiez • 28 Juli 2021 13:30
Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mencatat peningkatan signifikan limbah medis berbahaya. Limbah medis terus bermunculan selama pandemi covid-19.
 
"Data yang masuk kepada pemerintah pusat dan di-record oleh Kementerian LHK bahwa limbah medis sampai dengan tanggal 27 Juli (2021) itu berjumlah 18.460 ton," kata Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar, melalui telekonferensi, Rabu, 28 Juli 2021.
 
Limbah medis itu berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan, rumah sakit darurat, wisma isolasi, lokasi karantina mandiri, deteksi dini, dan vaksinasi. Limbah yang ditemukan itu meliputi infus bekas, masker, vial (botol) vaksin, jarum suntik, face shield, perban, hazmat, APD, pakaian medis, sarung tangan, alat PCR antigen, dan alkohol pembersih swab.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Itulah yang disebut dengan limbah medis beracun, berbahaya," ujar Siti.
 
Baca: Kunci Terhindar dari Varian B.1.466.2, Mengurangi Mobilitas
 
Menurut Siti, data tersebut belum sepenuhnya lengkap. Kementerian LHK memastikan melengkapi data limbah medis di seluruh provinsi.
 
Berdasarkan data asosiasi rumah sakit, kata Siti, limbah medis sejatinya mencapai 383 ton per hari. Fasilitas pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) masih mampu mengolahnya.
 
"Kapasitas pengolahan limbah B3 medis itu cukup angkanya 493 ton per hari. Tetapi persoalannya bahwa ini terkonsentrasi di Pulau Jawa," ujar Siti.
 
Siti menuturkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memerintahkan penanganan limbah medis diintensifkan dengan sistematis. Persoalan limbah medis mesti diperhatikan dari hulu ke hilir.
 
"Jadi diperhatikan bagaimana sistem itu bekerja dari rumah sampai ke pusat-pusat pelayanan juga atau paralel sampai kepada tempat penanganannya," ucap Siti.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif