Ilustrasi limbah medis. Dok. Istimewa
Ilustrasi limbah medis. Dok. Istimewa

Saat Gelombang Kedua Covid-19, Limbah Medis Mencapai 493 Juta Ton Sehari

Kautsar Widya Prabowo • 17 Desember 2021 20:33
Jakarta: Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menyebut jumlah limbah medis meningkat drastis saat gelombang kedua covid-19. Ada 493 juta ton limbah medis dihasilkan dari puskesmas dan rumah sakit di seluruh Indonesia dalam sehari.
 
"Padahal daya olah (limbah medis) kita 225 ton per hari," ujar anggota Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Lia G Partakusuma, dalam diskusi yang digelar Aliansi Jurnalis Peduli Lingkungan Indonesia (AJPLI), Jakarta, Jumat, 17 Desember 2021.
 
Lia mengatakan saat ini jumlah limbah medis menurun. Rata-rata hanya 75 ton dalam sehari.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, dia menyampaikan kapasitas pengolahan limbah medis yang disediakan pemerintah dan swasta masih kurang. Sebanyak 78 persen perusahaan pengolahan limbah medis berada di Pulau Jawa.
 
"Kalau di luar Jawa, gimana. Tadi pagi saya dapat telepon dari Papua Barat gimana Bu (pengelolaan limbah medis), apakah saya harus tenggelamkan di laut. Gimana tu caranya, (akhirnya) sampai sekarang dilakukan pembakaran," tutur dia.
 
Lua mengatakan perlu keterlibatan dari masyarakat untuk memperkecil jumlah limbah medis. Terlebih, varian baru covid-19, Omricon, telah masuk Indonesia.
 
Kemunculan varian baru ini tidak menutup kemungkinan dapat kembali meningkatkan jumlah limbah medis. Dia menekankan limbah medis sangat membahayakan kesehatan masyarakat.
 
"Kan bisa saja limbah itu, misalnya masker bekas orang terpapar covid-19, dibuang sembarangan dan didaur ulang oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Itu tentu berbahaya. Inilah kenapa pentingnya pengelolaan limbah medis," ujar dia.
 
Baca: Limbah Medis Covid Berserakan di TPA Burangkeng Bekasi
 
Sementara itu, General Manager PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI), Yurnalisdel, mengatakan penanganan limbah medis dengan kategori bahan berbahaya dan beracun (B3) memerlukan pemahaman yang sama antara penghasil limbah, pelaku industri, dan regulator. Dari sisi industri, kata dia, perusahaan pengolah limbah harus memiliki komitmen yang kuat dalam mengolah secara benar dan tidak mencemari lingkungan.
 
Yurnalisdel mendorong regulator memperketat pengawasan dan pelaksanaan kepada industri pengolah limbah agar semua berjalan dengan baik. "Tujuannya agar industri benar-benar mengelola limbahnya secara baik," kata dia.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif