medcom.id, Sentul: Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa, hari ini, menghadiri peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia (World Humanitarian Day) yang jatuh pada Jumat, 19 Agustus 2016.
Atas nama pemerintah Indonesia, Khofifah mengucapkan selamat memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia kepada para pegiat kemanusiaan di seluruh Indonesia dan seluruh dunia.
"Kiranya momentum ini bisa dijadikan motivasi dan semangat untuk berbuat lebih banyak atas nama kemanusiaan," ujar Khofifah, saat memberi arahan dalam pelatihan Taruna Siaga Bencana (Tagana) tingkat Madya di Tagana Training Center, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/8/2016).
Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia dilakukan selain untuk memperingati mereka yang kehilangan nyawa dalam melakukan upaya kemanusiaan, juga untuk membangun kesadaran publik mengenai urusan kemanusiaan serta upaya kemanusiaan yang dapat dilakukan mereka. Setiap orang dapat menjadi pelaku kemanusiaan dan bermanfaat bagi orang yang membutuhkan bantuan.
"Tantangan penanggulangan bencana di tingkat global, regional, dan nasional yang semakin rumit membutuhkan keberadaan personil yang kompeten," ucap Mensos.
Penguatan kesiapsiagaan untuk respons bencana menjadi prioritas. Selain itu, mitigasi risiko dan penanganan dampak bencana mensyaratkan hubungan antara urusan kemanusiaan dan pembangunan untuk memastikan keselarasan yang baik antara karya-karya kemanusiaan dan pembangunan, penguatan risiko bencana, dan respons bencana yang lebih efektif.
Dalam upaya pengembangan kapasitas pelaku tanggap darurat di lapangan dan sebagai bagian dari kesiapsiagaan, pemerintah melalui Kemensos secara berkala mengadakan pelatihan bagi Tagana.
(Foto:Metrotvnews.com/Gervin Nathaniel Purba)
Tagana sebagai unsur yang terdekat dengan lokasi bencana diwajibkan siap hadir di lokasi setelah satu jam bencana terjadi, harus tanggap dan sigap dalam rangka melakukan perlindungan sosial terhadap korban bencana, dan memiliki pemahaman tentang penanggulangan bencana agar dapat bekerja efektif dan efisien.
"Kita tidak bisa mengelak lagi, yang harus dilakukan yakni mereduksi kemungkinan risiko bencana, membangun antisipasi dini masyarakat di daerah-daerah rawan bencana, dan dengan peta yang tersedia," kata dia.
Khofifah meminta kepada Taruna Siaga Bencana (Tagana) untuk membentuk Posko-Posko hingga ke pelosok daerah dalam memaksimalkan komunikasi ke daerah. Dengan begitu warga yang tinggal di pelosok dapat menerima bantuan selayaknya.
"Dorong berikan layanan terutama mereka yang tinggal makin jauh dari pusat kota. Sedikit tetesan yang mereka trima," ujar Khofifah.
Menurutnya ini menjadi pekerjaan rumah Tagana dan pekerjaan rumah seluruh elemen tim relawan Indonesia dalam memberikan layanan bantuan. Ia berharap jangan sampai warga yang tinggal di pelosok tidak bisa lagi melihat setitik terang masa depan.
Pos Komando (Posko) sebagai pusat pengendalian dan pengawasan sekaligus wadah koordinasi berbagai pihak menjadi penting untuk dipahami oleh Tagana. Untuk itu, Kemensos mengadakan kegiatan bagi 120 personel Tagana tingkat Madya untuk mendapatkan pembekalan tentang Manajemen Posko Penanggulangan Bencana pada 15 hingga 20 Agustus 2016, di Tagana Training Center, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Kementerian Sosial (Kemensos) Harry Hikmat mengungkapkan, Tagan penting untuk membangun kapasitas bekerja sama dengan berbagai pihak dalam penanggulangan bencana melalui Posko, dan menunjukkan kepada dunia sebagai bagian dari Satu Kemanusiaan.
Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat (Foto:Metrotvnews.com/Gervin Nathaniel Purba)
"Posko Kementerian Sosial dan Dinas/Instansi Sosial di seluruh Indonesia adalah sebagai pendukung utama dalam melakukan perlindungan sosial terhadap korban bencana alam. Melalui posko ini data kejadian bencana beserta dampaknya dapat diperoleh secara cepat dan tepat. Sehingga perlindungan sosial terhadap korban bencana alam dapat juga dilaksanakan secara cepat dan tepat sesuai dengan data yang diperoleh," ujar Harry.
Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Kemensos RI, Adhy Karyono, menjelaskan bahwa selama pelatihan, anggota Tagana akan dibekali pengetahuan manajemen posko sebagai pusat pengelolaan data dan informasi, pusat pengawasan, pengendalian dan koordinasi dalam melakukan operasi penanggulangan bencana di seluruh Indonesia.
"Posko yang berfungsi baik tentu didukung oleh petugas yang memiliki manajemen yang baik juga. Jadi kapanpun bencana terjadi dan diperlukan, mereka sudah siap" kata Adhy.
Ia berharap petugas dapat lebih maksimal dalam mengelola posko sebagai ruang pusat data dan informasi yang berkaitan dengan pelayanan Kemensos. Menurutnya, informasi yang cepat, tepat dana kurat dapat memaksimalkan dan mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat, utamanya saat bencana terjadi.
Adhy menerangkan, materi yang diberikan antara lain, Manajemen Keposkoan, Sistem Komunikasi Penanggulangan Bencana, Pengenalan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Teknik-teknik Rapid asesmen, Program/KegiatanPerlindungan Sosial Korban Bencana Alam, Pembinaan Mental dan Fisik, Perlindungan Sosial Bagi Anak dalam Situasi Darurat, Simulasi Manajemen Posko.
Untuk diketahui, tanggal 19 Agustus dijadikan sebagai Hari Kemanusiaan Sedunia (World Humanitarian Day) setelah peristiwa pengeboman di kantor pusat PBB di Baghdad yang menewaskan 22 orang.
Guna meningkatkan kesadaran publik mengenai bantuan kemanusiaan sedunia dan orang-orang yang mempertaruhkan hidup mereka dalam risiko demi memberikan pelayanan kemanusiaan, maka Majelis Umum PBB pada 2008, menetapkan 19 Agustus sebagai Hari Kemanusiaan Sedunia.
medcom.id, Sentul: Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa, hari ini, menghadiri peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia (World Humanitarian Day) yang jatuh pada Jumat, 19 Agustus 2016.
Atas nama pemerintah Indonesia, Khofifah mengucapkan selamat memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia kepada para pegiat kemanusiaan di seluruh Indonesia dan seluruh dunia.
"Kiranya momentum ini bisa dijadikan motivasi dan semangat untuk berbuat lebih banyak atas nama kemanusiaan," ujar Khofifah, saat memberi arahan dalam pelatihan Taruna Siaga Bencana (Tagana) tingkat Madya di Tagana Training Center, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/8/2016).
Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia dilakukan selain untuk memperingati mereka yang kehilangan nyawa dalam melakukan upaya kemanusiaan, juga untuk membangun kesadaran publik mengenai urusan kemanusiaan serta upaya kemanusiaan yang dapat dilakukan mereka. Setiap orang dapat menjadi pelaku kemanusiaan dan bermanfaat bagi orang yang membutuhkan bantuan.
"Tantangan penanggulangan bencana di tingkat global, regional, dan nasional yang semakin rumit membutuhkan keberadaan personil yang kompeten," ucap Mensos.
Penguatan kesiapsiagaan untuk respons bencana menjadi prioritas. Selain itu, mitigasi risiko dan penanganan dampak bencana mensyaratkan hubungan antara urusan kemanusiaan dan pembangunan untuk memastikan keselarasan yang baik antara karya-karya kemanusiaan dan pembangunan, penguatan risiko bencana, dan respons bencana yang lebih efektif.
Dalam upaya pengembangan kapasitas pelaku tanggap darurat di lapangan dan sebagai bagian dari kesiapsiagaan, pemerintah melalui Kemensos secara berkala mengadakan pelatihan bagi Tagana.
(Foto:Metrotvnews.com/Gervin Nathaniel Purba)
Tagana sebagai unsur yang terdekat dengan lokasi bencana diwajibkan siap hadir di lokasi setelah satu jam bencana terjadi, harus tanggap dan sigap dalam rangka melakukan perlindungan sosial terhadap korban bencana, dan memiliki pemahaman tentang penanggulangan bencana agar dapat bekerja efektif dan efisien.
"Kita tidak bisa mengelak lagi, yang harus dilakukan yakni mereduksi kemungkinan risiko bencana, membangun antisipasi dini masyarakat di daerah-daerah rawan bencana, dan dengan peta yang tersedia," kata dia.
Khofifah meminta kepada Taruna Siaga Bencana (Tagana) untuk membentuk Posko-Posko hingga ke pelosok daerah dalam memaksimalkan komunikasi ke daerah. Dengan begitu warga yang tinggal di pelosok dapat menerima bantuan selayaknya.
"Dorong berikan layanan terutama mereka yang tinggal makin jauh dari pusat kota. Sedikit tetesan yang mereka trima," ujar Khofifah.
Menurutnya ini menjadi pekerjaan rumah Tagana dan pekerjaan rumah seluruh elemen tim relawan Indonesia dalam memberikan layanan bantuan. Ia berharap jangan sampai warga yang tinggal di pelosok tidak bisa lagi melihat setitik terang masa depan.
Pos Komando (Posko) sebagai pusat pengendalian dan pengawasan sekaligus wadah koordinasi berbagai pihak menjadi penting untuk dipahami oleh Tagana. Untuk itu, Kemensos mengadakan kegiatan bagi 120 personel Tagana tingkat Madya untuk mendapatkan pembekalan tentang Manajemen Posko Penanggulangan Bencana pada 15 hingga 20 Agustus 2016, di Tagana Training Center, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Kementerian Sosial (Kemensos) Harry Hikmat mengungkapkan, Tagan penting untuk membangun kapasitas bekerja sama dengan berbagai pihak dalam penanggulangan bencana melalui Posko, dan menunjukkan kepada dunia sebagai bagian dari Satu Kemanusiaan.
Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat (Foto:Metrotvnews.com/Gervin Nathaniel Purba)
"Posko Kementerian Sosial dan Dinas/Instansi Sosial di seluruh Indonesia adalah sebagai pendukung utama dalam melakukan perlindungan sosial terhadap korban bencana alam. Melalui posko ini data kejadian bencana beserta dampaknya dapat diperoleh secara cepat dan tepat. Sehingga perlindungan sosial terhadap korban bencana alam dapat juga dilaksanakan secara cepat dan tepat sesuai dengan data yang diperoleh," ujar Harry.
Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Kemensos RI, Adhy Karyono, menjelaskan bahwa selama pelatihan, anggota Tagana akan dibekali pengetahuan manajemen posko sebagai pusat pengelolaan data dan informasi, pusat pengawasan, pengendalian dan koordinasi dalam melakukan operasi penanggulangan bencana di seluruh Indonesia.
"Posko yang berfungsi baik tentu didukung oleh petugas yang memiliki manajemen yang baik juga. Jadi kapanpun bencana terjadi dan diperlukan, mereka sudah siap" kata Adhy.
Ia berharap petugas dapat lebih maksimal dalam mengelola posko sebagai ruang pusat data dan informasi yang berkaitan dengan pelayanan Kemensos. Menurutnya, informasi yang cepat, tepat dana kurat dapat memaksimalkan dan mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat, utamanya saat bencana terjadi.
Adhy menerangkan, materi yang diberikan antara lain, Manajemen Keposkoan, Sistem Komunikasi Penanggulangan Bencana, Pengenalan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Teknik-teknik Rapid asesmen, Program/KegiatanPerlindungan Sosial Korban Bencana Alam, Pembinaan Mental dan Fisik, Perlindungan Sosial Bagi Anak dalam Situasi Darurat, Simulasi Manajemen Posko.
Untuk diketahui, tanggal 19 Agustus dijadikan sebagai Hari Kemanusiaan Sedunia (World Humanitarian Day) setelah peristiwa pengeboman di kantor pusat PBB di Baghdad yang menewaskan 22 orang.
Guna meningkatkan kesadaran publik mengenai bantuan kemanusiaan sedunia dan orang-orang yang mempertaruhkan hidup mereka dalam risiko demi memberikan pelayanan kemanusiaan, maka Majelis Umum PBB pada 2008, menetapkan 19 Agustus sebagai Hari Kemanusiaan Sedunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ROS)