Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal.
Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal.

Penganiaya Wartawan Saat Munajat 212 Dipolisikan

Nasional kekerasan terhadap wartawan
Siti Yona Hukmana • 27 Februari 2019 22:21
Jakarta: Seorang wartawan CNN, Endra Rezaldi, melaporkan penganiaya sekaligus pengalang wartawan bertugas pada aksi Munajat 212 di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada Kamis, 21 Februari 2019. Terlapor yang berasal dari organisasi masyarakat tertentu itu diduga melakukan perbuatan tidak menyenangkan disertai ancaman kekerasan, dan melanggar Undang-undang Pers.
 
"Hari ini kami kan baru melakukan pelaporan. Nah, setelah pelaporan kita akan menunggu panggilan selanjutnya untuk membuat berita acara pemeriksaan (BAP) dan sebagainya untuk penyelidikannya," kata Kepala Peliputan CNN, Revolusi Riza yang mendampingi Endra di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu, 27 Februari 2019.
 
Laporan itu teregistrasi dengan nomor LP/1219/II/2019/PMJ/Dit.Reskrimum, 27 Februari 2019. Terlapor dalam laporan ini dalam lidik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Terlapor dalam kasus ini adalah massa yang memakai atribut Front Pembela Islam (FPI). Tapi, kita belum tahu. Ini kan mereka memakai atribut ya, itu urusan polisi untuk mencari siapa pelaku," ungkapnya.
 
Baca:Dua Saksi Diperiksa dalam Kasus Intimidasi Wartawan
 
Revo membawa barang bukti saat pelaporan ini, yakni kamera, dan rekaman yang menampilkan pemaksaan penghapusan video liputan yang dialami Endra sewaktu meliput acara tersebut.
 
Dua orang saksi yang merupakan reporter CNN TV dan JPNN juga dibawa saat pelaporan. Mereka adalah Joni Aswira dan Muhammad Amjad.
 
"Laporan ini untuk memperkuat laporan sebelumnya yang dilakukan oleh teman-teman Detik.com dan Suara.com," ujar Revo.
 
Revo memastikan pihaknya akan mengawal kasus ini hingga tuntas sesuai koridor hukum yang berlaku. Sebab, para terlapor diduga telah melakukan tindakan yang mengalangi tugas wartawan.
 
"Teman-teman ini diintimidasi, persekusi dan diminta menghapus rekamannya. Itu pengalangan kerja jurnalistik. Artinya, mengalang-alangi hak publik memperoleh informasi yang terjadi saat itu," ucap Sekretaris Jendral (Sekjen) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) itu.
 
Terlapor diduga melanggar Pasal 4 Undang-undang Pers Nomor 40 Tahun 1990 tentang Kebebasan Pers.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif