Jakarta: Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menyebut anggaran TNI untuk matra laut tidak proposional. Perbandingan antara anggaran TNI Angkatan Laut (AL) dan alat utama sistem pertahanan (alutsista) dengan luas perairan Indonesia tak sebanding.
"Saya yang termasuk sering juga mengkritik kalau anggaran untuk TNI AL tidak proposional," kata Fahmi dalam Breaking News Metro TV, Jakarta, Jumat, 23 April 2021.
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengusulkan anggaran TNI AL Rp8,03 triliun untuk pengadaan hingga pemeliharaan dan perawatan alusista pada 2021. Lebih rendah dari TNI Angkatan Udara (AU) yang diusulkan Rp8,19 triliun.
Fahmi mengatakan anggaran yang diberikan kepada TNI AL tidak sesuai dengan visi misi Presiden Joko Widodo yang mengusung negara maritim. Seharusnya, lanjut Fahmi, anggaran lebih difokuskan ke pertahanan laut seperti kapal.
"Tapi memang kita juga tidak bisa melakukan perubahan itu dengan cepat karena kalau dilihat ancaman kita berasal dari dalam negeri dan di darat," ucap dia.
KRI Nanggala-402 hilang kontak saat latihan penembakan torpedo di perairan utara Bali. Kapal selam dengan 53 awak itu diduga berada di palung laut sedalam 600-700 meter.
Baca: Penguatan Industri Kapal Militer Nasional Disebut Perlu Dukungan
Sebanyak 21 armada dikerahkan mencari KRI Naggala-402. Antara lain KRI Rigel-933, KRI REM-331, KRI I Gusti Ngurah Rai-332, KRI Dipenogoro-365, dan KRI DR Soeharso. Kemudian, satu helikopter seri Panther.
TNI mengerahkan 400 personel. Ratusan prajurit TNI AL itu akan menyisir perairan Bali mencari keberadaan kapal selam tersebut. Sementara itu, Polri juga mengerahkan empat kapal yakni jenis sonar dan robotik, yang memiliki kemampuan menyelam.
Kapal dari negara sahabat juga segera tiba. Kapal Rescue MV Swift dari Singapura dijadwalkan tiba Sabtu, 24 April 2021, dan Kapal Rescue Mega Bakti dari Malaysia tiba pada Senin, 26 April 2021.
Kapal Malaysia itu tengah dalam perjalanan. Kapal asing lainnya yang juga dalam perjalanan yakni HMAS Ballarat dan HMAS Sirius dari Australia, satu kapal India, serta pesawat mata-mata dan penjaga maritim Amerika Serikat (AS) P-8 Poseidon.
Jakarta: Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menyebut anggaran TNI untuk matra laut tidak proposional. Perbandingan antara anggaran
TNI Angkatan Laut (AL) dan alat utama sistem pertahanan (alutsista) dengan luas perairan Indonesia tak sebanding.
"Saya yang termasuk sering juga mengkritik kalau anggaran untuk TNI AL tidak proposional," kata Fahmi dalam
Breaking News Metro TV, Jakarta, Jumat, 23 April 2021.
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengusulkan anggaran TNI AL Rp8,03 triliun untuk pengadaan hingga pemeliharaan dan perawatan alusista pada 2021. Lebih rendah dari TNI Angkatan Udara (AU) yang diusulkan Rp8,19 triliun.
Fahmi mengatakan anggaran yang diberikan kepada TNI AL tidak sesuai dengan visi misi Presiden Joko Widodo yang mengusung negara maritim. Seharusnya, lanjut Fahmi, anggaran lebih difokuskan ke pertahanan laut seperti
kapal.
"Tapi memang kita juga tidak bisa melakukan perubahan itu dengan cepat karena kalau dilihat ancaman kita berasal dari dalam negeri dan di darat," ucap dia.
KRI Nanggala-402 hilang kontak saat latihan penembakan torpedo di perairan utara Bali. Kapal selam dengan 53 awak itu diduga berada di palung laut sedalam 600-700 meter.
Baca:
Penguatan Industri Kapal Militer Nasional Disebut Perlu Dukungan
Sebanyak 21 armada dikerahkan mencari KRI Naggala-402. Antara lain KRI Rigel-933, KRI REM-331, KRI I Gusti Ngurah Rai-332, KRI Dipenogoro-365, dan KRI DR Soeharso. Kemudian, satu helikopter seri Panther.
TNI mengerahkan 400 personel. Ratusan prajurit TNI AL itu akan menyisir perairan
Bali mencari keberadaan kapal selam tersebut. Sementara itu, Polri juga mengerahkan empat kapal yakni jenis sonar dan robotik, yang memiliki kemampuan menyelam.
Kapal dari negara sahabat juga segera tiba. Kapal Rescue MV Swift dari Singapura dijadwalkan tiba Sabtu, 24 April 2021, dan Kapal Rescue Mega Bakti dari Malaysia tiba pada Senin, 26 April 2021.
Kapal Malaysia itu tengah dalam perjalanan. Kapal asing lainnya yang juga dalam perjalanan yakni HMAS Ballarat dan HMAS Sirius dari Australia, satu kapal India, serta pesawat mata-mata dan penjaga maritim Amerika Serikat (AS) P-8 Poseidon.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SUR)