NEWSTICKER
Pencari suaka kini tinggal di gedung eks Kodim, Kalideres, Jakarta Barat. (Foto: Medcom.id/Cindy)
Pencari suaka kini tinggal di gedung eks Kodim, Kalideres, Jakarta Barat. (Foto: Medcom.id/Cindy)

Perang Memaksa Sajad Mencari Suaka Hingga ke Indonesia

Nasional pencari suaka
Cindy • 12 Juli 2019 12:39
Jakarta: Pencari suaka asal Afghanistan, Sajad, mengungkap cerita dibalik kenekatannya lari dari tanah kelahiran menuju Indonesia. Perang tak berkesudahan mendorong dia dan ratusan pencari suaka lain mencari perlindungan ke negara-negara tetangga, salah satunya Indonesia.
 
Kepada Medcom.id, Sajad membagikan kisahnya. "Aku masuk Indonesia 2014. Di Afghanistan banyak orang meninggal, tidak aman," ujarnya di Gedung eks Kodim, Kalideres, Jakarta Barat, Jumat, 12 Juli 2019.
 
Sajad merasa aman berada di Indonesia kendati harus menggantungkan hidup dari belas kasih orang lain. Namun pelariannya kian sempit, ia tak bisa meninggalkan Indonesia maupun pindah ke negara lain lantaran dokumen yang dibawa dari negara asal tak cukup untuk menjadi jaminan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kendati demikian, dia bersyukur masih diterima oleh warga Tanah Air. "Aku berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia yang memberikan tempat untuk tinggal sementara," tutur Sajad
 
Sejak 2014, Sajad selalu berpindah-pindah. Terakhir ia berdiam di trotoar Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, dan kini telah dipindahkan ke gedung kosong bekas Kodim di Kalideres, Jakarta Barat.
 
Baca juga:Pencari Suaka Mengaku Tak Diberi Makan
 
Fasilitas gedung yang ia nilai kurang memadai membuatnya harus memutar otak agar tetap bertahan hidup atau setidaknya sekadar mampu mengisi perut. Sajad pun mengutarakan keinginannya agar bisa mendapatkan pekerjaan di Jakarta.
 
"Saya tidak suka uang gratis dari negara, mau kerja sendiri dari hasil keringat sendiri. Kalau Indonesia kasih kita akses kerja, lebih baik," harap dia.
 
Senada, Khatira Chopani, bahkan memanjatkan harapannya kepada Badan Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) agar bisa dipindahkan ke negara ketiga. Di Amerika, Australia, atau Kanada ia ingin singgah. Bertahun-tahun tinggal di Indonesia, ia tak mampu berbuat apa-apa.
 
"Tidak ada uang. Setiap hari hanya makan, minum, duduk, dan tidur. Ibu saya sampai stres, sakit, kami inginnya pindah (negara)," kata dia.
 
Kendati sama-sama mencari suaka, Khatira mengaku lebih beruntung ketimbang saudara setanah airnya. Setiap bulan ia mendapatkan uang saku dari sang ayah yang kini tinggal di Australia. Namun diakuinya itu belum cukup menghidupi lima anggota keluarga yang ia bawa dari Afghanistan.
 
"Hanya 400-500 dolar satu bulan untuk lima orang anggota keluarga. Tidak cukup," ungkapnya.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif