Ilustrasi tim rukyatul hilal Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Gresik melakukan pemantauan
Ilustrasi tim rukyatul hilal Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Gresik melakukan pemantauan

Soal Potensi Pemerintah dan Muhammadiyah Lebaran Bareng, Simak Penjelasan Berikut

Muhammad Syahrul Ramadhan • 17 Maret 2026 13:09
Ringkasnya gini..
  • Terdapat indikasi kuat bahwa tahun ini umat Muslim di Indonesia berpotensi merayakan Lebaran secara serentak.
  • Munculnya berbagai prediksi ini merupakan hasil dari penerapan metode dan kriteria yang beragam.
  • Seluruh data astronomis ini dihitung menggunakan metode falak tahqiqi tadqiki ashri, yang merupakan metode hisab kontemporer standar Nahdlatul Ulama.
Jakarta: Pertanyaan mengenai kapan Idul Fitri 1447 Hijriah akan dirayakan mulai mencuat di tengah masyarakat. Berdasarkan analisis astronomis terkini, terdapat indikasi kuat bahwa tahun ini umat Muslim di Indonesia berpotensi merayakan Lebaran secara serentak antara Pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah.
 
Berbagai lembaga serta organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Indonesia telah merilis prediksi terkait tanggal Idulfitri 1447 H. Muhammadiyah bahkan telah menetapkan bahwa Lebaran 2026 jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. 
 
Munculnya berbagai prediksi ini merupakan hasil dari penerapan metode dan kriteria yang beragam, yang terkadang memicu perbedaan penetapan hari raya. Di Indonesia sendiri, kepastian awal Syawal secara resmi ditentukan melalui sidang isbat pemerintah yang mengombinasikan metode hisab astronomi dengan pengamatan hilal secara langsung (rukyat).

Versi Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah


Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Berdasarkan kalender Hijriah yang telah ditetapkan jauh hari, Muhammadiyah memprediksi bahwa 1 Syawal 1447 H akan jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026. Hal ini dikarenakan posisi hilal pada saat ijtima' akhir Ramadan dianggap sudah memenuhi kriteria wujudul hilal.

Ketetapan tersebut tertuang secara resmi dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 mengenai Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah. Dokumen tersebut memaparkan bahwa peristiwa ijtimak menjelang awal Syawal 1447 Hijriah diprediksi berlangsung pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026, tepat pukul 01.23.28 UTC.

Versi Pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU)


Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) telah menerbitkan data teknis mengenai posisi hilal untuk penentuan 1 Syawal 1447 H. Melalui Informasi Hilal Awal Syawal 1447 H, dilaporkan bahwa pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 yang bertepatan dengan 29 Ramadan, posisi hilal secara perhitungan memang sudah berada di atas ufuk. Meski demikian, ketinggiannya dinilai belum mencapai standar minimal imkanur rukyah (kemungkinan hilal dapat terlihat) yang ditetapkan.
 
Berdasarkan data teknis yang dirilis, Kota Sabang di Aceh tercatat memiliki posisi hilal tertinggi dengan tinggi mar’ie sebesar 2° 53’, elongasi haqiqi 6° 09’, dan durasi hilal selama 14 menit 44 detik. Sebaliknya, wilayah Merauke di Papua Selatan mencatat titik terendah dengan ketinggian hilal 0° 49’, elongasi 4° 36’, serta lama hilal 6 menit 36 detik.
 
Untuk titik pantau di Jakarta yang berpusat di Gedung PBNU, tinggi hilal berada pada posisi 1° 43’ 54” dengan elongasi 5° 44’ 49” dan durasi kemunculan selama 10 menit 51 detik. Adapun peristiwa konjungsi atau ijtimak diprediksi terjadi pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026, pukul 08:25:58 WIB. Seluruh data astronomis ini dihitung menggunakan metode falak tahqiqi tadqiki ashri, yang merupakan metode hisab kontemporer standar Nahdlatul Ulama.

Versi BKMG


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis prakiraan hilal untuk penetapan 1 Syawal 1447 H. Berdasarkan data tersebut, konjungsi atau ijtimak astronomis terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026, pukul 08.23.23 WIB, di mana posisi Matahari dan Bulan berada pada bujur ekliptika yang sama. Meskipun konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam di seluruh Indonesia, data menunjukkan bahwa ketinggian hilal saat senja masih sangat rendah, yakni berkisar antara 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang.
 
Lebih lanjut, BMKG mencatat elongasi geosentris berada di rentang 4,54 hingga 6,1 derajat dengan umur bulan yang masih sangat muda, yaitu antara 7 hingga 10 jam saja. Dengan durasi hilal di atas ufuk yang hanya berkisar 5 hingga 15 menit, posisi ini dinilai belum memenuhi kriteria imkanur rukyah. Oleh karena itu, terdapat potensi besar bahwa bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga Idulfitri kemungkinan besar jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026.
 
Para ahli mengingatkan bahwa meskipun secara hitungan matematis menunjukkan hasil yang sama, umat tetap diimbau untuk menunggu pengumuman resmi dari hasil Sidang Isbat Pemerintah.
 
(Fany Wirda Putri)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>