Radikalisme Menginfeksi melalui Media Sosial
Guru Besar Sosiologi UNJ, Prof Muchlis R. Luddin dan Komandan Satgas Nusantara Mabes Polri, Irjen Pol Dr Gatot Eddy Pramono.
Jakarta: Media sosial dinilai sebagai sarana efektif oleh kelompok radikal untuk menyebarkan faham radikalisme. Sejumlah cara pendekatan dilakukan melalui media sosial guna merekrut para calon pengikut.
 
Demikian diungkapkan Komandan Satgas Nusantara Mabes Polri, Irjen Pol Dr Gatot Eddy Pramono saat menjadi keynote speech dalam seminar bertajuk 'Peran Ilmu-ilmu Sosial Sebagai Pilar Pembangunan Manusia Era Milenial' di Aula Gedung Sertifikasi Guru Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis 7 Juni 2018.
 
"Media sosial menjadi wadah bagi orang-orang yang rentan terpapar paham radikalisme. Ini jadi tugas kita bersama, tentunya inilah peran utama ilmu sosial terutama ilmu komunikasi dalam memfilter berita-berita negatif tersebut," kata Gatot.
 
Menurut Gatot, dengan perkembangan informasi dan teknologi saat ini telah terjadi perang dengan media sosial. Apalagi berita-berita dari media sosial sangat sulit diverifikasi kebenarannya.
 
"Ironinya masyarakat kita sangat mudah terprovokasi oleh informasi hoaks," ujar Gatot.
 
Guru Besar Sosiologi UNJ Muchlis R. Luddin mengungkapkan, mengacu pada buku teknologi for point zero, pada zaman milenial ini orang bebas melakukan pekerjaan tidak hanya mesti datang ke kantor saja, tetapi lewat internet via rumah pun bisa dilakukan. 
 
"Banyak pekerjaan yang dimudahkan dengan teknologi," cetus Muchlis.

Baca: Tak Hanya di Lapangan, Teroris Juga Beraksi di Media Sosial

Asisten Deputi Komunikasi dan Informatika Kementerian Polhukum, Marsekal DR Sigit Priyono juga mengingatkan publik agar bijak dalam menggunakan media sosial.
 
"Paling banyak pengguna internet di Indonesia. Sebanyak 76 persen aktif menggunakan media sosial," kata Sigit.
 
Ketua Umum Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Sosial UNJ Rasminto menjelaskan,  kegiatan seminar yang mengangkat tema peran ilmu-ilmu sosial sebagai pilar pembangunan manusia era milenial merupakan jawaban dari fenomena sosial di masyarakat.
 
"Oleh karena itu, sangat diperlukan penguatan pemahaman yang komprehensif kembali tentang peran ilmu-ilmu sosial," kata Rasminto.






(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id