Upaya Ditjen PFM Kemensos Mengubah Budaya Pelaporan Kinerja

Anggi Tondi Martaon 28 November 2018 20:37 WIB
Berita Kemensos
Upaya Ditjen PFM Kemensos Mengubah Budaya Pelaporan Kinerja
Direktorat Penanganan Fakir Miskin Kementerian Sosial menggelar Rapat Koordinasi Pelaporan Pusat dan Daerah, di Hotel Merapi Merbabu, Yogyakarta, Rabu, 28 November 2018 (Foto:Medcom.id/Anggi Tondi Martaon)
Yogyakarta: Direktorat Penanganan Fakir Miskin (PFM) Kementerian Sosial (Kemensos) menggelar Rapat Koordinasi Pelaporan Pusat dan Daerah, di Hotel Merapi Merbabu, Yogyakarta, Rabu, 28 November 2018.

Kegiatan yang dihadiri Dinas Sosial tingkat provinsi seluruh Indonesia itu bertujuan memperbaiki sistem pelaporan. Pelaporan merupakan elemen penting dalam sebuah program.

"Sebuah program yang dijalankan terdiri atas bagian sub sistem, yaitu perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, dan pelaporan," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Penanganan Fakir Miskin (Ditjen) Kementerian Sosial M.O Royani.


Pria yang akrab disapa Oni itu menyebutkan, pada umumnya dalam menjalankan program hanya terfokus pada tahap perencanaan hingga evaluasi. Sementara pelaporan kurang mendapatkan perhatian serius.

Padahal, pelaporan dianggap sebagai bagian satu sub sistem yang penting dalam sebuah kegiatan. Pelaporan merupakan bentuk pertanggungjawaban suatu program.

"Kalau kita hanya fokus pada pelaksanaan tapi tidak melaporkan, mana mungkin stakeholder bisa mengetahui apakah kita bekerja atau tidak? Jangan-jangan ada yang menganggap kita tidak bekerja karena tidak melaporkan," ujarnya.

Pelaporan juga menjadi salah satu acuan untuk mengevaluasi setiap sub sistem dari sebuah kegiatan. Untuk itu, dia menekankan kepada seluruh stakeholder, khususnya Dinas Sosial, agar memberikan perhatian kepada pelaporan yang dilakukan.

"Dan Ditjen PFM mempunyai penerima manfaat dari program yang cukup banyak, mencapai 15,6 juta keluarga. Maka harus memandang pelaporan merupakan suatu hal yang penting," katanya.


(Foto:Medcom.id/Anggi Tondi Martaon)

Sistem pelaporan saat ini tidak serumit dahulu. Sebab, pemerintah telah menerapkan teknologi dalam penyampaian laporan melalui aplikasi, seperti e-Monev, Smart, dan e-Kinerjaku.

"Cukup memanfaatkan aplikasi tersebut secara konsisten, maka pelaporan bisa dilakukan jarak jauh. Tidak perlu berhadapan atau menggunakan dokumen-dokumen yang berbasis cetak," ujarnya.

Meski pun begitu, Oni tak memungkiri jika kemudahan tersebut masih memiliki kendala dalam pelaksanaan. Kendala terdapat pada sumber daya manusia (SDM).

Dia meminta seluruh satker di Kemensos untuk menyesuaikan kemampuan dengan perkembangan yang terjadi. Sebab, penguasaan dianggap penting untuk menunjang kinerja, khususnya terkait pelaporan.

"Jadi sekarang bagaimana kita memanfaatkan sistem tersebut serta bagaimana kapasitas kita menggunakan sistem itu," ujar dia.

Sementara itu, Tenaga Ahli Direktorat Evaluasi Bappenas Ilham Alpa Dinov mengatakan, pelaporan yang dilakukan oleh Ditjen PFM Kemensos, khususnya melalui e-Monev, sudah sangat baik. Salah satu unit Kemensos yang dipimpin oleh Andi ZA Dulung itu menunjukkan perbaikan.


(Foto:Medcom.id/Anggi Tondi Martaon)

"Saat kami melihat e-Monev, khususnya Ditjen PFM, sudah banyak peningkatan. Grafisnya kami lihat kurvanya sudah ke atas. Jadi secara kelengkapan Ditjen ini sudah cukup baik. Artinya, di satuan kerja di daerah dan di pusat sudah meningkatkan kesadaran  bahwa pentingnya pelaporan ini untuk bahan evaluasi," kata Ilham.

Ilham pun menyosialisasikan aplikasi pelaporan terbaru yang dikeluarkan oleh Bappenas, yaitu e-Monev III. Perbedaanya dengan aplikasi lama adalah pendekatan yang digunakan terhadap laporan yang disampaikan.

"Pada e-Monev III ini kami melakukan pendekatan absolut dan tidak kumulatif. Artinya, seperti yang disampaikan oleh Bapak Presiden dalam suatu rapat, e-Money follow program. Presiden kita ingin tahu satu rupiah anggaran kita menjadi barang apa," katanya.

Menurutnya, melalui e-Monev III ini laporan yang disampaikan lebih rinci. Karena fokus pada realisasi kegiatan yang dilakukan. Meski pun begitu, Ilham mengakui penerapan e-Monev masih memiliki kelemahan. Sebab, masih dalam proses transisi dari aplikasi lama ke baru.

"Kami menyadari karena akan mengalami kendala, salah satunya transfer knowledge. Yaitu mengubah mainset yang lama ke baru itu butuh proses yang cukup lama. Kami banyak menemukan di mana kendala itu adalah memindahkan persentase menjadi fisik yang absolut," kata dia.

Selain itu, Ilham juga mengakui bahwa e-Monev masih terkendala server. Sebab, dalam aplikasi tersebut menampilkan bukti pendukung dari kegiatan.

"Seperti kita ketahui, device semakin canggih, ukuran foto bisa hingga 3-4 Mb. Kita bayangkan berapa tera yang harus kami persiapkan. Tahun ini kebetulan storage kami belum mumpuni. Insyaallah tahun depan sudah bisa kami meng-cover semua lampiran data yang dibutuhkan," ujar dia.



(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id