Polda Metro Jaya bersama tim gabungan menangkap tersangka pelaku teror penyiraman cairan kimia yang aksinya sangat meresahkan warga Jakarta Barat. Antara Foto/Aditya Pradana Putra
Polda Metro Jaya bersama tim gabungan menangkap tersangka pelaku teror penyiraman cairan kimia yang aksinya sangat meresahkan warga Jakarta Barat. Antara Foto/Aditya Pradana Putra

Pelaku Penyiraman Air Keras Familier dengan Soda Api

Nasional tragedi air keras
Yurike Budiman • 17 November 2019 13:00
Jakarta: Pelaku penyiraman cairan kimia di wilayah Jakarta Barat beberapa waktu lalu, diketahui menggunakan soda api untuk melukai para korbannya. Kasubbid PID Humas Polda Metro Jaya, AKBP Heru P mengatakan soda api didapat tersangka dengan mudah. Tersangka familier dengan soda api yang digunakan sehari-sehari sebagai tukang servis AC.
 
"Dia profesinya sebagai tukang servis AC, di mana memang soda api itu diperlukan untuk melakukan pekerjaannya. Jadi memang dia selalu gunakan cairan soda api tersebut untuk pekerjaannya," kata Heru di Polda Metro Jaya, Sabtu, 16 November 2019.
 
Pengalaman kerja sebagai tukang servis AC salah satunya yang melatarbelakangi aksinya menyiram air keras kepada para korban. Tersangka pernag mengalami kecelakaan kerja. Psikolog Klinis dan Forensik Kasandra Putranto mengungkapkan bahwa tersangka ingin korbannya merasakan sakit dan menderita lantaran pernah jatuh dari lantai tiga saat bekerja.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dia frustasi karena dia punya kecelakaan jatuh dari lantai 3 sehingga dia ingin orang lain ikut merasakan apa yang dirasakan. Tapi tersangka bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya, artinya ia sadar (tidak ada gangguan jiwa). Namun ada beberapa ciri khas khusus seperti keterbatasan komunikasi atau gangguan hubungan personal," kata Kasandra ditemui terpisah.
 
Ia menilai pelaku mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Imbasnya, ia mempunyai keterbatasan empati.
 
"Ini yang membuatnya ketika melakukan pelemparan zat kimia, dia tidak mikir bahwa dia punya adik yang seusia itu. Jadi karena keterbatasan komunikasi itu yang membuat dia tidak mempunyai rasa welas asih terhadap orang," tutup Kasandra.
 
Total korban FY berjumlah sembilan orang. Pertama pada tanggal 5 November 2019 FY menyerang dua Siswi SMP berinisial A dan P di Kebon Jeruk, Jakarta Barat pada Selasa 5 November 2019. Pelaku menggunakan motor dan tiba-tiba menyiramkan air keras kepada kedua korban.
 
Tiga hari kemudian, FY menyerang seorang Tukang Sayur bernama Sakinah, 60 tahun, dengan cara yang sama. Sakinah diserang saat sedang pulang usai berdagang.
 
Terakhir, FY menyiram enam siswi SMP pada tanggal 15 November 2019. FY langsung kabur menggunakan sepeda motor.
 
Saat ini FY sudah ditahan di rumah tanahan Polda Metro Jaya. Polisi masih mendalami keterangan tersangka untuk pendalaman penyidikan.
 
Pertama kali, penyiraman air keras menimpa dua orang siswi SMP di Kebon Jeruk, Jakarta Barat pada Selasa, 5 November 2019 sore. Pelaku menggunakan motor tiba-tiba menyiramkan air keras kepada kedua korban.
 
Selang beberapa hari kemudian, teror air keras kembali terjadi. Kali ini seorang ibu, Sakinah (60) disiram air keras saat sedang berjualan.
 
Atas perlakuannya FY dikenakan undang-undang perlindungan anak Pasal 80 ayat 2 juncto 76 c, Undang-undang Republika Indonesia nomor 35 tahun 2014, dan atau pasal 351 ayat 2.

 

(WHS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif